Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Untuk Perempuan Yang Mencintai Senja


illustration from here

27 Maret 2014
Untuk perempuan yang mencintai senja


Hai Zefanya, bagaimana kabarmu ? semoga kamu bahagia karena seharusnya memang begitu. Percaya atau tidak, kesedihanmu adalah mimpi buruk bagiku, jadi walaupun kita sudah tidak bersama lagi kamu harus tetap bahagia dengan hidupmu.
            Apakah kamu masih suka bercerita pada senja ? hobi kamu ini kadang memang aneh.
            Aku ingin sedikit bernostalgia di surat ini, Fa. Tidak apa-apa kan ?
Kamu ingat ketika pertama kali kita bertemu ? di sebuah pantai yang indah di Bali, di Kuta. Kamu sedang duduk sendirian menatap senja. Menatap serius kepadanya seakan akan kamu sedang bercerita kepada senja. Sesekali kamu menutup mata, menghirup udara kuta yang damai, lalu menghembuskannya bersama semua masalahmu. Setelah itu bibirmu langsung menggoreskan senyuman. Setidaknya itu yang kulihat, tidak tahu benar apa yang kau rasakan
Tanpa kamu sadari aku mengambil gambar dengan kamera DSLR ku. Dan aku mendapatkan candid shot yang sangat sempurna. Saat kita pacaran aku belum pernah menceritakan padamu, karena aku tau ini kurang sopan memfoto orang tanpa meminta izin hehehe
Setelah itu aku mendekatimu, memberanikan diri mengeluarkan kata untuk menyapamu

“sedang apa ?” aku bertanya

“tidakkah kau lihat ?” jawabmu datar

“menatap senja ?”

“benar. Lebih tepatnya mencurahkan hati pada senja”

“bagaimana bisa ?”

“susah dijelaskan, yang pasti senja tidak akan pernah berdusta”

            Senja tidak akan pernah berdusta. Itu perkataanmu yang tak pernah aku lupakan. Kadang aku menganggap mencurahkan hati pada senja adalah hal bodoh, tapi bodohnya lagi aku mulai percaya dan terkadang sekarang aku melakukan tindakan yang sama, mencurahkan hati pada senja. Seharusnya kamu tanggung jawab Fa atas hobi baruku ini.
            Aku masih tenggelam dalam pikiranku yang berusaha memahami perkataanmu. Bagai angin yang tiba-tiba menghempas gordeng jendela, aku teringat bahwa aku belum mengetahui namamu.

“oh iya kita belum kenalan” aku mulai bertanya disaat kita sedang sama-sama menatap senja          

“iya ya, namaku Zefanya”

            “aku Bintang”

            “seperti nama perempuan” kamu tersenyum simpul. Itulah kali pertama aku melihat senyumanmu yang ternyata dapat menenggelamkan dalam lautan kebahagian yang membuatku harus menahan napas sejenak.
Kamu melanjutkan perkataan “maaf ya, aku hanya bercanda”

            “tidak apa-apa, lagipula kamu bukan orang pertama yang bilang begitu”

Jujur, sejak pertemuan pertama kita saat itu aku langsung jatuh cinta padamu, Fa. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda yang tersimpan dalam dirimu. Berbeda dengan kamu yang tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, seperti yang pernah kamu bilang.
            Aku mulai mendekatimu dengan sekedar mengajak makan siang bersama atau menonton film di bioskop. Pertemuan kita pun semakin sering. Cinta di dalam diriku semakin liar dan tidak terkendali. Aku menyatakan cinta tepat di Kuta pada saat langit sedang senja. Karena menurutmu senja itu tak pernah berdusta. bukankah begitu, Fa ?
            Tahukah kamu, Fa ? Itulah saat-saat paling bahagia dalam hidupku, bisa menemukan orang yang palingku cinta. setelah aku menyatakan cinta, kamu menerimaku walaupun sebenarnya kamu bilang terlalu cepat. Lalu kita saling menjaga dan berbagi cerita, berbagi cinta. cinta yang tidak akan ada akhirnya, menurutku.
            Tangan kita saat itu sudah tidak mempunyai celah, bergenggam dengan erat. Aku ingat sekali hal-hal konyol yang sering kita lakukan. Ini juga yang membuatmu berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah aku kencani.
Ini yang paling aku ingat, Fa. Waktu itu, saat kita sedang berjalan jalan di sebuah mall, kamu menyuruhku menukar tas yang kita bawa. Kamu membawa tas selempang punyaku dan aku membawa tas jinjing punyamu. Ah…aku terlihat seperti seorang waria pulang kerja mungkin kala itu, Fa. Aku berusaha menahan malu sepanjang mall, kamu hanya tertawa terbahak-bahak. Tapi rasa malu itu seakan sirna ketika melihatmu tertawa lepas. Pada akhirnya akupun jadi ikut tertawa dan tidak mempedulikan apa yang dilihat orang-orang sekitar. Selanjutnya aku mengikuti saja permainanmu yang konyol-konyol. Yang penting bagiku adalah kamu senang Fa.
Tepat di bulan ke 3 kisah cinta kita berjalan, kamu mengajakku berjalan-jalan menyusuri pesisir Kuta. Lagi-lagi Kuta, dan lagi-lagi di kala senja, Kurang lebih pukul 6 Waktu Indonesia Bagian Tengah saat itu. Matahari sudah mulai masuk ke peraduannya. Selama berjalan menusuri pantai kaki kita disambut ombak-ombak kecil. Aku dan kamu terus berjalan tanpa berkata satu patah kata pun.
Kamu terus saja berjalan menunduk, tanpa aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Aku sudah merasa ada yang berbeda, semenjak satu minggu belakangan itu kamu jadi pendiam.
Tiba-tiba kamu terlihat seperti sedang mengeluarkan air mata, aku bingung. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku mulai mencoba menghancurkan keheningan diantara kita

“Zefanya, kamu menangis ?”

