Showing posts with label Personal Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Personal Thoughts. Show all posts

Best Films You Probably Missed in 2017

Mungkin tulisan ini agak terlambat mengingat sekarang udah memasuki akhir januari 2018. Maafkanlah, kemalasan ini terlalu sering mengambil alih. It’s been quite a while I didn’t write, I feel like I have to write something on my blog, Since I read book less and watch film more, there will be much of writing about film in the time ahead, I guess. So this become the first writing I finished in 2018.
Menurut catatan Letterbox gue, baru segini film 2017 yang gue tonton. Follow me on Letterbox if you have one, click here
Every year we were blessed with many great movies that inspired us, look after our time in solitude, made us think, made awareness of some issues that ever happened in our world, or it just plain to entertain us. Not exception for 2017. In 2016, as the best I have La La Land, The Nice Guys, Sing Street, Hidden Figures, Lion, Snowden, Hacksaw Ridge, Deadpool and so forth. And here, this was my attempt to draw up a list of the films which took most of my attention and probably the best I, personally, watched in 2017 and probably will work for you too. If you have your own preference I didn't mention below, feel free to write in comment column.

1. The Babysitter

kaya gini nih babysitter-nya
Setelah orang tuannya pergi ke luar kota, Cole (Juda Lewis) ditinggal berduaan aja Bee (Samara Weaving), babysitternya yang hot itu. Bee ini orangnya lucu, suportif melawan bully terhadap Cole, tahu banyak geeky things, orang yang menarik buat diajak hang out, bisa dibilang tipe babysitter ideman sejuta umat. Cole was told by his friend that kind of babysitter likes to have sex when the host is sleeping, so Cole kept awake at midnight, and find out something more than that.

The Babysitter juga termasuk film horror, namun sedikit banyak dibumbui komedi. Mirip Home Alone tapi lebih sadis dan gory. Saran gue kalo mau nonton film ini jangan baca review/sinopsisnya, apalagi nonton trailernya. Jangan deh, karena spoiler banget.


2. Bad Genius

Bad Genius menceritakan orang Genius yang bad. Lynn yang diperankan oleh Chutimon Chuengcharoensukying (tutup mata Anda, dan eja namanya. Kalo bisa gue beliin cendol segerobak) adalah gadis genius yang lugu, baik hati dan senang berbagi, termasuk berbagi jawaban ujian. Awalnya dia cuma ngasih contekan ke satu sahabatnya, lama-lama customernya bertambah, bertambah, dan bertambah lagi. Dan tentunya jawabannya tidak diberikan dengan cuma-cuma. Memberikan contekan pun menjadi bisnis yang profitnya ga kalah dengan bisnis ayam geprek.


Thai film ini ceritanya cukup kuat dan meyakinkan, pengarahan visual dan sound effect-nya sangat baik, menciptakan banyak momen menahan-napas buat penonton. Bukan karena ada yang kentut, tapi atmosfernya itu yang menegangkan. Nonton orang pada nyontek aja deg-degan dah. Moral value yang bisa didapat dari film ini adalah: Kids Zaman Now harus bisa berinovasi mencari cara-cara mencotek yang efektif. Tinggalkanlah cara-cara klasik, sebab guru-guru sekarang pun semakin pintar untuk menangkap Anda.

3. Get Out
when u know besok udah senin

Kalau lo pernah takut-takut pas pertama kali mau ketemu mertua, tenang, lo ga sendiri. Seorang fotografer berkulit Chris (Daniel Kaluuya) juga merasakannya, ketika ia diajak pacarnya Rose (Allison William) yang berkulit putih itu mengunjungi orang tuannya. Chris semakin ragu karena Rose belum pernah menceritakan hubungan antar ras yang mereka jalani. Hubungan beda zodiak aja kadang ga direstui mertua, apalagi beda ras. Karena hubungan mereka sudah sampai ke tahap serius, Chris pun memberanikan diri untuk mengunjungi rumah orang tua Rose yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Ternyata mertuanya itu ga se-rasis yang dia pikirikan sebelumnya. “Alhamdulillah, deh” kata Chris. Tapi kian lama ia menetap di rumah mertua, ia makin sadar kalau ada sesuatu yang aneh di rumah itu.


Oke gua akan berhenti di situ. Karena kalau lo tau banyak tentang jalannya cerita, nanti bakal mengurangi kejutan-kejutan yang ada. Plotnya bener-bener ga ketebak. Film ini bergenre horror. Apa berarti Chris akan dihantu penunggu rumah mertuanya itu? Oh tidak. Horror, engga melulu harus ada setan. Tapi tetap, film ini bisa memberikan nuansa yang membuat bulu kuduk dan bulu-bulu yang lainnya merinding.

4. Detroit

Di Indonesia ada tragedi Mei 1998, Di Amerika ada Detroit 1967. Keduannya sama-sama kerusuhan yang berangkat dari perbedaan ras. It's a well depiction of real horrifying incident about the cruel reality of racism from white police officer to the black community that ever happened in Detroit.

Menurut gue agak kelamaan sih durasi film ini tapi ceritanya cukup powerful, intense, dan emosional yang bakal bikin gregetan banget sama para orang-orang rasis itu. Kalau lo gatau ada kejadian apa aja atau bagaimana akhir dari peristiwa Detroit mungkin itu akan membuat lo bisa lebih menikmati film ini.

5. Kingsman: the Golden Circle

Kalau lo menikmati sequel kingsman yang pertama, lo bakal suka yang kedua ini. Mungkin ga sebaik yang pertama, tapi tetep aja dari awal aja kita bakal disuguhi adegan laga penuh aksi dan senjata berteknologi tingkat tinggi. Dari opening scene aja kita akan langsung menonton tokoh utama berantem dan kejar-kejaran dengan fight choreography dan cinematography yang aduhai.

Masih melanjutkan sequel pertamanya, Eggsy, agen mata-mata dari Badan Intelijen International yang berpusat di Inggris dan punya misi untuk menyelamatkan dunia. Karena sedang berada di masa keruntuhannya, Badan intelijen ini meminta bantuan sekutunya di Amerika, organisasi serupa yang dipimpin oleh Champagne (Jeff Bridges), Tequila (Channing Tatum) and Ginger Ale (Halle Berry). Dengan semangat bersatu kita teguh, mereka bersatu buat menjatuhkan Poppy (Julianne Moore), ibu-ibu bandar narkoba tapi benci dengan narkoba.

6. Lady Bird

Ini mungkin satu film di 2017 yang gue suka, bahkan sebelum gue menonton filmnya. Gue udah merasakan kesuksesan film ini dari respons-respons positif oleh kritik maupun dari penonton biasa. Ditambah lagi tokoh utamanya itu artis favorit gue, Saoirse Ronan.

