Showing posts with label cerita pengalaman. Show all posts
Showing posts with label cerita pengalaman. Show all posts

One Day One Film

Tahun 2016 emang yang paling-paling. Setelah menjadi tahun paling banyak membaca, juga menjadi tahun terbanyak saya menonton film.

Kalau Kota Depok punya program one day no rice, saya punya program one day one film. Jadi tiap hari setidaknya ada satu film yang saya tonton. Namun sebagaimana program-program pemerintah yang tak selalu berjalan mulus, kadang program one day one film ini juga begitu. Kadang terbentur dengan ketersediaan waktu juga.

Saya termasuk penonton film omnivora. Penikmat segala film dengan berbagai genre, baik itu action, komedi, sci-fi, horor, thriller, drama, atau romance. Saya jarang nonton film dari dalam negeri (maafkan), lebih sering menonton film Hollywood. Selain itu, saya juga menonton film dari Bollywood, Britania Raya, Perancis, Rusia, Amerika Latin, Jepang, bahkan Korea pun saya tonton. 

Sebetulnya kesenangan menonton film sudah sejak lama. Cuma baru tahun 2016 aja makin getol menonton

Walaupun saya suka menonton film, saya jarang ke bioskop. Lebih sering nonton di laptop dari download ilegal, atau beli dvd bajakan di abang-abang. Ya, tidak seharusnya ini ditiru, tapi saya selalu menganggap download ilegal dan beli bajakan produk luar adalah perlawanan kecil melawan sepak tejang kapitalisme.
(Halah alasan, bilang aja nggak ada duit!)
───
Oleh sebab menonton film, saya jadi punya hobi baru, yakni men-screenshot dialog-dialog keren, lucu, pokoknya yang menarik lah. Buat yang mau nulis dialog untuk karya fiksi seperti cerpen atau novel, belajar dari dialog film yang bagus adalah cara terbaik untuk membuatnya.

Yang bisa menyebutkan dari film apa semua fragmen-fragmen ini saya ambil, berarti kalian luar biasa.













 
───
Berhubung saya sedang mengenyam studi di jurusan sastra Inggris, bisa berbahasa Inggris adalah sebuah tuntutan tak terelakkan. Saya sadar film itu bukan hanya sebagai hiburan, tapi bisa jadi wadah menyenangkan belajar bahasa Inggris.

Maka dari itu sebisa mungkin pasti saya prioritaskan menonton film daripada belajar bahasa inggris dari buku-buku kuliah.

Dari film juga saya bisa mengamati budaya dan cara berpikir orang-orang sana. Ya, budaya dan cara berpikir, merupakan kesatuan penting dalam mempelajari bahasa asing. 

Menukil perkataan Benedict Anderson dalam memoarnya Hidup di Luar Tempurung, “Mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dengan demikian belajar berempati pada mereka.”
───
Karena ingatan terlalu lemah untuk mengingat semua yang saya tonton, saya pun membuat akun IMDb untuk menandai film-film yang sudah saya tonton. Ada lebih dari 150 film yang saya tonton. Saya akan mendaftarkan beberapa film yang menurut saya bagus yang saya tonton di tahun 2016.

1.    Now You See Me 2 (2016)
2.    Zootopia (2016)
3.    Don't Breathe (2016)
4.    She's Funny That Way (2014)
5.    Silver Linings Playbook (2012)
6.    Midnight in Paris (2011)
7.    3 Idiots (2009)
8.    The Blind Side (2009)
9.    Crows Zero (2007)
10.  The Da Vinci Code (2006)
11.   Love Actually (2003)
12.   The Pianist (2002)
13.   Catch Me If You Can (2002)
14.   Saving Private Ryan (1998)
15.   Mallrats (1995)
16.   Before Sunrise (1995)
17.   Little Women (1994)
18.   Schindler’s List (1993)
19.   Reds (1981)
20.   Manhattan (1979)
21.   Sleuth (1972)
22.   2001: A Space Odyssey (1968)
23.   The Killing (1956)
24.   The Bachelor and the Bobby-Soxer (1947)
25.   His Girl Friday (1940)
26.   Bringing Up Baby (1938)
27.   It Happened One Night (1934)

Membaca Sebagai Jalan Orang-Orang Malas

A cat caught reading Tolstoy

Saya senang membaca. Membaca buku, majalah, komik, maupun membaca status-status orang di media sosial. (entah yang terakhir ini bisa dikategorikan sebagai aktivitas membaca atau tidak)

Kegemaran saya membaca ini udah muncul dari SD. Semua bacaan saya waktu SD adalah komik-komik jepang semacam Naruto, Doraemon, Yu-gi-oh, Eyeshield 21, dan lain-lain.

Semakin saya beranjak dewasa saya semakin mengurangi bacaan komik dan menyentuh novel. Saya nggak ingat pasti kapan saya mulai membaca novel dan novel apa yang pertama saya baca. Seinget saya, pas SMA barulah saya membaca novel yang sebagain besar adalah novel metropop Ilana Tan, Ika Natassa atau buku-buku Raditya Dika. Itu pun aktifitas membaca saya nggak rutin. Tergantung mood aja, kadang bisa dua bulan sekali, empat bulan dua kali, atau enam bulan tiga kali (Lah sama aje tong).