            “ tidak kok” kamu menyeka matamu dengan tanganmu

            “sudahlah kamu katakan saja apa yang membuatmu menangis”

            Kamu terdiam

            “Fa ?”

            Tangismu makin menjadi, air mata mulai mengalir membasahi pipimu. Aku merangkulmu. Kamu menangis didalam rangkulanku. Sungguh, melihat kamu menangis sama rasanya seperti hatiku sedang diiris-iris pisau belati, Fa.
            Akhirnya kamu menghindar dari rangkulanku, membasuh air matamu, dan menguatkan diri untuk berbicara padaku. Aku sudah merasa ada yang tidak beres disini

            “Bintang ?” kamu akhirnya mulai bicara

            “ya, Fa ?”

            Kamu terdiam lagi. menghirup napas panjang dan menghempaskannya berkali-kali

            “Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini, kamu tidak perlu lagi mencari atau menghubungiku”

            Sentak aku terkejut, tidak percaya dengan apa yang telah aku dengar. Irama ombak yang menenangkan sudah bukan lagi yang kuharapkan. Pikiran bodohku berharap bahwa tsunami langsung datang menghempas kita dan membawa kita ke lautan yang luas. Mengabadikan hubungan kita di alam lain.

            “mengapa Fa ? apakah aku melakukan kesalahan” aku bertanya, pertanyaan yang dibalut dengan emosi yang mendalam

            “tidak tidak. Ya cuma kita harus melakukannya, setidaknya untuk sementara”

            “sementara ? sampai berapa lama ?”

            “aku tidak tahu”

            “sebenarnya ada apa Fa ? katakan saja”

Kamu memejamkan mata. Aku melihat kamu seperti sedang mencoba mencari kata-kata yang tepat di udara

“selama ini aku menganggapmu seperti mantan tunanganku dulu. wajahmu sedikit banyak kemiripan, bahkan bukan hanya itu, caramu berbicara, intonasi bahkan sifatmu yang sering mengecap lidah sebelum bicara, itu semua yang membuat kamu mirip sekali dengannya. Aku mencoba membuatmu melakukan tindakan-tindakan konyol yang dulu pernah aku lakukan bersamanya”
Kamu memberi jeda sejenak lalu menarik napas panjang “Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau aku masih belum bisa melupakan mantan tunanganku. perasaan ini sungguh membingungkan, Bi. jadi sebaiknya kita berpisah dulu”

            Setelah mengucap itu kamu menunduk, tidak lagi menatap mataku. kamu mendekatkan bibirmu yang sudah dibasahi air mata dan mencium pipiku. Kemudian kamu berbisik pelan 
“maafkan aku Bintang”
            kamu berlari menjauh, dan mengisyaratkan untuk tak mau aku mengejarmu
            Itulah terakhir kali aku melihatmu, Fa.
Sudah 2 tahun kita tidak bertemu tapi hebatnya aku masih mengingat semua hal itu ya. Aku tidak tau apakah kamu masih mengingatnya atau tidak
Surat ini aku tulis di pantai Lovina. Tepat 1 hari setelah kamu mengirimkan paket ke alamat apartemenku di Ubud. Pekerjaan membuat aku singgah disini untuk sementara
            Aku memang sedikit kaget saat membuka paket yang kamu kirimkan. paket yang berisi sepucuk surat dan sebuah undangan pernikahan. tapi aku menyadari ini yang terbaik buat kamu, buat kita.
            Akhirnya kamu sekarang sudah menemukan kebahagianmu di Bandung, seseorang yang bisa kamu cintai dan mencintaimu. Selamat ya atas pernikahanmu yang akan kamu langsungkan 2 minggu lagi. maaf aku tidak bisa datang, bukan karena aku marah, cemburu atau semacamnya, pekerjaanku di Ubud tidak bisa ditinggalkan. Kamu tahu sendiri bosku yang galak dan terkadang mengeluarkan api ketika berjalan. Dulu dia juga yang sering merusak kencan kita. Jadi sekali lagi aku minta maaf tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Disini aku tetap mencintaimu, sebagai sahabat.
Oh iya, di sepucuk surat itu kamu mengucap kata “maaf” mungkin lebih dari 20 kali ya ? hahaha. Ayolah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu, Tuhan yang telah merencanakan semuanya. Ini adalah takdir yang sudah digoreskan oleh Tuhan, aku harus melewatimu dulu dan kamu pun sama, untuk mendapat seseorang yang lebih baik di akhir garisnya.
Dulu aku menganggap kalau cinta tak harus memiliki adalah omong kosong belaka. Tapi kini ketika aku berada pada posisi itu, aku menyadari bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang bisa melihat cintanya bahagia. Bersama atau tanpa dia.
            Zefanya, berjanjilah padaku kamu harus terus bahagia bersama seseorang yang sudah menjadi pilihanmu. janji ?
Terimakasih telah mengisi hari-hariku selama ini


Seorang yang kini mencintai senja



Bintang

Seperti Mimpi

Seperti Mimpi

Bel sekolah sudah berbunyi 3 kali. itu menandakan sudah tepat jam 7 pagi. Siswa kelas 11 ips 1 sudah duduk di bangkunya masing-masing. Mereka bercakap-cakap dengan temannya selagi menunggu guru datang. pintu gerbang sudah akan ditutup oleh satpam yang bertugas. Saat pintu gerbang hampir tertutup sepenuhnya seorang murid perempuan datang dengan terengah-engah.