Jangan mengharapkan cerita yang plot twist atau kejutan-kejutan dalam film ini karena ya emang ceritanya se-biasa itu, tentang gadis remaja dalam usaha menemukan jati dirinya, bagaimana ia mengatasi keinginan yang terhalang oleh keadaan, hubungan persahabatan, dan yang paling utama ditawarkan adalah hubungan antara anak dan ibu. Yang membuat film ini spesial bisa jadi adalah perpaduan para cast yang meyakinkan serta dialog-dialog dan agrumen yang terasa natural, jujur dan nyata, sehingga membuat ceritanya begitu dekat dengan kehidupan kita.

7. Baby Driver

Baby (Ansel Elgort) kalau kuliah pasti tipe mahasiswa yang kupu-kupu. Ia ga banyak bicara, mendengarkan musik sepanjang waktu, dan suka membuat musik dari percakapan orang-orang yang disekitarnya. Dibalik ke-introvertannya itu, ternyata ia adalah supir komplotan kriminal. Mau tak mau ia harus melakukannya karena punya hutang dengan bos kriminal, doc (Kevin Spicey). Lalu di sebuah café, ia bertemu dengan Debora (lily James), pramusaji cantik yang menyenangkan, ramah, imut dan lucu (yang cuma ada di film-film), dan membuat Baby terbuai oleh cinta seketika serta membuatnya ingin mencari duit dengan cara yang lebih halal.

This movie is such a perfect harmonization between the breathtaking of crime-action and the beauty of romance-musical covered by pretty catchy songs in almost every scenes. It has great soundtrack, fantastic cast, and so much fun and this reminded me of Ryan Gosling’s Drive.

8. The Killing of Sacred Deer

Haunting sound in every scenes, emotionless yet surprisingly funny characters, great camera-shot, all come together make one brilliant psychological horror movie. Not gonna jump-scaring you or scare the shit out of you, but it's gonna make you tense and feel the mystery right from the beginning until the minute it ends. I won't tell you the brief synopsis because believe me, just like how I watched it, it's better you don't know any single thing about the movie, so you won't know where the movie will bring you to and keep the mystery alive.

9. The Big Sick

 

Watched this without any expectation and ignorance of the actresses and director, it turns out to be my favorite film of 2017. Formula romantic-comedy kan sebenarnya itu-itu aja: boy meets girl, get together, something happens, and bla-bla-bla. Sama aja kaya film ini. Ide awalnya sebenarnya sederhana, cuma orang Pakistan yang jatuh cinta sama cewek Amerika. Tapi terhalang oleh budaya Pakistan dan orangtua yang orthodox dan status quo. Sesimpel itu ide utamanya.

Kalau aja ide utama itu ga dieksekusi dengan baik, pasti ini film ga bakal jauh kaya sinetron-sinetron Indosiar. Namun karena penulisan dan cast-nya sangat baik ditambah kedekatan cerita dengan tokoh utama, Kumail Nanjani, yang lebih kurang berdasarkan kisah nyatanya, sempurnalah hasilnya. Gue merekomendasikan buat orang yang nyari hiburan santai dan lagi nggak pengin banyak mikir. Alur cerita yang mengalir, simple, banyak momen menyentuh dan emosional, karakter-karakter yang unik, dan jokes-jokes yang petjah banget, jadilah film ini worth every minute of your goddamn time!


Must-Watch Series


Semakin kita besar, semakin banyak tanggung jawab, semakin sedikit waktu yang kita punya. Waktu 24 jam sehari rasanya masih kurang. Waktu terasa kian cepat berlalu. Perasaan kemaren presiden Indonesia masih Soekarno, sekarang udah Jokowi aja. Ngga terasa emang.

Keterbatasan waktu itulah yang membuat serial tv bisa menjadi alternatif hiburan pengganti nonton film. Serial biasanya cuma 50 menit-an doing satu episode (itu serial barat, kalau Indonesia bisa berjam-jam kali), sedangkan film rata-rata hampir 2 jam.

Keunggulan serial barat, nonton serial juga berasa nonton film, satu season paling cuma 10 episode, dan ceritanya variatif dan menarik. Nggak kaya serial Indo udah ceritanya ga jelas cuma kehidupan sehari-hari, episode berates-ratus (malah tukang bubur sampe 2000an kalau ga salah), dan durasinya berjam-jam (maap-maap nih bukan jele-jele in negeri sendiri, tapi emang jele ya mau gimana).

Selagi kita menunggu Indonesia memproduksi serial-serial berkualitas, sekarang ini gue mau ngasih serial barat yang menurut gue worth your time and for you who looking for some show to addicted to (It's better addicted to series than drugs or smoke, right?). Kalau lo sibuk, ya tonton aja 1 hari 1 episode, itu juga kalau lo mampu buat menahan diri buat nggak ngelanjutin episode selanjutnya. I know probably there are many shows out there, maybe hundreds of it that absolutely good but I don't mention down here. With so many TV shows to ponder over, I only chose six that I think is the best of the best and that really close to my heart. I'm pretty sure you will love it too.

1. Daredevil

Daredevil merupakan salah satu karakter superhero Marvel. Berbeda dengan film-film Marvel seperti Iron Man atau the Avangers, superhero di serial tv tidak hanya berfokus pada perkerjaan superhero yang selalu membasmi kejahatan. Di serial, durasi yang terbagi dalam beberapa episode memungkinkan untuk menelisik lebih jauh kehidupan personal si superhero; kehidupan di bidang pekerjaan, kedekatan hubungan dengan karakter-karakter lain, serta konflik sehari-hari. Singkatnya, lebih manusiawi-lah superhero di serial tv, termasuk daredevil ini.

Sosok daredevil sendiri adalah seorang pria tuna netra yang pekerjaannya sebagai pengacara di pagi hari, dan memberantas kriminal di malam hari. Meskipun ia superhero, ia tidak pernah membunuh, ia selalu percaya kalau jalur hukum bisa menghapus kriminalisasi yang ada di kota.

Kalau lo termasuk penggermar Toni Stark, Thor, dan kawan-kawan, dijamin lo juga bakal menikmati serial marvel ini. Rumornya para superhero di serial tv bakal muncul juga di film Avangers selanjutnya: the Infinity War.

2. Jessica Jones

Supernatural gift yang dimiliki Jessica Jones yaitu kekuatan super dan kemampuan untuk loncat tinggi. Tadinya ia memanfaatkan supernatural gift-nya untuk jadi superhero, tapi karena trauma yang dialaminya, ia memutuskan untuk menjadi private investigator (and she’s good at that job, the best one).

Pas lagi menyelidiki satu kasus, ia dipertemukan lagi dengan penyebab traumanya itu, yang juga bakal jadi musuhnya di serial ini, Killgrave. He is mind-controlling jedi shit.