Ketika lulus dan mulai berkuliah, dan sudah mulai dikit-dikit nulis, barulah bacaan saya bertambah dan rutin. Saya mulai bersentuhan dengan sastra. Sejak itu dalam satu hari, saya menganggap waktu yang saya punya adalah 23 jam. Artinya, satu jam lagi, sudah diwajibkan untuk membaca.

Banyak orang berpikir kalau membaca membuat orang menjadi pintar. Tapi menurut saya malah sebaliknya. Membaca membuat kita semakin bodoh. Tepatnya, menyadarkan kita bahwa kita itu bodoh. Begitu banyaknya hal di dunia ini ternyata yang tidak kita tahu.

Filsuf sebijak Socrates pun menyadari hal ini. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal, yakni bahwa dia tidak tahu apa-apa. Jadi barangkali orang yang bijak itu bukanlah orang yang tahu segala hal, tetapi seorang yang sadar akan kebodohan dirinya. Makanya ia mencari tahu dan mencari tahu.
Tahu bulat, digoreng dadakan~

Orang-orang juga berpikir membaca adalah kegiatan dari golongan orang-orang rajin. Tapi nggak juga sih. Membaca adalah jalan bagi pemalas untuk menikmati waktu. Ketika saya lagi hanyut dalam banyak buku, saya malah malas untuk menulis. Makanya saya mengkambinghitamkan kesenangan membaca atas ketidakproduktifan menulis di tahun 2016.

Dampak dari kesenangan membaca juga membuat saya malas menabung. Setiap orang setidaknya pasti punya satu hal yang ia rela menghabiskan banyak uang pada sesuatu itu tanpa menyesalinya; ada yang senang menghamburkan uang buat jalan-jalan, ada yang buat beli sepatu atau baju, ada yang buat beli buku. Nah saya yang terakhir itu. Sebagian besar uang saya dihabiskan untuk membeli buku. Dan saya tidak menyesalinya.

Padahal di rak masih banyak buku yang belum dijamah. 20an buku mungkin yang mengemis-ngemis minta dibaca. Tapi tetap saja beli buku lain. Lemah syahwat rasanya kalau melihat buku-buku bagus dengan harga jatuh.

Sebenarnya kalau mau, di internet juga banyak buku-buku digital yang bisa diunduh gratis. Tapi saya lebih suka buku fisik. Saya mengandaikan buku adalah perempuan. Jika baca buku digital, ibaratnya, kita hanya bisa melihat perempuan itu ngomong menunjukkan ekspresi seksinya. Ya macam di bigo-bigo lah. Paling banter kita ngetik “turunin dikit dong~”, lalu kita hanya bisa melihat dari layar gawai si perempuan menunjukkan tubuh moleknya.

Kalau membaca buku fisik, dengan sedikit membayar, kita bisa bawa pulang perempuan itu dan perempuan itu bisa diapain aja. Boleh dibuka-buka, disentuh, ditidurin, diapain aja deh pokoknya~

Jadi intinya adalah: Jauhi narkoba dan seks bebas!

(((APAAN ANJAS)))

Membaca membuat orang jadi malas; malas membuka buku pelajaran. Walaupun judulnya sama-sama membaca, tapi membaca buku teks kayaknya beda banget sama karya-karya sastra. Gaya bahasa di buku teks terlalu kaku dan hanya mengedepankan kemampuan otak. Tidak seperti karya sastra merangsang otak dan juga perasaan. Mestinya buku-buku teks itu ditulis dengan bahasa sastra yang mengalir juga sih biar nggak bosen dibaca.

Membaca juga membuat saya malas bersosialisasi. Nggak sampai anti sosial juga sih, cuma membikin saya menjadi semakin introvert. Dan saya bangga.

Sebab membaca, dan juga menulis, adalah dua hal yang tidak bisa saya lakukan kalau ada orang-orang berkeliaran di sekitar saya. Maka dari itu, saya lebih sering dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri di kamar.

Itulah cara saya berdamai dengan kesendirian. Kalau kau tahu cara berdamai dengan kesepian, percayalah, kau malah tidak rela meninggalkan kesepian itu, dan hidup tanpa pasangan pun bukan lagi sebuah keresahan besar.
−−−
Menurut data statistik Goodreads, tahun ini saya sudah membaca 64 buku dari 63 buku yang ditargetkan di awal tahun. Ini menjadi jumlah terbanyak yang pernah saya baca. Saya tuliskan daftar buku-buku itu, siapa tahu kau ingin tahu. Tahu bulat, digoreng dadakan~








Itulah buku-buku yang menghabiskan banyak waktu saya di tahun 2016. Walau menghabiskan banyak waktu, saya tidak akan kapok melakukan hal itu lagi.

Setidaknya saya menghabiskan waktu untuk hal yang mulia nan berfaedah. Tapi apa benar banyak membaca berfaedah? Memangnya buku-buku itu akan membawamu ke mana?

Kalau ada orang yang bertanya seperti itu kepada saya, saya pun dengan tegas akan menjawab: Tentu buku-buku itu akan membawa saya ke… ke… ke mana ya? *garuk-garuk kepala*

Ya saya tidak tahu juga ke mana buku-buku itu akan membawa saya. Yang penting saya senang melakukannya, dan barangkali menambah satu-dua pengetahuan baru buat saya.

Tahun depan saya beresolusi akan membaca lebih banyak buku klasik. Saya juga akan memasang target 42 buku untuk dilahap.