“pak, sayahh belumhh terrlambat kanhh ?” perempuan itu bicara dengan terengah-engah

“haduh kebiasaan deh kamu mah sher”

“maapph pakh he he” balas sheril, masih dengan nafas terengah-engah

“yaudah masuk atuh cepet, mau babe kunci nih”

Sheryl melanjutkan larinya menuju kelas. Kelasnya ada di lantai 3. Saat sudah dekat dengan pintu kelas, guru yang akan baru saja menginjakkan kaki kanannya ke dalam kelas. dia pun terlambat walaupun hanya terpaut beberapa langkah di belakang guru. Guru yang mengajar adalah guru bahasa Indonesia namanya bu Susi. Termasuk guru yang terkenal seram dan galak saat mengajar. saat di masuk semua murid yang tadinya sedang rebut-ribut langsung diam seketika. Mampus deh gue, ucap sheryl. Jantungnya kini sedang berdegup kencang

“pa..pa..pagi buu” sapa sheril dengan Gugup

“kamu lagi, kamu lagi. berikan satu alasan yang tepat agar ibu tidak menghukummu berdiri di depan kelas”

“saya telat karena saya bermimpi sedang bernyanyi di atas panggung konser yang besar bu”

“lalu apa masalahnya?”

“ketika saya menyanyikan lagu terakhir, para penonton malah teriak we want more! we want more! Alhasil saya nyanyi lagi, eh pas kebangun udah jam 7 kurang 15 menit bu” jawab sheryl dengan bercanda. Berharap guru tertawa dan membebaskannya dari hukuman

mendengar jawaban itu semua murid tertawa, termasuk bu Susi. Bu susi tidak tertawa lepas, hanya ada senyum kecil tergambar di bibirnya. Ini jarang sekali terjadi seorang guru galak bisa tersenyum seperti itu. sheryl berpikir dia telah memenangkan hatinya. Benar saja, dengan wajah yang masih tersenyum bu Susi menyuruh Sheryl segera duduk di bangkunya dan dia memulai pelajarannya


                                                            ***

Jam 10 siang bel berbunyi, menandakan jam istirahat. Eriska, teman sebangku Sheryl mengajaknya pergi ke kantin. Mereka membicarakan tentang pentas seni yang sebentar lagi diadakan di sekolahnya dalam rangka ulang tahun SMA 2
           
“Sher, lo nonton pensi kan ?” Eriska membuka pembicaraan, sambari berjalan menuju kantin

            “gatau nih, males kayanya”

            “yang bener aja sher, lo bakal melewatkan sesuatu yang istimewa”

            “apaan emangnya ?”

            “dia bakal tampil sher, dia!” Eriska berkata dengan antusias. Yang sepertinya nada antusias itu tidak tertangkap oleh Sheryl

            “dia siapa si Ris ?” Tanya Sheryl bingung

            “itu lho kakak kelas paling kece sejagad raya, kak Boy!”

Sheryl baru inget akan hal itu. Boy adalah seorang pemuda tampan yang banyak disukai oleh gadis-gadis di sekolahnya. Tentunya Sheryl merasakan yang sama. Mulai dari teman-teman seangkatan maupun adik kelas dibawahnya. Bagaimana tidak disukai ? wajah tampan dengan sosok sedikit orientalnya. Hidung elok dan proporsional belum lagi dipadukan dengan sikap pendiamnya membuat sosoknya semakin terlihat keren. Tidak heran dia biasa dijuluki gebetan sejuta umat.

Sheryl bukanlah wanita yang suka menyatakan isi hatinya. Dia agak gengsi jika ditanya tentang pemuda yang dia sukai. Termasuk dengan yang ini, Boy. dia tidak pernah mengatakan siapapun kalau dia suka pada Boy bahkan tidak pernah mengatakan ada teman baiknya Eriska. Lagi pula dia merasa tidak perlu menunjukkannya karena sudah banyak juga yang suka dan terang-terangan mengagumi Boy
Diapun mengendalikan perasaannya dan hanya membalas dengan datar “oh dia”

“udah gitu doang ekspresinya ?” balas Eriska

“ya terus gue harus gimana Ris ? gue harus bilang wow sambil jedotin pala ke tembok gitu ?"

“ga gitu juga. Emangnya lo ga ada perasaan apa-apa sher ke dia ? kan hampir semua cewe suka sama dia”

“engga, biasa aja ah”

Di kantin, mereka berdua memesan makanan dan minuman yang sama, nasi goreng dan es teh manis. Tidak butuh waktu lama, makanannya sudah berada di atas meja. Ketika ia sedang menikmati makanan sambil mengobrol, seperti anak perempuan biasa lakukan. ternyata mereka tidak sadar bahwa ada seorang lelaki yang lebih dulu duduk di sebelahnya. Lelaki itu adalah lelaki gebetan sejuta umat, Boy

Setelah menyadarinya, Eriska pun langsung menyapanya. Sheryl inget menyapanya juga, tapi ngengsi lebih memenangi hati dia. Boy membalas dengan tenang dan tersenyum kecil. Senyum yang bisa menaklukan wanita-wanita di dekatnya.

Pelajaran terakhir adalah pelajaran sejarah. Pelajaran yang menurut Sheryl tidak jauh berbeda dengan dongeng anak sebelum tidur. Ketika guru menerangkan tentang sejarah tangan Sheryl sudah disilangkan di atas meja, badanya ditegakkan, dan berusaha memperhatikan guru. Keadaan itu tidak bertahan lama. Beberapa menit kemudian badannya yang tadi tegap dan mata memperhatikan guru, sedikit demi sedikit merunduk bagaikan padi yang mulai berisi. Sheryl tertidur.

***
           
            “Sher, lo pulang naik apa?”
            
            “naik angkot, kenapa ?” Sheryl sedang berjalan pulang ketika Boy memanggilnya di parkiran. Untuk berjalan keluar atau masuk sekolah memang harus melewati tempat parkir dahulu. Yang tidak biasa adalah….Boy menyapanya!
            
            “bareng gue aja mau ngga ?” kata Boy
            
            “emangnya gapapa ?”

“ya gapapa, emangnya kenapa ?”