Seperti superhero di seral tv lainnya, cerita lebih kompleks dan mendalam. Ini salah 2 dari 4 marvel hero yang diangkat ke layar tv. Tadi sebelumnya ada daredevil. Lainnya, ada pula Luke Cage dan Iron Fist, tapi 2 film itu menurut gue ceritanya kurang menarik. Jadi gue cuma merekomendasikan Daredevil dan Jessica Jones. Mereka semua ini nantinya bakal bersatu di The Defenders (macam the Avangers-lah) yang akan segera tayang bulan Agustus 2017 nanti. 

3. Riverdale

Riverdale berkisah tentang para remaja yang berusaha mengungkap kematian Jasson Blossom, yang hilang ketika ia bersama saudara kembarnya, Madeline Blossom, di hutan. Tempo berjalan perlahan. Sedikit demi sedikit di tiap episode fakta-fakta kecil dari beberapa saksi mulai bermunculan. Para remaja inilah yang nanti mengumpulkan serpihan-serpihan bukti yang menuntunnya ke pelaku pembunuhan.


Disamping itu serial ini sangat dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Gadget, masalah persahabatan, cinta segitiga, segiempat, cinta trapesium, dan lain-lain. Yang menjadi daya tarik lebih di serial ini, artis dan aktornya cantiknya bikin lupa diri. Selera kawula muda banget deh.

4. 13 Reasons Why
Belakangan ini media sosial sedang ramai berita tentang bullying. Mungkin serial inilah yang bisa menunjukkan betapa besarnya dampak bullying sampai bisa membuat seoarang gadis SMA, Hannah Baker, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Ia mengungkapkan 13 alasannya dalam sebuah rekaman kaset yang ia tinggalkan dan mengalamatkannya ke setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Bukan hanya isu bullying yang diangkat serial ini, intimidasi, depresi, bahkan kekerasan seksual disinggung dalam cerita. Secara garis besar, serial ini seperti ingin menunjukkan mengapa seseorang sampai bisa bunuh diri dan juga ingin mencegah agar bunuh diri ini tidak terjadi di sekitar kita. Tanpa kita sadari, bisa jadi ada kata-kata kita atau tindakan kita yang menyakiti orang lain.
“No one know what’s really going on in another person’s life, and you never know what you do will affect someone else.”

5. The Walking Dead

Mungkin udah banyak yang denger series ini, atau dari namanya pun bisa ditebak kalau ini tentang zombie-zombie-an. Di tengah serangan virus zombie yang menyebar ke setiap titik kota, sejumlah orang yang selamat berusaha bertahan hidup dari itu.

Bertahan hidup. Di sinilah fokus series ini. Di awal-awal season, tampak musuh manusia hanya zombie-zombie, tapi seiring berjalan waktu, ketika persediaan makanan terbatas, tempat perlindungan sulit dicari, satu kelompok manusia mulai menyerang kelompok lainnya untuk mendapat apa yang mereka butuhkan.

Dari sini gue jadi tau ternyata manusia itu lebih serem dibanding zombie. Kalau zombie tujuannya jelas, yaitu cuma ingin memakan kita. Kalau manusia susah ditebak. Bisa jadi ia pengin mengambil sesuatu dari kita, tapi menyamar dulu jadi temen kita. Ngomong apa sih gue? Nonton aja dah.

6. Game of Thrones

Serve the best for the last. Inilah menurut gue series terbaik yang pernah gue tonton. Tiap kali ditanya, “serial ini tentang apa sih?”, jawabannya masih menjadi misteri buat gue. Kalau disuruh jelasin masih bingung gue harus jelasinnya gimana yang sesuai dengan kedahsyatan serial ini.

Intinya serial ini tentang perebutan tahta. Sembilan klan bangsawan berusaha mempertahankan nama keluarganya dan bertarung menguasai negeri. Sementara klan-klan besar berperang untuk memperluas pengaruh kekuasaannya, ancaman yang lebih besar siap menyerang mereka, The White Walkers, rombongan orang-orang mati yang datang saat musim dingin. Winter is Coming.

Game of Thrones ini film kolosal macam film 300 yang ngambil setting waktu di zaman kuno. Mungkin lo bakal bilang kalau lo ngga suka film kolosal. Kaya film 300 itu, gue juga ngga terlalu suka film kolosal sebenarnya. Tapi yang ini beda banget. Banyak unsur-unsur politik yang relevan dengan kehidupan sekarang, banyak adegan "you-know-what", ada fantasinya juga, banyak dah. Satu-satunya kekurangan serial ini yaitu serial ini enggak punya kekurangan!

Pokoknya terbaiklah ini series. Tonton aja coba. Kalau lo ngerti alur ceritanya, pasti lo juga bakal ketagihan deh. If you don’t enjoy this show, there must be something wrong in your head, that’s the best I can tell.



One Day One Film

Tahun 2016 emang yang paling-paling. Setelah menjadi tahun paling banyak membaca, juga menjadi tahun terbanyak saya menonton film.

Kalau Kota Depok punya program one day no rice, saya punya program one day one film. Jadi tiap hari setidaknya ada satu film yang saya tonton. Namun sebagaimana program-program pemerintah yang tak selalu berjalan mulus, kadang program one day one film ini juga begitu. Kadang terbentur dengan ketersediaan waktu juga.

Saya termasuk penonton film omnivora. Penikmat segala film dengan berbagai genre, baik itu action, komedi, sci-fi, horor, thriller, drama, atau romance. Saya jarang nonton film dari dalam negeri (maafkan), lebih sering menonton film Hollywood. Selain itu, saya juga menonton film dari Bollywood, Britania Raya, Perancis, Rusia, Amerika Latin, Jepang, bahkan Korea pun saya tonton. 

Sebetulnya kesenangan menonton film sudah sejak lama. Cuma baru tahun 2016 aja makin getol menonton

Walaupun saya suka menonton film, saya jarang ke bioskop. Lebih sering nonton di laptop dari download ilegal, atau beli dvd bajakan di abang-abang. Ya, tidak seharusnya ini ditiru, tapi saya selalu menganggap download ilegal dan beli bajakan produk luar adalah perlawanan kecil melawan sepak tejang kapitalisme.
(Halah alasan, bilang aja nggak ada duit!)
───
Oleh sebab menonton film, saya jadi punya hobi baru, yakni men-screenshot dialog-dialog keren, lucu, pokoknya yang menarik lah. Buat yang mau nulis dialog untuk karya fiksi seperti cerpen atau novel, belajar dari dialog film yang bagus adalah cara terbaik untuk membuatnya.

Yang bisa menyebutkan dari film apa semua fragmen-fragmen ini saya ambil, berarti kalian luar biasa.













 
───
Berhubung saya sedang mengenyam studi di jurusan sastra Inggris, bisa berbahasa Inggris adalah sebuah tuntutan tak terelakkan. Saya sadar film itu bukan hanya sebagai hiburan, tapi bisa jadi wadah menyenangkan belajar bahasa Inggris.

Maka dari itu sebisa mungkin pasti saya prioritaskan menonton film daripada belajar bahasa inggris dari buku-buku kuliah.