Mangsa tahun depan
Target berkurang dari tahun-tahun sebelumnya karena saya mempertimbangkan akan membaca buku-buku tebal yang sudah lama ada di rak, semisal Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan, Burung-burung Manyar-nya Y. B Mangunwijaya, The Prague Cemetery-nya Umberto Eco, War and Peace-nya Tolstoy, buku-buku Pram dan Murakami (Kalau ini tiap tahun wajib dibaca), dan lainya menyusul. Ditambah lagi, kemungkinan waktu akan banyak tersita di semester 6 nanti untuk mengerjakan Penelitian Ilmiah.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya baru menyentuh dunia sastra selepas lulus SMA. Dalam hidup, pasti ada beberapa hal yang kita sesali di hari lalu. Kalau saya, salah satu yang saya sesali di hari lalu adalah, tidak mengenal karya-karya sastra lebih dini.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” -Pramoedya Ananta Toer

Rilis Buku: Coretan di Mata Waktu


Mari awali tulisan ini dengan mengucap hamdalah

hamdalah…

Alhamdulillah proyek buku yang sudah dikerjakan selama lebih dari 3 tahun akhirnya selesai juga. Proyek yang benar-benar menguras waktu, tenaga, dan pikiran gue.

Eh tapi nggak dikerjain selama 3 tahun juga sih sebenarnya, itu biar keliatan keren aja, biasanya kan semakin lama proses penulisannya semakin keren hasilnya.

Proyek ini adalah karya kolaborasi karena bukan cuma penyanyi yang bisa duet. Bukan cuma Duo Serigala yang bisa unjuk dada gigi. Gue dan Bepe, selaku penulis receh, bisa juga berduet dengan tulisan.

Awal proyek ini adalah 3 tahun lalu, pas gue dan bepe masih kelas 3 SMA. Sejatinya proyek ini milik bepe seorang. Waktu itu, dia pengen bikin kumpulan cerpen yang karakter-karakternya adalah siswa-siswi di kelas kami; IPS 1 atau biasa disebut Unodes.

Dengan semangat menggebu-gebu, satu per satu siswa pun dihidupkan menjadi karakter. Ketika proyeknya seenggaknya sudah mencapai 50%, dia kasih ke gue dan nyuruh gue baca, soalnya cuma kami berdua yang keliatannya tertarik dalam dunia tulis-menulis.

Kemudian sampailah dia terserang penyakit yang berbahaya bagi penulis; kemalasan dan ketidakpercayadirian. Ia ngerasa nggak pede dengan tulisannya dan ngerasa tulisannya cukup buruk untuk dijadikan sebuah buku.

Beberapa bulan kemudian kami udah lulus-lulusan. Proyek menuliskan anak-anak Unodes pun tidak selesai. Lalu ia masuk jurusan Sastra Indonesia, mendapat ilmu baru dan tulisannya pun jauh lebih baik. Lalu ia pun berniat membuat proyek baru dari nol, dan meninggalkan proyeknya sewaktu SMA. Alhasil proyek ini pun terlupakan. Dasar memang anak muda, kalau ada yang baru, yang lama pasti dilupakan. Huh!
*
Dua tahun kemudian, malam di pertengahan tahun 2015 masih sama seperti malam biasanya; gelap. (yaiyalah kalo malem gelap, kalo mau terang mah noh… palanya Zidane)

Saat itu gue lagi pengen membersihkan file-file nggak penting di dokumen laptop. Ketika gue buka my document ternyata emang banyak sampah-sampah bertebaran (baca: tugas kuliah) dan dokumen nggak penting lainnya.

Di saat itulah gue melihat sebuah file yang dipenuhi dengan lumut sedang terbaring di pojokan my document. Ia menyendiri, kesepian, dan tak tahu jalan pulang. Menilik dari banyaknya lalat yang mengerubunginya, ia tampak sudah tak pernah mandi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Pun bau tak sedap menyeruak bagai asap yang keluar dari cerobong.

Begitulah mengenaskannya keadaan file bernama ‘proyek’. Setelah gue buka file itu, ternyata itu berisi cerpen-cerpen yang tidak lain dan tidak bukan adalah proyek bepe yang enggak selesai 2 tahun sebelumnya.

Gue baca-baca lagi deh cerpennya. Kesan pertama setelah membaca cerpen itu lagi, ternyata bepe benar, cerpen-cerpennya emang nggak layak kalo dibukukan. Maklum masih awal-awal menekuni dunia menulis.

Tapi gue percaya, seburuk-buruknya ide yang sudah jadi karya, masih lebih baik daripada sebagus-bagusnya ide yang tidak dieksekusi. Menulislah seburuk-buruknya, mengedit sebaik-baiknya.

Timbullah ide di pikiran gue, daripada file ini cuma jadi gembel terabaikan, kenapa nggak di-publish jadi buku aja biar dia bisa hidup dengan tenang di atas kertas dan di pikiran pembaca. Apalagi sekarang ada wadah untuk menerbitkan buku secara mudah dan gratis; Nulisbuku.com—yang mana adalah wadah buku ini diterbitkan.

Di malam yang gelap itu, gue pun menyampaikan ide ini ke Bepe, lalu ia mengiyakan.

Gue pun mengumpulkan cerpen-cerpen lama gue yang nggak kalah jeleknya. Cerpen itu juga dibuat juga waktu masih awal-awal belajar nulis.