Kejadian kedua yang tidak biasa, sekarang Boy mengajak Sheryl pulang bareng. Tidak ada sebelumnya di pikiran Sheryl sama sekali.

Di perjalanan mereka saling mengobrol. Entah mengapa Sheryl sangat nyaman sekali bercerita dengan Boy. Padahal baru kali ini dia saling berinteraksi berdua saja seperti ini dengan Boy. Sheryl pun tidak sungkan menceritakan kehidupan pribadinya yang biasanya dia hanya membagi bersama teman-teman wanitanya. Boy yang terlihat dari luar pendiam ternyata jika sudah mengenalnya orangnya sangat asik sekali, batin Sheryl.

Boy mengajak Sheryl untuk jalan-jalan di taman sebelum pulang ke rumah, Sheryl pun mengiyakan tawaran Boy. Sekali lagi kejadian yang tak terduga, Sheryl diajak ke taman bersama Boy. dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa hari ini aku beruntung sekali ya, padahal semalam dan sekarang ngga ada kejadian yang aneh. Semalam aku hanya tidur hingga larut untuk main gitar dan pagi harinya hampir telat masuk sekolah.

Kemudian, motor CBR merah itu berhenti di sebuah taman kota. taman yang sudah jarang dapat di temui di kota Jakarta ini. pohon-pohon rindang membentang indah di setiap sudut taman. Di tengah-tengah taman pun terdapat air mancur yang semakin memperindah taman

“kenapa lo ngajak gue kesini, boy ?” Tanya Sheryl sembari mereka berjalan menyusuri jalanan taman

            “gue pengen nunjukkin aja ke elo, kalo ini tempat favorit gue di kota ini. kalo lagi bosen biasanya gue kesini. Sekedar dengerin musik sambil memandangi pemandangan sekitar. Dan gue biasanya suka duduk di bawah pohon kelapa yang disana itu” boy menunjukkan arah pohon kelapa yang berdiri tegak paling tinggi

Sheryl sebenarnya bingung mengapa ada 1 pohon kelapa yang menjulang tinggi sendirian. Keberadaannya seperti seekor kawanan rusa yang kehilangan rombongannya. Aneh sekali.

taman itu begitu sepi. Tidak ada satu orang pun berlalu-lalang. Seperti sudah di takdirkan saat itu taman hanya untuk Sheryl dan Boy saja.

mereka duduk di bawah pohon kelapa itu, bersandar pada batangnya. Keduanya memandangi langit untuk beberapa saat. Di langit, awan bergerak dengan perlahan dari timur ke barat. Tiba-tiba Sheryl menyadari, tangan boy menggenggam tangannya. tangan yang halus dan penuh kehangatan

genggaman tangan Boy semakin erat. Keduanya membisu, tanpa bertukar kata saling memegang tangan di bawah pohon kelapa yang menjulang itu. 

“sher gue boleh ngomong sesuatu ga ke elo ?” ucap boy memecah keheningan diantara mereka berdua

            “ngomong apa ?”

            “sebenarnya gue itu dari dulu sering merhatiin lo…” Boy menatap mata Sheryl lebih dalam. Dan sekarang ia memegang kedua tangan Sheryl. Kini mereka saling berhadapan. Itu membuat Sheryl menjadi gugup. Jantungnya kini berdegup tidak karuan. Dia mulai tau kemana arah pembicaraan Boy.

            “setiap deket lo jantung gue pasti berdetak kencang”

            “sher, lo mau ga….? Boy terlihat gugup, bibirnya meriak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan.

sheryl yang sudah mengetahui arah pembicaraannya kemana, langsung membatin, Ayo boy katakan saja, katakan!

            “Lo mau ga jadi…”

Sebelum Boy mengatakan maksudnya, tiba-tiba sebuah kelapa jatuh dari pohonnya. Sheryl sempat menengok sebentar, namun jarak yang sudah dekat dan kecepatan kelapa itu tidak memungkinkan Sheryl untuk menghindar. Kelapa itu pun mengenai kepala Sheryl.

Taman, pohon kelapa, langit yang cerah dan bahkan Boy seketika hilang dari pandangan. Sejenak pandangannya hanya putih di setiap sudut. Pemandangannya Sheryl semua berubah, kini hanya terlihat papan tulis, meja belajar, dan teman-teman yang memandang ke arahnya.
           
“Cieee si putri tidur udah bangun” ucap salah seorang teman Sheryl

Sheryl memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Dia menemukan penghapus papan tulis yang ada di mejanya. Hantaman kelapa tadi ternyata adalah sebuah penghapus papan tulis yang dilemparkan oleh guru sejarah.

“sudah puas tidurnya, Sheryl ?” ucap sang guru

Ah sial, ternyata itu semua hanya mimpi. tapi bukankah semua yang kita impikan itu berasal dari mimpi. Sheryl tersenyum.

Sepasang Mata


pict from here

benda itu bersinar terang,
sendirian, di kesamaran malam
laksana cahaya di ujung goa

bukan, bukan bulan purnama!

sinarnya semakin terang
membangunkan dari kegelapan
tak mampu ditatap terlalu lama

bukan, bukan matahari!

kau tahu itu apa?
itu hanya sepasang mata!
sorotan mata dalam, yang mampu membuat setiap orang tenggelam di dalamnya
tatapan mata tajam, yang mampu menusuk-nusuk hati penikmatnya
matamu...