Dari film juga saya bisa mengamati budaya dan cara berpikir orang-orang sana. Ya, budaya dan cara berpikir, merupakan kesatuan penting dalam mempelajari bahasa asing. 

Menukil perkataan Benedict Anderson dalam memoarnya Hidup di Luar Tempurung, “Mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dengan demikian belajar berempati pada mereka.”
───
Karena ingatan terlalu lemah untuk mengingat semua yang saya tonton, saya pun membuat akun IMDb untuk menandai film-film yang sudah saya tonton. Ada lebih dari 150 film yang saya tonton. Saya akan mendaftarkan beberapa film yang menurut saya bagus yang saya tonton di tahun 2016.

1.    Now You See Me 2 (2016)
2.    Zootopia (2016)
3.    Don't Breathe (2016)
4.    She's Funny That Way (2014)
5.    Silver Linings Playbook (2012)
6.    Midnight in Paris (2011)
7.    3 Idiots (2009)
8.    The Blind Side (2009)
9.    Crows Zero (2007)
10.  The Da Vinci Code (2006)
11.   Love Actually (2003)
12.   The Pianist (2002)
13.   Catch Me If You Can (2002)
14.   Saving Private Ryan (1998)
15.   Mallrats (1995)
16.   Before Sunrise (1995)
17.   Little Women (1994)
18.   Schindler’s List (1993)
19.   Reds (1981)
20.   Manhattan (1979)
21.   Sleuth (1972)
22.   2001: A Space Odyssey (1968)
23.   The Killing (1956)
24.   The Bachelor and the Bobby-Soxer (1947)
25.   His Girl Friday (1940)
26.   Bringing Up Baby (1938)
27.   It Happened One Night (1934)

Membaca Sebagai Jalan Orang-Orang Malas

A cat caught reading Tolstoy

Saya senang membaca. Membaca buku, majalah, komik, maupun membaca status-status orang di media sosial. (entah yang terakhir ini bisa dikategorikan sebagai aktivitas membaca atau tidak)

Kegemaran saya membaca ini udah muncul dari SD. Semua bacaan saya waktu SD adalah komik-komik jepang semacam Naruto, Doraemon, Yu-gi-oh, Eyeshield 21, dan lain-lain.

Semakin saya beranjak dewasa saya semakin mengurangi bacaan komik dan menyentuh novel. Saya nggak ingat pasti kapan saya mulai membaca novel dan novel apa yang pertama saya baca. Seinget saya, pas SMA barulah saya membaca novel yang sebagain besar adalah novel metropop Ilana Tan, Ika Natassa atau buku-buku Raditya Dika. Itu pun aktifitas membaca saya nggak rutin. Tergantung mood aja, kadang bisa dua bulan sekali, empat bulan dua kali, atau enam bulan tiga kali (Lah sama aje tong).

Ketika lulus dan mulai berkuliah, dan sudah mulai dikit-dikit nulis, barulah bacaan saya bertambah dan rutin. Saya mulai bersentuhan dengan sastra. Sejak itu dalam satu hari, saya menganggap waktu yang saya punya adalah 23 jam. Artinya, satu jam lagi, sudah diwajibkan untuk membaca.

Banyak orang berpikir kalau membaca membuat orang menjadi pintar. Tapi menurut saya malah sebaliknya. Membaca membuat kita semakin bodoh. Tepatnya, menyadarkan kita bahwa kita itu bodoh. Begitu banyaknya hal di dunia ini ternyata yang tidak kita tahu.

Filsuf sebijak Socrates pun menyadari hal ini. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal, yakni bahwa dia tidak tahu apa-apa. Jadi barangkali orang yang bijak itu bukanlah orang yang tahu segala hal, tetapi seorang yang sadar akan kebodohan dirinya. Makanya ia mencari tahu dan mencari tahu.
Tahu bulat, digoreng dadakan~

Orang-orang juga berpikir membaca adalah kegiatan dari golongan orang-orang rajin. Tapi nggak juga sih. Membaca adalah jalan bagi pemalas untuk menikmati waktu. Ketika saya lagi hanyut dalam banyak buku, saya malah malas untuk menulis. Makanya saya mengkambinghitamkan kesenangan membaca atas ketidakproduktifan menulis di tahun 2016.

Dampak dari kesenangan membaca juga membuat saya malas menabung. Setiap orang setidaknya pasti punya satu hal yang ia rela menghabiskan banyak uang pada sesuatu itu tanpa menyesalinya; ada yang senang menghamburkan uang buat jalan-jalan, ada yang buat beli sepatu atau baju, ada yang buat beli buku. Nah saya yang terakhir itu. Sebagian besar uang saya dihabiskan untuk membeli buku. Dan saya tidak menyesalinya.

Padahal di rak masih banyak buku yang belum dijamah. 20an buku mungkin yang mengemis-ngemis minta dibaca. Tapi tetap saja beli buku lain. Lemah syahwat rasanya kalau melihat buku-buku bagus dengan harga jatuh.

Sebenarnya kalau mau, di internet juga banyak buku-buku digital yang bisa diunduh gratis. Tapi saya lebih suka buku fisik. Saya mengandaikan buku adalah perempuan. Jika baca buku digital, ibaratnya, kita hanya bisa melihat perempuan itu ngomong menunjukkan ekspresi seksinya. Ya macam di bigo-bigo lah. Paling banter kita ngetik “turunin dikit dong~”, lalu kita hanya bisa melihat dari layar gawai si perempuan menunjukkan tubuh moleknya.

Kalau membaca buku fisik, dengan sedikit membayar, kita bisa bawa pulang perempuan itu dan perempuan itu bisa diapain aja. Boleh dibuka-buka, disentuh, ditidurin, diapain aja deh pokoknya~

Jadi intinya adalah: Jauhi narkoba dan seks bebas!

(((APAAN ANJAS)))

Membaca membuat orang jadi malas; malas membuka buku pelajaran. Walaupun judulnya sama-sama membaca, tapi membaca buku teks kayaknya beda banget sama karya-karya sastra. Gaya bahasa di buku teks terlalu kaku dan hanya mengedepankan kemampuan otak. Tidak seperti karya sastra merangsang otak dan juga perasaan. Mestinya buku-buku teks itu ditulis dengan bahasa sastra yang mengalir juga sih biar nggak bosen dibaca.

Membaca juga membuat saya malas bersosialisasi. Nggak sampai anti sosial juga sih, cuma membikin saya menjadi semakin introvert. Dan saya bangga.

Sebab membaca, dan juga menulis, adalah dua hal yang tidak bisa saya lakukan kalau ada orang-orang berkeliaran di sekitar saya. Maka dari itu, saya lebih sering dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri di kamar.