Setelah itu gue kumpulkan deh semua cerpen-cerpen buruk itu dan mulailah mengedit.
*
Cerpen-cerpen itu bener-bener buruk. Kalo lu nggak bisa bayangin seberapa buruknya tulisan itu, lu bayangin aja patkay sun gokong. Nah kayak gitu dah pokoknya.Tanda baca masih salah salah, banyak kalimat-kalimat yang nggak perlu, ide ceritanya belum kuat, dan sebagainya. Saking buruknya mungkin lebih banyak waktu gue yang dihabiskan pas ngedit dibanding pas nulis cerpen itu sendiri.

Tapi kesulitan bukan masalah berarti, sebab semangat berkarya gue lebih besar dari itu. Semangat itu seenggaknya bertahan hingga 1-2 bulan. Untuk selanjutnya, gue mulai kehabisan bensin. Gue udah nggak konsisten.

Saat ada waktu luang, gue lagi males nulis. Kalo lagi semangat nerusin proyek ini, guenya lagi sibuk. Kadang gue harus ngerjain tugas kuliah, kadang gue ngebantu orangtua gue, kadang juga gue harus ngebantu memerdekakan tawanan Abu Sayyad di Filipina. Jadilah proyek ini ketunda-tunda. Yang tadinya diperkirain selesai tahun 2015, ternyata harus tertunda sampai 2016.

Sulit ternyata menjaga konsistensi. Gue pun bertanya-tanya, gimana ya bisa sekonsisten gaya rambut Kak Seto? karna gue sadar bahwa di dunia ini nggak ada yang sekonsisten gaya rambutnya Kak Seto.

Pas 2016 barulah gue mengumpulkan semangat gue lagi dan bertekad menyelesaikan semuanya.

Akhirnya selesai jugalah di bulan Maret. Karena gue nggak bisa gambar, setelah itu gue pun mencari teman buat ngedesain cover dan ilustrasi di dalamnya. Gue pun menunjuk Therio, yang gue rasa bisa menyaanggupi dan kualitas gambarnya tidak perlu dipertanyakan lagi.
*
Buku ini terdiri dari 17 Cerita dan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah karya-karya bepe, bagian kedua adalah karya gue.

Gue menyumbang 8 cerita di sana dan ada 2 cerita yang gue benar-bener bikin dari nol untuk buat melengkapi cerpen ini. Sisanya, diambil dari cerpen-cerpen lama gue.

Terciptanya cerita-cerita ini terinspirasi dari banyak kejadian di sekeliling gue. Seperti di cerpen berjudul “Pilihan Tuhan tak akan salah”, itu terinspirasi dari kisahnya Soekarno bersama Mien Hessel, dan juga kisah temen gue bernama Mamat. Di cerita itu, Mamat menembak seorang cewek. Di kejadian nyata hal itu memang terjadi, walaupun ceritanya nggak sama persis dengan aslinya. Meski banyak cerita di sini adalah fiksi, sejumlah temen SMA gue pasti sadar ada beberapa fakta terselip di beberapa cerita.

Di cerpen “Daun yang Gugur Sebelum Waktunya”, karakternya adalah seorang yang ceritanya suka menulis puisi. Di cerita ini sebetulnya pengen menuangkan kecintaan gue dalam berpuisi. Di situ gue juga meminjam puisi “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono dan “Hujan dan Hadiah Ulang Tahun” karya Aan Mansyur, sedangkan sisanya gue buat sendiri.
*
Pakem yang ada, untuk judul buku kumpulan cerpen biasanya diambil dari salah satu judul yang ada di dalem buku. Tapi buat proyek ini, “Coretan di Mata Waktu”, nggak diambil dari salah satu cerpen.

Coretan di Mata Waktu gue pilih karena filosofinya sesuai dengan garis besar konsep pada buku. Cerpen-cerpen di buku ini kan karakternya teman-teman SMA gue dan Bepe, beberapa setting gue bayangkan di sekolah kami, dan bahkan ada sedikit kisah yang diselipkan dari dunia nyata sewaktu SMA, maka secara tidak langsung kami berusaha mengantar teman-teman SMA kami kembali ke masa lalu, walau hanya dalam cerita fiksi.

Mata waktu di sini maksudnya adalah waktu selalu melihat dengan matanya kejadian-kejadian yang pernah kita lalui, kejadian pahit, manis, dan seterusnya. Namun ada kalanya kita lupa kejadian-kejadian itu. Atau kata Latin Proverb “Verba Volant, Scripta Manent”, which means, “Spoken words fly away, written words remain.”

Nah, maka dengan menulis/memberikan coretan di mata waktu, gue berusaha untuk mengabadikan kenangan yang telah lewat, meski, sekali lagi, ini bukan kisah nyata namun hanya cerita fiksi.
*
Seperti dari awal gue bilang, kumpulan cerpen ini sejatinya berkarakter dari temen-temen Unodes. Jadi buat temen-temen Unodes, selain sholat 5 waktu, membaca buku ini hukumnya juga wajib. Bukan cuma Unodes, beberapa anak Smada juga ada dalam cerita, jadi wajib beli juga. Tapi buat temen-temen gue lainnya yang punya uang lebih dan waktu luang, jajankanlah buat beli buku ini

Harga buku ini Rp 58.000. Agak mahal emang, tapi jujur aja nih, keuntungan meteriil dari setiap terjualnya satu buku nggak lebih dari bayaran tukang parkir-yang-awalnya-hilang-namun-pas-kita-mau-keluar-tiba-tiba-dateng-deketin-motor-kita. Royalti terjualnya satu buku kalau gue pake kencing sekali di WC sekitaran Monas juga langsung abis.