Kereta Terakhir





Aku meminta Asep, salah satu petugas office boy di kantor untuk membuat pesanan lemburku seperti biasa. segelas kopi hitam small size dengan 2 sachet gula bebas kalori dan diberikan sedikit susu. Orang di kantor sudah sepi. di lantai 13, tempat dimana aku bekerja hanya tinggal aku, Asep, satpam dan detak jarum jam yang menemani di kesunyian malam. Hari ini aku harus lembur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. petugas penjaga bilang bahwa ia akan mengunci kantor tidak lama lagi. Aku pun memutuskan untuk pulang dan meneruskannya di rumah, lagipula tugas ini tinggal sedikit lagi akan selesai. Aku berjalan menuju stasiun kereta yang berada tidak jauh dari kantor. sehari-hari aku memang lebih menyukai naik kereta dibandingkan membawa kendaraan pribadi. Sebenarnya kalo boleh jujur aku juga tidak punya kendaraan pribadi, memang naik kereta lah satu-satunya transportasi untuk akses dari kosan kekantor dan kantor ke kosan.

Aku berjalan sendirian di kegelapan malam. Bulan purnama memberikan sinarnya yang paling mempesona, tidak lupa ditemani beberapa bintang indah bertebaran, sesekali angin malam berhembus untuk mendinginkan suasana. Aku pun mengencangkan jaket. Sesampainya di stasiun aku langsung membeli tiket menuju stasiun Juanda. Menaiki satu per satu anak tangga dan menuju peron penungguan kereta. hanya ada sedikit orang yang menaiki kereta terakhir ini. maklum saja ini sudah jam 11.15 siapa juga orang yang mau bekerja selarut ini. hanya orang bodoh yang rela menghabiskan waktunya di kantor hingga jam segitu. lebih baik juga di rumah bercengkrama dengan keluarga atau teman. tunggu dulu, aku bilang tadi orang bodoh ya ? berarti aku salah satu orang bodoh tersebut dong. ah sial

Di sekeliling hanya terlihat bapak-bapak dengan muka kelelahan menunggu kereta. tidak ada senyum atau obrolan basa-basi yang biasa orang dewasa lakukan. Aku melihat satu per satu wajah mereka. Ketika aku melihat ke ujung stasiun tatapanku berhenti. Wow! aku tak menyangka ada sesosok wanita cantik disana. lebih tepatnya di ujung peron stasiun. kecantikan wajahnya bagai kapas tanpa noda. bersih. putih. bibirnya tergambar indah di raut wajahnya. matanya menatap kosong ke arah rel kereta. aku menerka umurnya masih sekitar 25 tahun atau mungkin 24. Tidak, tidak, kurasa 23 tahun karena terlihat ia masih muda sekali. aku bisa tebak dia adalah wanita karir, karena dia masih mengenakan setelan kantor yang masih rapih seperti abis disetrika. jarak pandangku ke dirinya memang tidak begitu dekat dan aku melihat hanya tampak samping, namun aku bisa melihat dan merasakn jelas ke elokan dirinya

Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Entah mengapa dengan menatapnya memberikanku kesejukan. Sosoknya bisa membuat para lelaki melupakan masalah yang ada pada dirinya saat memandanginya.

Tidak beberapa lama kemudian suara klakson kereta berbunyi menandakan kedatangannya. Wanita itu pun naik ke gerbong paling depan tempat gerbong khusus wanita berada. Sedangkan aku masuk ke dalam gerbong tengah. berakhir lah pertemuanku dengan wanita cantik itu.

Kereta sudah menghentikan rodanya di stasiun juanda. aku menuruni kereta itu dan berjalan menuju kosan. Aku satu kost bersama Edie, teman sekelasku waktu SMA. kami sering membagikan cerita satu sama lain. mulai dari cerita tentang kerjaan, hobi, bahkan wanita. aku akan menceritakan pertemuanku dengan perempuan cantik tadi.

“di, lo tau ga tadi gue ketemu sama cewe cakep banget ?” aku membuka pembicaraan

“bosen ya gue denger lo ngomong gitu, udah berapa ribu cewe lo bilang cakep yu ?” jawab Edie dengan nada acuk tak acuh.

“hmm berapa ya ? gue juga gatau. tapi serius yang ini beda banget”

“beda gimana ?”

“ya beda aja, gue ngerasa dia cewe paling sempurna banget”

“sempurna itu cuma milik Allah sama andra & the backbone doang yu” ia tertawa kecil, tawa yang tersimpan ledekan dibaliknya

“ah ngelawak mulu lo kaya komeng, pokoknya nih ya besok gue bakal ngajak kenalan dan minta nomornya”

“dasar playboy”

                                                                ***

kring!kring!kring!
Suara alarm berbunyi memecah keheningan di pagi hari. Matahari bersinar cerah. Aku sangat bersemangat hari ini tentunya karena aku akan bertemu wanita misterius itu lagi. Seperti biasa aku menuju kantor naik kereta. beratus-ratus orang berkumpul dalam satu gerbong. Pastinya akan berdesak-desakan, saling berbagi lapak, dan menyesuaikan keseimbangan agar tidak jatuh. Pagi hari memang ramai-ramainya semua sarana transportasi. Apalagi yang menuju Jakarta kota seperti yang aku naiki ini. Semua bertujuan ke Jakarta. Sampe-sampe aku sudah lupa kapan terakhir aku duduk di dalam kereta pada pagi hari. Lupa atau mungkin memang tidak pernah.
Di kantor aku terus terbayang wajahnya. Tidak sabar untuk bertemu dia lagi nanti malam.

Kali ini, aku tidak ada lembur. Jam 9 aku sudah boleh pulang tapi rasa penasaranku terhadap wanita misterius (nama untuk wanita semalam yang aku berikan) itu berhasil membuatku rela menunggu 2 jam. Tapi aku tidak keberatan hal itu. Untuk membunuh waktu aku memilih untuk membuat kopi di pantry sambil berbincang-bincang dengan Asep.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Aku berpamitan kepada Asep dan berjalan menuju stasiun. Sesampainya di stasiun aku langsung membeli tiket menuju stasiun Juanda. Menaiki satu per satu anak tangga dan menuju peron penungguan kereta. Kulihat ke sekitar. Dan kembali kulihat wanita itu, wanita misterius yang penuh dengan pesona. dia tidak bersuara. Tatapannya lurus dan tidak menampakkan ekpresi. Bibirnya selalu tertutup rapat membentuk garis lurus. aku berusaha menghampirinya. Berjalan sedikit demi sedikit, namun tidak tahu kenapa aku tidak bisa melanjutkan langkah lagi. Langkahku seperti berat sekali untuk melanjutkan ke langkah selanjutnya. alhasil aku hanya bisa melihat nya dari jarak kurang lebih 50 meter.