Itulah cara saya berdamai dengan kesendirian. Kalau kau tahu cara berdamai dengan kesepian, percayalah, kau malah tidak rela meninggalkan kesepian itu, dan hidup tanpa pasangan pun bukan lagi sebuah keresahan besar.
−−−
Menurut data statistik Goodreads, tahun ini saya sudah membaca 64 buku dari 63 buku yang ditargetkan di awal tahun. Ini menjadi jumlah terbanyak yang pernah saya baca. Saya tuliskan daftar buku-buku itu, siapa tahu kau ingin tahu. Tahu bulat, digoreng dadakan~








Itulah buku-buku yang menghabiskan banyak waktu saya di tahun 2016. Walau menghabiskan banyak waktu, saya tidak akan kapok melakukan hal itu lagi.

Setidaknya saya menghabiskan waktu untuk hal yang mulia nan berfaedah. Tapi apa benar banyak membaca berfaedah? Memangnya buku-buku itu akan membawamu ke mana?

Kalau ada orang yang bertanya seperti itu kepada saya, saya pun dengan tegas akan menjawab: Tentu buku-buku itu akan membawa saya ke… ke… ke mana ya? *garuk-garuk kepala*

Ya saya tidak tahu juga ke mana buku-buku itu akan membawa saya. Yang penting saya senang melakukannya, dan barangkali menambah satu-dua pengetahuan baru buat saya.

Tahun depan saya beresolusi akan membaca lebih banyak buku klasik. Saya juga akan memasang target 42 buku untuk dilahap.

Mangsa tahun depan
Target berkurang dari tahun-tahun sebelumnya karena saya mempertimbangkan akan membaca buku-buku tebal yang sudah lama ada di rak, semisal Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan, Burung-burung Manyar-nya Y. B Mangunwijaya, The Prague Cemetery-nya Umberto Eco, War and Peace-nya Tolstoy, buku-buku Pram dan Murakami (Kalau ini tiap tahun wajib dibaca), dan lainya menyusul. Ditambah lagi, kemungkinan waktu akan banyak tersita di semester 6 nanti untuk mengerjakan Penelitian Ilmiah.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya baru menyentuh dunia sastra selepas lulus SMA. Dalam hidup, pasti ada beberapa hal yang kita sesali di hari lalu. Kalau saya, salah satu yang saya sesali di hari lalu adalah, tidak mengenal karya-karya sastra lebih dini.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” -Pramoedya Ananta Toer

Kemalasan yang Menjelma

Kemalasan yang Menjelma
pexels

 Tahun 2016 ini bisa dibilang menjadi tahun tidak terproduktif saya dalam beberapa tahun terakhir. Jarang menulis apa pun untuk diri sendiri dan untuk blog ini. Dalihnya pun sama seperti sebelum-sebelumnya; sibuk dan lagi gak mood.

“Lagi gak mood” rasanya menjadi alasan terkeren dari para pegiat kreatif yang memang harus menggunakan banyak perasaan di dalamnya. Saya pun menunggu mood untuk menulis lagi. Setelah menunggu… menunggu… menunggu… menunggu… eh taunya doi malah jadian sama orang lain. Huft.

Maksud saya, mood udah ditunggu-tunggu tapi kok tidak muncul-muncul. Jadi, di manakah ia berada? Apa mood itu benar-benar ada? Atau itu hanya akal-akalan manusia saja untuk membenarkan kemalasannya sendiri? Ah entahlah, hanya Mamah Dedeh yang bisa menjawabnya.

Kalau mood benar ada, bagaimana bisa Paulo Coelho, atau Haruki Murakami, atau Danielle Steel, atau atau Stephen King, atau Sir Arthur Conan Doyle melahirkan begitu banyak karya. Kalau mood benar ada, pastilah karya-karya besarnya tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca.

Jadi sepakati saja mood itu hanya mitos.

Kemudian, sibuk, dalih ini pun perlu ditelusuri lagi lebih lanjut. Orang yang selalu beralasan sibuk dalam menghindari sesuatu, apa memang kesibukkan mengambil 24 jam waktunya? Kalau orang mencintai sesuatu, pasti ia menyempatkan diri untuk melakukan apa yang ia cintai. Seharusnya.

Jadi paham kan? Kalau kekasihmu nggak ngabarin dengan alasan sibuk, udah putusin aja~

Kalau saya mengengok ke belakang, sepertinya saya tidak begitu sibuk. Ada yang lagi dikerjakan sih, tapi, sebenarnya tidak kuat untuk dijadikan alasan juga. Satu-satunya yang menyibukan saya yaitu membaca dan menonton film. Itu pun kalau bisa dibilang kesibukan.

Membaca dan menonton film, bagi seorang pemalas seperti saya, adalah aktivitas termudah untuk bercengkrama dengan diri sendiri. Tidak perlu capek-capek ke luar rumah, kita seolah diajak berplesir dari satu tempat ke tempat lain, berpindah dari situasi ke situasi lain, dan jalan-jalan ke waktu lampau, waktu kini, sampai ke masa depan.

Dengan melakukan aktivitas-aktivitas itu saya pun tidak ingat lagi kapan pernah menggunakan kata bosan dalam hidup. Mungkin yang bakal membuat saya bosan jika tidak ada buku atau film yang bisa dibaca dan ditonton. Tapi sayangnya, sekeras apa pun saya berusaha, semua buku-buku dan film-film menjelma jalan-jalan yang tak berujung. Tidak cukup hidup 1000 tahun pun untuk menghabiskan semuanya.

Menulis juga bisa menjadi cara untuk bersenang-senang dengan diri sendiri. Tapi kadang menulis juga menyebalkan, sebab ia butuh berpikir untuk melakukannya. Tulisan tidak jelas seperti ini pun, saya perlu berpikir apa saja yang mau saya tuliskan.

Saya akan membicarakan perihal kesenangan saya membaca dan menonton lebih panjang di tulisan selanjutnya.

Jadi intinya, mood itu hanya mitos dan tidak ada kesibukan yang absolut. Semua hanya bermuara dari kemalasan.

Tahun baru, semangat baru. Seperti sekarang ini, semangat saya menulis sedang menggebu-gebu. Meski biasanya cuma diawal-awal tahun aja.

Semoga aja tahun 2017 saya bisa menjadi lebih produktif, lebih baik, lebih ganteng (ini susah sih). Seinget saya sih, saya pernah mengucapkan ini. Tapi anggap saja lah ‘semoga’ itu sebagai mantra. Yang kekuatannya perlahan-lahan memudar dan perlu diberpaharui.

Selamat tahun baru 2017.
Salam telolet.

Memilih dan Memilah Media Sosial

Image Source: Socialmediatoday
Belum lama ini gue baru mengunfollow akun twitter temen-temen gue yang udah lama nggak aktif twitternya. Hampir 100 akun gue unfollow, lalu gue tersadar kalo temen-temen gue sepertinya sekarang sudah pada meninggal… kan media sosial twitter.