Itu emang harga dasar dari nulisbuku.com yang udah mahal. Gue sama sekali nggak nyari untuk dari sini. Sebab tujuan utama gue cuma menyelamatkan cerpen ini dari keterabaian dan membuat ia bisa hidup abadi di pikiran pembaca.
*
Kalau kalian menyempatkan membaca buku ini, sungguh gue senang sekali. Kalau kalian setelah membaca menyempatkan buat nge-review kelebihan dan kekurangan buku ini, sungguh gue lebih senang lagi. Tulislah atau bilang ke gue secara langsung kesalahan-kesalahan sepele semacam typo atau apa pun yang ada di buku ini.

Yang tertarik buat beli buku ini, bisa langung di web Nulisbuku.

Tabik!

Karya Saya Tersiar di Surat Kabar!

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!

Lu ngapa si Jem?

Sabar teman-temanku yang soleh dan sholehah, gue belom gila kok. Gue cuma terlewat bahagia aja ngeliat nama gue sendiri ada di koran. Yak, nama gue ada di koran! Tenang aja, nama gue ada di koran bukan karna gue ketauan nyimpen ganja atau memperkosa seekor tapir di bawah umur. Nama gue terpampang di sana berkat 2 puisi gue yang lolos seleksi surat kabar Pikiran Rakyat.

Pikiran rakyat mungkin persebarannya nggak seluas Kompas, Sindo, dan Tempo yang tersebar di seluruh Indonesia. Koran ini adalah koran yang mencakup daerah Jawa Barat aja. Tapi tetep aja gue seneng banget kalo karya gue dibaca oleh ratus ribuan orang di Jawa Barat.

Mari itung-itungan sedikit ya buat mengetahui kira-kira orang yang membaca karya gue. Setelah gue googling, jumlah penduduk Jawa Barat 46, 3 juta. Tiap harinya Pikiran Rakyat mencetak lebih dari 185 eksemplar. Anggaplah warga yang membeli koran Pikiran Rakyat satu per seratusnya. Maka 46, 3x1/10=x>185 ribu. Lo tau nggak apa pentingnya itung-itungan tersebut? kalo gue si kaga.. Jadi mending gue skip aja kali ya.

Sip.

Jadi, awal gue tau kalo puisi gue ada di Pikiran Rakyat yakni pas senin 20 Juni kemaren. Jadi sepulang kuliah di senin sore, gue lagi nggak ada kegiatan apa-apa (atau dalam bahasa Ekuador dibilangnya "Gabut"). Gue lagi gabut kala itu, mau nonton film, tapi lagi males. Mau ngerjain tugas, apalagi.

Kalo lagi gabut gue biasa melakukan hal yang nggak penting semisal ngomong di depan kipas, atau bermain gitar tapi digebuk. Dan salah satu hal nggak penting yang gue lakuin saat itu adalah mencari nama sendiri di Google.

Nggak ada yang gue ekspektasikan atas pencarian nama sendiri di google kala itu. Siapa juga yang mau membicarakan gue. Gue sadar gue hanya orang biasa. Gue bukan anak presiden, bukan pula seorang artis. Kalau kata pepatah kuno-nya mah "DA AKU MAH APA ATUH."

Walaupun da aku mah apa atuh, gue tetep mengetikkan nama gue di mesin pencari google. Siapa tau aja ada berita gue lagi digosipin deket sama Pevita Pearce. Sapa tau aja ya kan~

Namun ternyata nggak ada gosip itu. Yang muncul pertama-tama adalah akun G+ gue. Kemudian gue scroll ke bawah lagi, gue melihat judul puisi yang tidak asing di ingatan. Puisi itu terpampang di id.Klipingsastra.com, yang mana situs ini berisi puisi-puisi maupun cerpen yang pernah tersiar di surat kabar.

Dag-dig-dug-der jantung gue berdetak tidak karuan. Gue bukalah tautan itu. Saat gue baca puisinya ternyata bener adanya bahwa puisi itu adalah puisi yang pernah gue buat.

Otomatis gue seneng banget lah. Asal kalian tau, gue udah mengidam-idamkan karya gue terpampang di media massa sejak tahun 2014. Di tahun 2014-2015 gue sedang giat-giatnya menulis lalu mengirimkan tulisan berupa puisi atau cerpen ke beberapa surat kabar atau majalah. Dari mungkin puluhan karya yang gue kirimkan itu nggak ada satu pun yang dimuat. Dan di situ kadang saya merasa cedih.

Selain ngirim-ngirimin karya ke media massa. Gue juga waktu itu sering ikut lomba puisi. Dan lagi-lagi, gue nggak pernah menang.

[Cry in Filiphines]

Paling puisi gue cuma jadi puisi terpilih aja. Tiga di antaranya pernah dijadikan buku antologi puisi di dua buku berbeda. Tapi tetep aja gue nggak puas kalo bukan keluar sebagai pemenang.

Pada 2016, barulah penantian lama gue terbayarkan. Puisi gue akhirnya terpampang juga di surat kabar. Setelah gue cek pesan keluar email. ternyata gue mengirimkan puisi itu tanggal 25 Juni 2015, dan baru tersiar di Pikiran Rakyat tanggal 3 April 2016. Hampir setaun broh! jangan tanyakan lagi deh seberapa mahirnya gue dalam hal menunggu ketidakpastian.