Padahal kemampuanku mendekati wanita tidak usah diragukan lagi. Jika ada wanita yang kukagumi biasanya aku langsung mendekatinya, mereka pun biasanya memberikan respon yang positif. Aku sendiri belum pernah ditolak oleh seorang wanita. Pernah suatu hari aku bertemu dengan seorang wanita namanya Dhira di toko buku, kami berkenalan dan berlanjut ke telponan lalu berlanjut menjalin hubungan. Kemudian si Vina yang kutemui di bis dan kemudian menjalin hubungan. Belum lagi si Clara, Dhifta, dan berbagai wanita lainnya. Tapi mengapa wanita yang satu ini sangat sulit untuk didekati

Barangkali wanita ini memang jodohku. Makanya aku harus berusaha lebih keras untuk mendekatinya

                                                               ***

Sudah 6 bulan terakhir ini aku belum memulai hubungan lagi. Aku bosan pasti ujung-unjungnya putus juga. Semua yang indah di awal belom tentu akan sama di akhir. Tapi mungkin sekarang aku sudah menemukan calon yang tepat. Mungkin.
Sesosok wanita misterius yang setiap malam berada di stasiun Jakarta Kota. Malam ini akan menjadi pertemuanku yang ketiga dengan wanita misterius itu. aku akan memberanikan diri untuk mendekatinya dan bilang “hai, gue bayu. Tenang aja lo ga perlu takut gue bukan orang jahat kok gue cuma pengen kenalan aja. Nama lo siapa ? kok malem-malem sendirian ? ga baik kali wanita pulang malem sendirian, gue temenin aja ya?”
Tapi kenyataannya, Setelah berada di stasiun dan melihat wajahnya semua kata-kata yang aku sudah siapkan terbuang begitu saja. aku masih berada di tempat yang sama. Tidak maju. Tidak mundur. Tidak lama kemudian kereta terakhir datang. Dia naik di gerbong khusus wanita. Berakhir kembali pertemuanku dengan dia

Setibanya di kosan, Edie belum tidur. Dengan nada sedikit meledek ia bertanya kepadaku

“gimana udah dapet nomornya ?” Edie mengeluarkan senyum mesem-mesem meledek seperti sudah tahu jawaban yang akan aku berikan

“menurut lo gimana?” aku menjawab dengan jengkel

“menurut gue sih…belom! Haha”

“jangan ngeledek deh lo. Di, beneran nih ya kayanya langkah gue buat ngedeketin dia kok berat banget ya ? padahal lo tau sendiri kan gue itu gampang banget ngedektin cewe”

“langkah lo berat yu ? mungkin isi tas kebanyakan kali tuh”

“sialan lo! Serius gue di”

“lagian berat gimana si. Lo tinggal deketin, kenalan, lo minta deh nomornya. Simple kan ?”

“teori si emang simple, prakteknya itu yang rumit”

“gausah lah lo merumitkan hal yang sederhana. Lo coba lagi deh besok”

                                                            ***

Hari-hari selanjutnya terulang terus-menerus tanpa kemajuan. Tersiksa ku dibuatnya. Sudah 1 bulan kurelakan menaiki kereta terakhir hanya demi melihat sosoknya. Bahkan di hari libur kerja, hari Sabtu dan Minggu, aku rela datang ke stasiun Jakarta Kota untuk menaiki kereta terakhir. Dan itu semua hanya untuk melihat dia. Hanya untuk melihat dia duduk di peron, diam menatap rel tanpa ekspresi, dan masuk ke gerbong wanita. Begitu terus beruang-ulang.

Tapi yang aku bingung mengapa di hari Sabtu dan Minggu ia tetep bekerja?

Setiap malamnya aku selalu berusaha berjalan mendekatinya lebih dekat. benar-benar berat, sudah stuck di 50 meter. di pagi hari aku sudah bulatkan tekadku untuk berani mendekatinya namun semua itu kembali sirna ketika sudah melihat sosoknya, hanya sekedar menjadi niat yang tak terlaksana.

Pada akhirnya aku memutuskan bertanya pada petugas di stasiun yang menjaga. Siang itu matahari sangat terik. Hari ini hari minggu jadi aku tidak perlu berangkat ke kantor. Tapi sekarang aku sedang berada di stasiun Jakarta Kota, stasiun dimana aku biasa pulang kerja dan biasa bertemu wanita misterius itu. Rasa penasaran yang tinggi terhadap wanita misterius itu yang membawaku panas-panas datang kesini. Ini benar-benar mengganggu pikiranku, di kosan di jalan, di kantor terbayang terus tentang dia. Karena dia setiap hari pulang ke stasiun ini aku yakin petugas stasiun mengenalnya.
Dengan wajah penasaran aku bertanya kepada petugas itu yang namanya adalah pak bagus

“Pak, bapak tau ga wanita cantik yang selalu menaiki kereta terakhir dan selalu duduk di depan gerbong khusus wanita itu ?” tanyaku

“yang mana toh mas bayu ?” dia bertanya bingung dengan suara khas medok jawanya

“itu lho pak yang selalu make baju dan rok putih hitam dan duduk di ujung peron stasiun situ” jari telunjukku menunjuk ke arah wanita misterius biasa menunggu kereta datang

Pak bagus melihat ke arah tempat yang aku tunjuk. Bola mata hitamnya ke atas dan mengerenyitkan dahi. Ia sepertinya sedang mencoba mengingat sesuatu.