Zaman sekarang media sosial itu jumlahnya udah sebanyak permasalahan di negeri kita. Iya nggak sih?

Ada Twitter, Facebook, Path, Instagram, Snapchat, Vlog dan aneka ragam lainnya. Media sosial itu semua bisa didapatkan dengan mudah hanya dengan sebuah email. Nggak perlu ribet-ribet beli di toko atau nyari di toko online. Emang ada gitu orang jual facebook second? kan nggak ada ceritanya.

Walaupun sosmed berjibun, gue termasuk orang yang nggak begitu terbawa arus dengan sosmed-sosmed baru. Gue aktif paling cuma di Twitter dan Instagram. Gue memilih sedikit aktif sosial media agar bisa memilah waktu ber-sosial media dengan waktu lain yang bisa digunakan buat sesuatu yang lebih produktif.

Gue memainkan sosmed yang sekiranya memiliki faedah dalam hidup gue. Bukan sekadar ikut-ikut yang lagi tren aja.

Semisal di Twitter, Twitter menurut gue adalah socmed paling cepat buat menangkap informasi-informasi dari seluruh penjuru dunia. Twitter juga bisa jadi ajang sebar kegiatan/aktivitas sosial atau pun acara-acara menarik yang akan berlangsung di sekitar kita. Sering gue menemukan acara-acara yang sesuai dengan ketertarikan gue lalu gue mengunjungi itu.

Dari twitter gue juga bisa mengetahui jalan pertandingan sepak bola tanpa harus menontonnya secara langsung, yakni dengan live tweet. Lebih-lebih, gue bisa terhibur dengan masalah yang sedang ramai diperbincangkan lalu dijadikan guyonan oleh sejumlah pengguna twitter. Gue juga kadang bisa lihat sebuah permasalahan dari 2 sisi dengan terciptanya perang (tweet war) yang keluar dari kicauan dari sekelompok golongan yang sama-sama merasa paling benar.

Kalau di Instagram, gue seneng ngeliat keindahan-keindahan yang dikemas dalam satu gambar. Instagram itu seperti memanjakan mata dan kadang memberikan inspirasi yang tak terduga. Di media sosial itu ada juga video-video pendek yang bisa jadi hiburan. Gue juga menganggap Instagram sebagai tempat album foto kecil yang merekam diri gue dari tahun ke tahun.

Cuma dua socmed itulah yang paling sering gue buka. Yang lainnya gue tidak melihat manfaat banyak yang bisa didapat. Dulu gue punya path, namun seiring waktu lewat, gue bosen aja. Gue ngeliat path adalah tempat orang-orang mau pamer, nggak iya sih?

At Bandara Dakar Yoff Léopold Sédar Senghor Senegal – with Papa Alioune Ndiaye
Itu salah satu moment yang bakal ditemukan di Path. Apa sebenarnya tujuan membuat status di Path seperti itu? Secara nggak langsung kan sebenarnya mereka mau bilang ke temen-temennya, “Eh gue tuh lagi di Senegal nih sekarang!”

Bagi gue path ini sih pasnya buat nge-stalk gebetan. Kita jadi bisa tau gebetan lagi ngapain, lagi jalan sama siapa, dan menganalisis kesukaannya apa aja. Kita juga jadi bisa tau kapan harus maju atau mundur dalam pengejaran gebetan. Kalau gebetan lu sering update suka makan darah biawak, udah deh mundur aja bro kalo gitu.

Di path bakal ditemukan juga pasti orang-orang yang lagi makan apa diupdate, nonton apa diupdate, lagi berak diupdate, lagi update diupdate #apasih, pokoknya segala aktivitas sehari-hari diupdate dah.

Tidak bisa disalahkan sebenarnya mereka yang suka update aktivitasnya. Gue rasa setiap orang butuh perhatian. Terjunlah mereka ke media sosial. Dengan ngeshare momen kemudian momen itu di-comment, di-like atau di-love, mereka merasa wadah perhatian di hatinya itu perlahan terisi penuh.

Gue juga melihat bahwa keresahan manusia di era digital ini adalah sebuah eksistensi. Sebagian besar orang di media sosial itu sebenarnya ingin menunjukkan eksistensinya. Mereka perlu pamer agar eksistensinya itu diakui. Mereka juga ingin menunjukkan bahwa eksistensinya itu bukan sekadar mengurangi kadar oksigen doang di dunia ini.

Kalau dulu Rene Descartes pernah berujar Cogito Ergo Sum “Saya berpikir, maka saya ada!” maka zaman sekarang kalimat itu sudah berganti Saya main media sosial, maka saya ada!

Berbeda orang, berbeda juga cara menunjukan eksistensinya. Gue cenderung menunjukkan eksistensi gue, ya, dari tulisan-tulisan gue, terutama di blog ini. Bisa jadi sekarang di tulisan ini gue lagi caper aja.

Gue yang sekarang bukan orang yang suka ngasitau gue lagi ngapain saat ini, lagi di mana, lagi sama siapa. Maka dari itu, gue dan path merasa tidak cocok lagi. Dengan menguatkan segenap hati, kami berpisah. Gue pun menghapus akun path gue.

Gue juga tidak bermain snapchat atau vlog. Dua sosmed ini setipe ya, cuma mungkin snapchat versi pendeknya aja dan lebih tidak terskenario.

Ada 2 hal kenapa gue nggak bermain sosmed ini. Pertama, muka gue nggak videogenik. Kedua, kehidupan gue terlalu membosankan untuk ditonton.

Sebetulnya gue nggak pernah merasa bosan dalam melakukan aktivitas-aktivitas gue, tapi kalo aktivitas gue dijadikan tontonan, sudah pasti yang menonton bakal lebih memilih untuk pura-pura mati dibanding menonton video itu sampe abis.

Karena aktivitas reguler gue ya gitu aja. Bangun tidur
berangkat kuliah langsung pulang ke rumah buka laptop makan tidur. Setelah tidur, siklus diulangi dari awal. Begitu terus sampe Limbad jadi rapper.

Mungkin gue bakal mempertimbangkan buat bikin snapchat/vlog kalo aktivitas gue itu punya potensi untuk menarik viewer, semisal: Bangun tidur
sholat subuh Melatih anak cheetah di Taman Safari Madagaskar.

Beuh…

Masih banyak lagi jenis-jenis media sosial lainnya sebetulnya. Dan kemungkinan besar media sosial akan bertambah terus. Dari banyaknya media sosial, sebagimana yang sudah gue bilang tadi, gue memilih yang banyak faedahnya buat diri gue.

Argumen yang gue tulis di sini itu dari perspektif gue aja, setiap orang punya pandangan lain tentang media sosial yang dianut. Walaupun muaranya pasti bakal sama, yaitu sebuah eksistensi diri.

Dari semua media sosial yang ada sampe saat ini, gue masih menjatuhkan pilihan gue pada Twitter. Kalau kalian hanya bisa memiliki satu akun media sosial dalam hidup, dengan alasan dan segala pertimbangan, sosial media apa yang kalian pilih?