Engga nungguin juga sih sebetulnya. 3 bulan pertama gue masih sering buka web kliping sastra buat ngeliat apa karya gue lolos seleksi atau engga. Sampai akhirnya lama kelamaan gue nggak pernah meriksa lagi, dan menganggap ini hanya kegagalan gue yang lain.

Yang gue sayangkan dari redaksi Pikiran Rakyat, dia nggak ngabarin kalo karya gue akan disiarkan. Alhasil gue jadi nggak bisa ngeliat karya gue di koran secara fisik. Perihal honorarium juga engga dikabarin. Namun setelah gue telepon ke kantornya dan ngecek rekening, ternyata honor sudah dikirimkan.

Namun uang tidaklah penting. Yang penting bagi gue adalah gue bisa berkarya, lalu karya gue bisa dibaca oleh banyak orang, sebab di situlah salah satu sumber kebahagiaan gue berasal. #Anjhay

Eh engga deh bercanda, uang juga penting. Lumayan demi sesuap pizza he he he...

Barangkali ada yang baca tulisan ini dan lo punya teman, sodara atau siapa saja ada yang berlangganan koran Pikiran Rakyat, dengan sepenuh hati gue memohon hibahkanlah pada gue koran yang terbit tanggal 3 April 2016. Hal ini berarti banget buat kelangsungan hidup gue.

Kalau ada yang mau baca puisi gue bisa di web KlipingSastra dan di e-paper koran Pikiran Rakyat. Atau di Blog gue bakalan di-post juga setelah tulisan ini.

Menyaksikan Konser Taylor Swift





Yang belum baca hari pertama gue di Singapur, silakan baca dulu di sini.

Perjalanan hari kedua di Singapura gue diawali jam 6 pagi ketika gue terbangun gara-gara wake-up call yang sebenarnya gue nggak minta. Ia akan terus berdering sampai telponnya ada yang ngangkat. Abis mengangkatnya gue kembali tidur, lalu bangun lagi, kemudian berangkat sarapan.

Selepas sarapan, Semua rombongan diminta berkumpul di lobby hotel jam 9 pagi dan bersiap melanjutkan tour ke Madame Tussaud Wax Museum yang berada di Pulau Sentosa.

Museum Madame Tussaud itu berisi patung lilin dari tokoh-tokoh ternama dunia. Mulai dari pemimpin negara, atlet, sampai artis Hollywood.

Sebelum masuk ke Museum Madame Tussaud-nya, kita akan disuguhkan semacam tour tentang perjalanan Singapore dari pertama ditemukan dan bagaimana pulau itu bisa berkembang maju hingga sekarang. Tour kecil ini diringkas dengan menarik. Nantinya akan nada para tour guide yang berbeda-beda tiap ruangannya yang menjelaskan tentang Singapore itu.

Para tournya pun dikemas dengan sedemikian rupa, tidak sekadar menjelaskan materi membosankan kayak ceramah sholat jumat. Misalkan saat pertama kali memasuki tour kita tiba di kantor salah seorang pelaut, anak buah dari kapten siapa gitu gue lupa. Seolah memainkan sebuah peran, pelaut itu menyampaikan bagaimana ia dan kaptennya menemukan negari Singapur lengkap dengan pakaian pelaut dan intonasi layaknya pelaut.

Setelah itu tour guidenya akan berganti sesuai latar yang akan diceritakan. Ada pula ruang yang tidak menggunakan orang asli sebagai pembicara namun sebagai gantinya, teknologi canggih siap menjelaskan sesuatu pada kita.

Sekitar  45 menit tour itu berakhir. Barulah kita akan mencapai patung-patung lilin yang mirip banget kayak tokoh aslinya.













Lanjut kami makan siang masih di area Pulau Sentosa, Lalu kembali ke hotel untuk siap-siap menuju acara selanjutnya, acara utama dari semua perjalanan di Singapur ini. Ya, waktunya untuk The 1989 world tour concert!

Sedikit cerita kebetulan gue emang fans Taylor Swift dari SMA. Pertama kali gue suka Taylor waktu itu gara-gara seorang perempuan, yang kita sebut saja mawar, mengirimkan lagu Taylor via BBM dan nyuruh gue dengerin itu. Gue pun mendengarkan lagu itu dengan saksama. Dengan mendengar lagu itu badan gue langsung gemetar, air mata bercucuran, bibir pecah-pecah, dan kaki kapalan.
maksud gue, ya lagu itu emang menyentuh banget dan gue suka. Gue masih inget banget lagu yang dikirim mawar itu judulnya Enchanted dan sampai sekarang masih menjadi lagu Taylor Swift favorit gue.

Bukan hanya Enchanted, beberapa lagu lain juga catchy banget, semisal Back to December, You Belong With Me, Sparks Fly, Speak Now, Ours, Love Story, Begin Again, dan masih banyak lainnya. Udah berjuta-juta kali gue putar, lagu-lagu tersebut enggak pernah bosen buat didengerin.

Kembali ke perjalanan menjelang konser. Sehabis mandi dan tampang sudah sebelas-duabelas sama Aliando, gue berkumpul lagi dengan kawan-kawan lainnya di Lobby dan langsung berangkat ke Singapore Indoor Stadium, yang mana merupakan tempat konser akan berlangsung.