“oalah itu toh, itu tuh namanya Riana dia adalah salah satu anak pengusaha swasta di Jakarta tapi dia lebih memilih untuk mencari kerja sendiri. Dia selalu naik kereta terakhir karena memang dia bekerja sampai jam 11 malam. Dan tepat 2 bulan, dia meninggal karena diperkosa lalu dibunuh oleh kawanan lelaki hidung belang saat sedang menunggu kereta. dan tubuhnya di buang begitu saja di dekat rel kereta. kata orang-orang sih dia bakal ngebunuh setiap orang yang mengajak dia bicara, soalnya diyakini hanya cowo hidung belang yang bisa mengajak dia bicara. Tapi mas bayu ga perlu khawatir, saya saja yang sudah lama kerja disini belum pernah melihatnya.”

Aku tercengang

Cinta datang dan Pergi (part 2)

Cinta datang dan Pergi (part 2)

“Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentang diahilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia ku ingin ku lupakannya”
Alunan lagu dari geisha terdengar di mobilku. Membuatkan makin rindu dengan keberadaan Mantan terindahku itu. seharusnya rindu ini dipikul sama-sama agar tidak terasa berat, tapi aku disini memikul rindu itu sendiri sedangkan dia tidak mungkin masih merindukanku. Sebenarnya aku juga tidak mau lagi merindukannya, namun siapa yang bisa menolak merindu ini?

Aku menjalankan mobilku dengan pelan-pelan. Tentu saja pelan karena memang jalanan sedang macet. Apalagi pada jam pulang kerja di kawasan sudirman yang aku lalui ini. kadang aku bertanya-tanya kapan ya Jakarta bisa bebas dari macet. Mau lewat sini kena macet, Lewat sana kena macet, Dimana-mana macet. Aku punya saran untuk mengatasi kemacetan ini, bagaimana kalau macet ini dibudayakan saja sehingga Negara kita mempunyai budaya macet, siapa tau Malaysia akan mengklaim budaya macet itu dan bebaslah kita dari kemacetan. Oke aku tau itu saran bodoh. Lupakan saja

Aku menatap jam digital di mobilku. Jam sudah menunjukkan puku 20.10 WIB. ah sial aku telat lagi. Kali ini Dipa akan mentraktir aku dan Erlang nyabu sepuasnya. Eh jangan salah paham dulu ya, nyabu disini maksudnya shabu-shabu yang makanan jepang. Kita aka nyabu di salah satu mall di kawasan Sudirman, di FX mall. Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada badai dia ingin mentraktir kami. Tumben-tumbenan nih dia baik, biasanya mah boro-boro. Katanya sih ada kabar bahagia, entah apa kabar bahagia nya itu

15 menit kemudian aku sampai di FX, lalu memarkirkan mobilku. Setelah itu aku berjalan menyusuri basement menuju ke shabu tei yang terletak di lantai 1, hingga Dipa melambaikan tangannya dan memanngilku
“eh sorry sorry ye gue telat” aku langsung duduk di kursi yang kosong
“ah kebiasaan lo glen” ujar Dipa
“macet banget tadi” aku beralasan
“alah alasan klasik”
“eh jadi ada angin apa nih lo neraktir kita makan” kataku
“jadi gini lo harus siap ngedengernya ya” Dipa menatap kami serius
“ah lebay lo”
“jadi gue itu udah ngelamar Fani dan…diterima!! Dan rencananya gue bakal menikah bulan Juni taun depan” Dipa menceritakan dengan antusia
“ah serius lo ?! aku sedikit kaget. pernyataan mengejutkan dari Dipa, padahal dia baru pacaran sama Fani aja 6 bulan yang lalu. Aku aja udah setahun masih berkutat dengan masa laluku sedangkan dia udah mau nikah aja
“yaiyalah serius”
“ah gila ga nyangka gue, ternyata lo masih suka cewe juga dip” celetuk Erlang
“sialan lo, nanti kalo gue udah keluar dari apartemen lo berdua jangan homo an ye”
“ah kampret lo” Aku dan Erlang memukul bahu Dipa

                                                                               ***

Hari ini sudah 2 tahun semenjak berakhirnya hubungan aku dengan Mei. Ya hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 27. Dan seharusnya menjadi hari anniversary kita yang ke 7. Setelah hari itu aku belum pernah berhubungan lagi dengan Mei. Jangankan berhubungan langsung, sms sekedar mengucapkan ‘hai’ saja tidak pernah. Ucapan selamat ulang tahun untuknya hanya kutitipkan pada saat doa di sholat sepertiga malam. aku tidak tau apakah akan disampaikan langsung kepadanya atau tidak, yang jelas aku sudah mengucapkannya.

Sampai kapan aku akan seperti ini terus. Sosok fisik sudah hilang tapi bayangannya selalu tergambar jelas. Sampai kapan aku harus memikirkannya, sedangkan dia saja tidak memikirkanku. Sampai kapan aku akan tersakiti ? Mengapa sih wanita itu tega menyakitiku ? oke aku tau sebenarnya aku sendiri yang menyakiti diriku. Bukan dia.

Siang ini aku sedang membereskan apartemenku. Dipa sudah berangkat dari pagi tidak tau kemana. Tapi aku tau, karena sekarang sudah bulan Mei pasti dia sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan pernikahannya yang tinggal sebulan lagi. Sedangkan Erlang, mungkin dia sudah menjemput pacar barunya. Kadang aku suka iri dengan erlang, dia bisa move on dari satu wanita ke wanita yang lain dengan cepat. Aku akui bisa move on cepat dari mantan merupakan skill.