Kesesatan yang Lestari dalam Berbahasa Indonesia


Dilahirkan di negera Indonesia, bukan jaminan punya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak orang-orang Indonesia berlomba-lomba mempelajari bahasa asing, tapi mengabaikan bahasanya sendiri.

Disadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, pada prakteknya sehari-hari, masih banyak penggunaan bahasa Indonesia yang salah. Namun karena salah itu dilakukan terus menerus, jadi dalam pikiran kita hal itu udah tertanam menjadi sebuah kebenaran. Sama juga seperti kamu, kalau kamu benci aku secara terus-menerus, lama-lama mungkin benci itu bisa berubah jadi cinta.

APAAN~

Beberapa orang mungkin tau kesalahannya dalam berbahasa, tapi tidak memberitahu orang yang nggak tau. Beberapa mungkin nggak tau, tapi nggak mau cari tau. Beberapa mungkin mau cari tau, tapi nggak tau mau cari di mana. Kalo lo nggak tau harus cari di mana, lo sudah berada di tempat yang tepat.

Daripada lo semakin mual dengan pembukaan gue, langsung aja gue beritahu kesalahan-kesalahan umum yang sering gue temukan dalam penggunaan bahasa Indonesia.

1. Penulisan ke- dan di-

Penulisan "ke-" dan "di-" itu sebenarnya gampang-gampang mudah. Saking mudahnya, banyak orang yang nggak peduli dengan pengunaan ke- dan di-. Kadang gue jadi gatel-gatel sendiri kalo masih ada orang yang salah menggunakan ini.

Penulisan ke- dan di-, ada yang ditulis serangkai dengan kata dasar (imbuhan), ada pula yang terpisah dari kata yang mengikuti (awalan). Kalau mau tau "di-" atau "ke-" dipisah atau enggak, gampanya sih, kalau di- dan ke- yang merujuk pada suatu tempat atau waktu, berarti dia dipisah. Kalau yang sebagai kata kerja berarti disambung.

Kesalahan "di-" sebagai kata depan yang sering gue temui yakni dimana, diantara, disana, disisi. Itu semua salah. Karena sebagai penunjuk tempat seharusnya semua itu dipisah, jadi yang bener "di mana", "di antara", "di sini", "di sisi".

Contoh penulisan di- sebagai imbuhan dicintai, dicaci, disantet, digebukin, dsb.

Penulisan "ke-" juga lebih kurang sama, kalau ke yang menunjuk ke tempat/tujuan berarti ia dipisah. Misalnya yang bener itu “ke sana” bukan kesana, “ke mana” bukan kemana, dan lainnya.

Sedangkan ke- sebagai imbuhan contohnya kejedot, ketikung, keserempet, dsb.

Coba perhatikan spanduk ini.
Dari twitter @shamposachet
Bisa temukan kesalahan di spanduk tersebut?
Disekitar, seharusnya "di sekitar"
Disaat, seharusnya "di saat"
Silahkan, seharusnya "silakan"
Kedalam, seharusnya "ke dalam"

2. Pengejaan yang Salah

Kesalahan dalam pengejaan bukan sering dialami ketika kita menggunakan bahasa inggris aja, dalam bahasa Indonesia juga sering terjadi cuma mungkin orang-orang pada nggak sadar aja. Banyak orang juga menganggap salah eja itu bukan masalah berarti.

“Ah salah eja doang, lagian orang yang dengar atau baca juga bakalan ngerti apa yang gue maksud.”

Mungkin argumen itu benar. Kesalahan ini pun masih bisa dimaafkan kalo cuma buat nge-chat temen, nulis di blog atau di percakapan sehari-hari. Tapi kalo lo nulis karya ilmiah, media massa, atau barangkali suatu saat nanti lo jadi penulis pidato presiden, kesalahan kecil ini tidak bisa dimaklumi.

Seenggaknya lo sebagai warga negara Indonesia yang baik, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa, lo harus tau ejaan kata yang ejaan yang disempurnakan.

Berikut adalah daftar kata yang sering dieja salah. Yang di sisi kiri adalah kata yang bakunya.

“Napas”, bukan "nafas"
“Paham”, bukan “faham”
“Kecoak”, bukan “kecoa”
“Apotek”, bukan “apotik”
“Antre”, bukan “antri”
“Aktivitas”, bukan “aktifitas”
“Respons”, bukan “respon”
“Praktik”, bukan “praktek”
“Tolok ukur”, bukan “tolak ukur”
“Takhta”, bukan “tahta”
“Cendera mata”, bukan “cindera mata”

3. Penggunaan Tanda Baca

“Ayo makan anak-anak!”
“Ayo makan, anak-anak!”

Lihatlah bagaimana tanda koma bisa menyelamatkan nyawa banyak anak-anak tidak berdosa. Jadi penggunaan tanda baca itu vital banget dalam sebuah kalimat. Kalau tanda baca yang digunakan ngaco, bisa jadi pesan yang disampaikan penulis jadi rancu.

Kalo ini dari SD juga udah diajarin. Yang sering gue temui sebenarnya bukan kesalahan penggunaan tanda baca, akan tetapi cara peletakkan tanda baca.

Contoh:
A: Raisa, nyimeng yuk ?
B: Ayuk !

Apa yang salah?
Yak, peletakkan tanda tanya dan tanda seru yang didahului oleh spasi. Tanda baca dengan huruf terakhirnya seharusnya tidak diberikan jarak. Kenapa? Nanti takut kangen :’( hiks.

Masih banyak orang terjebak kesalahan ini. Gue perhatikan, bahkan banyak status-status media sosial temen gue yang nyatanya adalah seorang mahasiswa masih begitu.

Gue pun nggak luput dari dosa. Kalau lo liat postingan-postingan awal gue, gue juga nulis tanda bacanya begitu. Gue sengaja nggak membetulkan kesalahan itu, biar kalo gue baca-baca lagi, gue jadi inget bahwa gue juga pernah salah, dan itu menjadi motivasi gue untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Idih~

Tanda baca yang mau gue bahas selanjutnya yakni tanda hubung (-). Sebetulnya jarang gue menemukan banyak kesalahan di tanda ini. Niatan awal gue mau menjelaskan ini, berangkat setelah gue membuka blog temen gue, lalu hampir di setiap postingannya dia menggunakan tanda hubung semena-mena, yang mana hal ini membuat mata gue jadi mules ketika membacanya. Mari ditengok.



Lihat? Mules nggak lu bacanya? Mereka-mereka itu ditakdirkan hidup bersama. Orang jahat macam apa yang tega memisahkan huruf-huruf tak bersalah itu.