Letak stadium tidak jauh dari lokasi hotel. Sekitar pukul 4 lewat kami sudah sampai di stadium, masih ada banyak waktu menuju konser yang akan dimulai pukul 8 malam. Jadi, semua pemenang Cornetto diberikan aktivitas bebas. Di stadium itu sendiri hampir tersedia apa aja, seperti Mal, foodcourt, library dan lain-lain. Gue dan Ace memilih memanfaatkan waktu luang itu untuk mengisi perut.

Pukul 6 sore, matahari sudah tak tampak. Awan mendung menggumpal di langit, kemudian menjatuhkan rintik-rintik air yang semakin lama semakin deras. Hujan datang.

Kami semua dibagikan tiket masuk, lalu diantar menuju pintu sesuai pintu yang tertera di tiket kami.
Lima belas menit mengantri, gue pun berada di dalam. Namun Show belum dimulai, masih harus menunggu sekitar 2 jam lagi.

Ketika intro lagu Welcome To New York menggema, seluruh penonton mulai teriak-teriak. Tak lama sosok yang telah ditunggu-tunggu pun muncul dengan anggunnya, dan membuat para penonton histeris.


Lebih kurang show berlangsung selama 2 jam. Terakhir ia menyanyikan lagu andalan Shake It Off, lalu berakhirlah konser pada hari itu.

Beberapa foto dan video yang sempat terjepret: 

























Pelesir ke Singapura


6 November 2015 bisa ditulis sebagai tanggal bersejarah bagi hidup gue. Pada tanggal itulah gue pertama kali bisa berjalan-jalan ke negeri seberang, hari itu pula gua pertama kali bisa naek pesawat!
Salah satu pencapaian besar bagi seorang pengangguran yang sembunyi di balik kata mahasiswa kayak gue gini.

Perjalanan gue ke Singapur ini nggak akan terjadi tanpa Cornetto. Cornetto-lah yang membiayai semuanya mulai dari tiket pesawat Garuda pulang-pergi Jakarta-Singapur, nginep di hotel bintang 3, tour ke beberapa tempat di Singapur, malah sampe dikasih uang saku juga. Sumpah Cornetto ini baiknya nggak nanggung-nanggung. They exactly know how to treat their customer perfectly.

Jadi gue adalah salah satu pemenang yang beruntung menonton langsung konser Taylor Swift di Singapur, dan setiap pemenangnya dapet 2 tiket.

Tadinya gue mau ngajak adek gue, tapi berhubung dia sekolah dan nggak boleh sama nyokap gue. Alhasil gue ngajak satu temen gua yang bernama Ace. Gue ngajak dia karena dari kebanyakan temen gue, kayaknya dia doang yang kesibukannya cuma pacaran sama maen COC. Ditambah lagi, kalo diliat-liat muka dia udah sebelas-dua belas sama patung merlion. Pas.

Perjalanan dimulai pukul 3 pagi di hari Jum'at, gue dan Ace udah berangkat ke Bandara dari Depok naik bis, turun di terminal 2. 
Oh iya, sebelum hari-H, 150 pemenang Cornetto sudah dibagi menjadi 4 kelompok; kelompok A, B, C, dan D. Masing-masing dipimpin oleh satu tour leader. Gue ada di kelompok A dan tour leadernya adalah Mas Antonious.

Sekitar pukul 8, pesawat kami terbang menuju Singapur. Satu setengah jam kemudian mendarat di Changi Airport. Kesan pertama sampai di Changi yaitu bandara ini besar banget!!! Oke mungkin gue norak, tapi bener deh ini bandara gede banget. Kalau aja lo jalan kaki dari terminal bandara ke pintu keluar Changi, gue yakin pulang-pulang lo langsung jadi atlet.

Changi Airport

Di sana gue sudah ditunggu bis yang akan mengantar selama tour di Singapur. Ada tour leader lain lagi ternyata, namanya bu Harban, orang asli Singapura keturunan India. Selama tour, beliau memberikan informasi umum tentang seluk-beluk negeri Singapur.

Yang kayak UFO itu gedung Mahkamah Agung Singapura

Kegiatan pertama saat sampai di singapur adalah menuju sebuah restoran untuk santap siang. Restoran itu berada di sebuah mal, tidak terlalu besar, dan menyiapkan makanan prasmanan khas Indonesia.

Setelah kenyang, kami mengunjungi Merlion Park. Belum sah rasanya kalau ke Singapur belum foto sama patung Merlion, ibaratnya kayak makan sate, tapi nggak pake tusukannya. Nah lo pikirin deh tuh rasanya.


Air Merlionnya mati, belom bayar listrik kayaknya

Gue bersama sosok yang bernama Ace


Menatap masa depan

Sehabis dari Merlion, kami kembali ke bis dan berjalan melewati Esplanade, Rafles Landing Site, dan China Town. Semua dilewati dengan keadaan jalanan yang lancar, nggak macet kayak di Jakarta. Paling macet-macet dikit doang. Di Singapur itu pertumbuhan kendaraannya nggak se-brutal di Jakarta. Di sana kebanyakan penduduknya lebih memilih naik transportasi umum. Murah dan nyaman. 