Aku menyeret dan menaiki sebuah kursi. Kali ini aku akan membersihkan bagian pojok atas lemari. Ketika aku sudah berjinjit di kursi dan ingin membersihkannya, aku melihat boneka yang tidak asing. Sebuah boneka teddy bear besar yang sudah diselimuti debu. Yap, ini adalah boneka yang tadinya akan aku berikan pada Mei di hari annive + ulang tahunnya. Sudah 2 tahun boneka ini tidak dijamahi oleh sentuhan manusia. Aku sendiri tidak ingat kalo benda itu masih disana. Mulai hari ini aku bertekad untuk melupakan semua yang membuatku tersakiti. Semua kenangan indah bersamanya. Dipa aja udah mau nikah, si Erlang lagi menikmati masa-masa indah sama pacar barunya, masa aku masih sibuk ngurusi masa lalu yang ga pernah selesai kalo bukan aku sendiri yang menyelesaikannya. Makanya nanti boneka ini akan aku buang saja. Untuk apalagi aku menyimpan barang-barang yang hanya mengingatkanku padanya.

Senja itu menebarkan warna jingga di penjuru langit. gedung besar mengelilingi taman kota. Berbagai tanaman hijau melambai diterpa angin sepia-sepoi. Bersyukur di kota Jakarta masih mempunyai taman kota yang hijau ini. Aku berjalan di taman sendirian membawa boneka teddy bear dan canon ku. Saat ga ada kerjaan gini memang aku suka sekali menjepret pemandangan-pemandangan indah disekitar. Aku duduk di bangku panjang berwarna merah. Kupanggil seorang anak sedang bermain dengan teman-temannya. Kuberikalah boneka teddy bear yang seharusnya dulu aku berikan pada Mei itu. tadinya boneka itu pingin aku buang. Tapi sayang juga kan boneka itu dibuang, jadi aku memutuskan untuk memberikannya saja pada seorang anak kecil.

Aku mengeluarkan kamera untuk menjepret moment-moment indah. Candid shots seorang suami-istri sedang jogging bersama sambil mengobrol satu sama lain. Aku jadi ingat waktu itu aku dan Mei juga sedang jogging bareng di Senayan. Aku jogging bersebelahan dengan dia. Jogging dan terus jogging kemudian suara teriakan memanggil namaku dari belakang. Ternyata saat itu Mei sudah terjatuh karena kelelahan. akupun berbalik arah dan langsung menghampiri lalu membantu Mei untuk berdiri. Dia pun langsung bilang “johhing sih jogghhing thapi pahcaarr sehdiri jahgan dithinggal donghh, chape tau” akupun hanya tertawa mendengar nadanya yang sudah kelelahan seperti itu. kadang aku merindukan semua hal-hal yang pernah kami lakukan. Aku membiarkan pikiranku mengenang liar untuk hari ini. biarlah hari ini menjadi hari terakhir aku mengingat tentang dia

senja sudah mulai menjadi gelap. Aku pun pulang ke apartemenku

                                                                   ***

Bulan Mei sudah berlalu, bulan yang tadinya sangat aku dambakan setiap kedatangannya tapi sekarang sudah berubah menjadi bulan yang paling aku benci. Hari ini aku harus menghadiri acara pernikahan teman seapartemnku dan berarti mulai besok sudah tidak menjadi teman seapartemnku lagi. Acara akan dimulai pukul 10.00 WIB. sebenarnya aku sangat benci menghadiri acara seperti ini. ini hanya mengingatkanku pada pertemuan awalku dengan Meirantika. Tapi aku wajib dateng karena ini acara penting sahabatku. Jangankan ga dateng, kalo telat 1 detik aja bisa dipecat jadi sahabatnya Dipa.

aku pergi kesana bersama Erlang menaiki mobilku. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat pernikahannya karena tidak terlalu jauh lokasi pernikahan si Dipa dari apartemen.
Sesampainya disana tamu belum ramai namun sudah mulai berdatangan. aku dan Erlang sedang berjalan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai
“beruntung banget lo Dip bisa dapet cewe secakep Fani dan buat lo fan sabar-sabar aja ya dapetnya cowo kaya Dipa” ketusku dengan nada meledek
“Ah kampret lo!” Dipa membalas kesal. Aku, Erlang, dan Fani pun tertawa puas
“udah lo berdua ambil makanan dulu sono entar kita ngobrol-ngobrol lagi”
“oke Dip”

Aku berjalan meninggalkan mereka yang masih harus menyalami para tamu lainnya
“lang, ambil makan dulu yok”
“lo duluan aja deh, gue ga terlalu laper, gue mau ngambil es krim aja dulu”

Saat itu aku menuju tempat yang menyediakan berbagai macam makaanan. tiba-tiba seorang wanita datang ke arahku lalu menabrakku dan menumpahkan minumannya di kemejaku. Bukan masalah harga kemeja yang mahal, Cuma kan kemejaku jadi kotor. Udah gitu aku ga bawa baju ganti juga. Sentak aku ingin marah. rasa kesal sudah menjalar ingin dikeluarkan. Ketika ingin membentak, kata maaf sudah lebih dulu terdengar.
“eh maaf ya mas maaf aku ga sengaja” wanita itu berkata padaku
Rasa kesal tadi pun terasa berkurang sedikit demi sedikit lalu berangsur hilang. Entah mengapa suaranya sangat lembut, membukam kesesalanku yang sudah mau meledak. Aku menoleh ke arahnya. Astaga, ternyata wajahnya benar-benar cantik. Pancaran cahayanya seperti bidadari tak bersayap. Kehadirannya bagaikan hujan yang bisa menghapus semua kenanganku.
“maaf ya maaf aku bener-bener ga sengaja”
“iya gapapa kok”
“sekali lagi maaf ya” kemudian dia menjulurkan tanggannya. “oiya kenalin nama aku Junianatha, panggil aja Juni”


cerpen ini pernah dilombakan di salah satu penerbit yang mengadakan. temanya lumpuhkan ingatanku. dan alhamdulillah cerpen ini...ga menang alias gagal