Tanda hubung digunakan pada situasi-situasi berikut ini:
  • Pemisah pada penggantungan baris
          Di malam yang dingin itu, Tarjo tak kuasa me-
          nahan cintanya pada Raisa lebih lama lagi.
  • Menyambung kata ulang
          Undur-undur, melihat-lihat, kehijau-hijauan
  • Pengejaan satu-satu dan bagian-bagian tanggal
          C-i-n-t-a
          27-03-1995
  • Se + huruf kapital | ke + angka | angka + -an
          Se-Depok, se-Timbuktu
          Ke-2
          Angkatan 90-an
  • Singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata
          Mem-PHK-kan, sinar-X
  • Nama jabatan rangkap
          Menteri-Sekretaris Negara
  • Merangkai unsur bahasa Indonesia dengan bahasa asing
          Di-tackle, di-service, di-smack

Setelah mengetahui fungsi-fungsi tanda hubung, apa tulisan temen gue tadi ada yang masuk kategori penggunaan tanda hubung? Tidak ada.

Coba lihat di contoh gambar tadi, ada yang gue lingkari dengan warna ijo. Itu juga kesalahan. Itu mungkin maksud si penulis adalah tanda pisah (−), yang mana seharusnya lebih panjang dari tanda hubung, tidak didahului dan diikuti spasi, huruf setelahnya bukan huruf kapital (kecuali memang kata yang wajib dikapitalkan). Kegunaannya pun berbeda dengan tanda hubung. Yang pengin tau, silakan cari di internet aja ya. Kepanjangan kalau saya jelaskan Pak, Bu.

4. Penggunaan Kata yang Salah Kaprah

Mulyono: “Kamu tau nggak? Selama ini, aku itu mengacuhkanmu!”
Ningsih: “Kamu jahat, Mulyono. Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”
Mulyono: “Lho kok…”

Apa yang salah dengan perkataan Mulyono kepada Ningsih? Padahal Mulyono merasa sudah menyampaikan perasaannya dengan tepat, tapi mengapa Ningsih malah nggak mau ketemu Mulyono lagi?

Yang menjadi asal-muasal permasalahan mereka adalah penggunaan kata “acuh”. Yang berkembang di masyarakat, kata “mengacuhkan” disamakan dengan kata” mengabaikan”. Padahal artinya itu sebaliknya. Menurut KBBI, arti kata acuh sejatinya adalah peduli; mengindahkan.

Contoh lainnya mudah ditemukan di lagu Indonesia, salah satunya ada di lagu Once.

Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah
Perasaanku…
Kepadamu…~

Di lagu itu ada 2 kesalahan. Pertama kata acuh yang disononimkan dengan abai, seperti yang gue bilang sebelumnya. Acuh itu artinya peduli. Peduli! Inget ya.

Kesalahan kedua yaitu kata “merubah”. Kata “ubah” yang diberikan imbuhan me- seharusnya jadi mengubah, bukan merubah. Merubah mah binatang.

Itu baru di satu lagu, belum lagi masih banyak lagu-lagu Indonesia yang melakukan kesalahan itu. Padahal kan lagu itu kan mempunyai kekuatan yang luar biasa di ingatan manusia. Lagu yang kita denger 10 tahun yang lalu pun, masih bisa kita inget dengan jelas. Kalau lirik lagunya menyampaikan kesalahan, tentu kesalahan itu juga bakal tersimpan di otak kita bertahun-tahun.

Kata yang salah kaprah selanjutnya adalah Anarkis. Di berita-berita, kalau ada tindakan perusakan, biasa menyebut dengan kata anarkis. Misal “Sopir taksi konvensional melakukan tindakan anarkis dalam demo besar-besarannya di Jakarta.”

Kalau dibaca sepintas, keliatannya sih bener. Namun coba kita jabarkan arti anarkis sesungguhnya menurut KBBI.
Anarki n 1 hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; 2 kekacauan (dl suatu negara)

Anarkis n 1 penganjur (penganut) paham anarkisme; 2 orang yg melakukan tindakan anarki

Anarkistis a bersifat anarki
Sudah ada gambaran jawaban yang tepat?

Di contoh kalimat yang tadi “Sopir taksi konvensional melakukan tindakan anarkis dalam demo besar-besarannya di Jakarta”. Tindakan anarkis di situ kan maksudnya tindakan (yang bersifat) anarki, sedangkan anarkis arti sebenarnya adalah orang yang melakukan tindakan anarki (pelakunya), jadi yang benar seharusnya tindakan anarkistis.

Hal ini sama kasusnya dengan kata “optimis”. Mari kita lihat contoh salah yang kerap diucapkan orang-orang.

“Lo harus optimis, Mul. Lo pasti bisa mendapatkan hati Ningsih lagi.”

Sekarang mari kita jabarkan arti dari kata optimis
Optimis n orang yg selalu berpengharapan (berpandangan) baik dl menghadapi segala hal

Optimistis a bersifat optimis; penuh harapan (tt sikap)
Yang benar mestinya "Lo harus optimistis, Mul." Jadi, seorang optimis itu pasti memiliki sifat optimistis. Karena Mulyono optimistis, maka dia bisa dipanggil optimis.

Salah kaprah lainnya adalah kata Seronok. Mari lihat gambar berikut ini.

diambil dari liputan6.com
Dari gambar tersebut, apa kesimpulan yang lo ambil dari arti kata seronok?
Tidak sopan, mengumbar-umbar aurat, pokoknya negatif deh ya. 
Ini termasuk kata yang mengalami pergeseran makna. Arti sesungguhnya dari seronok yaitu menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb). Jadi kalo lo pergi ke pesta atau acara lainnya, pasti lo memakai pakaian yang seronok. Kalo ada orang yang nyuruh lo nggak pake pakaian yang seronok, berarti dia nyuruh lu pake pakaian layaknya seorang gepeng.

Itulah beberapa kesesatan yang dilestarikan di masyarakat. Di sini gue nggak bermaksud untuk menggurui. Dekat dengan dunia penulisan dan terjun di jurusan sastra membuat kemampuan ilmu berbahasa Indonesia gue semakin meningkat. Gue juga bukan ahli bahasa, cuma pencinta bahasa aja. Barangkali ada tulisan gue yang khilaf tolong dibenarkan, atau kalau ada yang mau menambahkan sangat diperbolehkan.

Jadi apa lo termasuk salah satu orang yang melakukan kesalahan-kesalahan di atas? Setelah lo tau kesalahan-kesalahan itu, masih mau mengulangi kesalahan yang sama?
Berat banget nggak sih buat memperbaiki kesalahan kita berbahasa?
Enggak lah ya… berat ajah.
Berat banget mah…. ngajarin Limbad baca puisi.

Waanjirr~

Semoga tulisan saya ini bisa membantu. Saya doakan orang-orang yang masih tersesat hidupnya dalam berbahasa Indonesia diberikan pencerahan, jalannya diluruskan, dan dosa-dosanya bisa diampuni oleh Yang Maha Kuasa.