Lagipula kalau mau beli mobil pribadi di Singapur, harus punya sertifikat kepemilikan mobil yang harganya cukup mahal. Makanya banyak yang lebih memilih transportasi umum. Satu hal kesamaan yang dimiliki Singapur dan Jakarta yaitu panasnya. Ternyata di Singapur panasnya nyengat juga. Panas cuaca ditambah lagi 'panasnya' turis-turis asing dan penduduk lokal.

Sekitar pukul 4 sore, kami berhenti sebentar di salah satu pusat perbelanjaan besar dengan harga bersaing; Bugis. Andai dibandingkan sama Jakarta, Bugis ini mungkin mirip dengan Pasar Tanah Abang. Cuma soal kebersihan dan ketertiban, ya beda jauhlah ya~

Abis dari Bugis, gue dan rombongan menuju Hotel Lavender, hotel yang akan menjadi tempat kami menghabisakan 2 malam di Singapur.

Rachor River, beberapa meter deket hotel Lavender

Andai saja Jakarta lengang kayak gini


We were going to Victoria Street

Sampai di kamar hotel, gue dan Ace buru-buru membersihkan diri buat meluncur lagi menyusuri kota. Pada jam itu tiap peserta rombongan diberikan kebebasan untuk menuju tujuan yang diinginkan. Kami memilih untuk belanja oleh-oleh di Bugis lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sembari menikmati tentramnya kota Singapur.


Kota yang nyaman untuk pejalan kaki


Becak singapur?

Mural-mural artistik yang gue temui di perjalanan kaki menuju bugis

bapa mana bapa~


'what the fuck are you looking at, boy?'
Malamnya, gue dan Ace berniat Garden by the Bay. Karena letaknya yang jauh, kami pun harus menaiki transportasi umum. Singapur adalah salah satu negara yang mempunyai transportasi local yang bersahabat dengan turis. Dan yang menjadi transportasi andalan negara ini adalah MRT (Mass Rapid Transit); kereta bawah tanah yang bisa bikin lo bergerak dari satu titik ke titik lain kota Singapura dengan cepat.

Setelah bertanya-tanya di mana lokasi stasium terdekat dari tempat gue saat itu, gue pun sampe di stasiun Bugis. Di situ nggak ada petugas tiket. Tiket dibeli sendiri di mesin tiket yang mirip kayak mesin ATM.

Gue dan Ace pun ngeliatin orang-orang yang menggunakannya terlebih dahulu. Setelah merasa paham, kami pun menyoba mesin itu. Seperti sudah diduga, kami tidak berhasil pada percobaan pertama. Nggak tau harus masukkin duitnya di mana.

Menjauhlah kami beberapa langkah dari mesin itu dan kembali menatap orang-orang yang sedang menggunakannya. Gue liatin tuh dari kejauhan gimana mereka makenya, dengan harapan saat itu nggak ada orang yang bakal teriakin gue copet. Sebab gue sadar, secara tampang dan gerak-gerik sudah cukup mendukung untuk dibilang copet.

Daripada nyoba-nyoba nggak jelas dan disangka copet dari negeri sebrang, gue dan Ace memutuskan mendekati seorang bocah—mungkin bocah SMP—yang lagi berdiri sendirian di dekat situ. Bocah itu pun langsung memasang muka takut dan memegang dompetnya dengan erat. Melihat tampangnya yang masih lugu, kami membungkam niat untuk menyergapnya, lalu memilih untuk meminta bantuannya aja.

Diajarin deh tuh gue cara makenya yang ternyata semudah menjentikkan jari. Mesin itu akhirnya mengeluarkan tiket dan kembalian. 

Setelah sekitar 15 menit (yang harusnya nggak sampe 1 menit juga udah selesai), gue dan Ace masuk ke dalam stasiun, dan setelah menunggu tidak lama, MRT pun tiba tepat waktu. 

Kami turun di stasiun Marina Bay. Ternyata butuh berjalan kaki yang lumayan jauh lagi buat menjangkau Garden by The bay dari stasiun itu. Berjalanlah kami dikelilingi gemerlap gedung-gedung sejauh mata memandang. Kami sempat mampir ke Marina Mall. Mal itu luas banget. Entah sudah berapa banyak gue menyebut kata luas dan besar yang makin memperlihatkan ke-norak-an gue. Tapi ini beneran luas, sampe-sampe di dalem mal itu ada kanal macam di Belanda gitu.



Marina Bay Mall. Foto ini gue ambil dari wikipedia karena gue nggak sempet foto kanalnya.

Di Marina mall ada jalan yang menghubungkan langsung ke Garden by the Bay. Kami pun melewati jalan itu.

Garden by the bay itu ada taman, ya namanya juga garden. Taman yang cukup lapang dan luar biasa memukau dengan. Ada banyak yang bisa dijelajahi di situ, semisal flower dome, OCBC Skyway, SIlver Garden, Dragonfly lake, Sun Pavillion, dan masih banyak lagi.

Gue tidak banyak mengunjungi lokasi-lokasi itu karena keterbatasan waktu dan tenaga. Ya, gue sudah lelah. Selain dana dan waktu, ternyata kalau berjalan-jalan kaki mengelilingi kota Singapura itu butuh tenaga ekstra juga.

Sekitar pukul 10 malem, gue dan Ace pun naik MRT lagi menuju Hotel. Berakhirlah perjalanan Di Singapura pada hari pertama. Hari kedua akan gue posting di lain waktu.


Garden By The Bay



Tampak Singapore Flyer dari Garden


Marina By The Bay di malam hari

Super Tree