Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Nature Morte Vivante

Nature Morte Vivante
Salvador Dali's Painting (1956)

Setelah semalaman kita letih menerka-nerka,
terlalu pagi ini mempertemu kita dengan langit
lazuardi dan samudra lapis lazuli yang menjadi
latar pungung-punggung kita di meja makan.

Pramusaji sudah menghidangkan semua suguhan
yang kita kenan. Setelah itu kau tampak bingung
perihal siapa di antara kita yang memesan sebilah
pisau.

Mata pisau itu mengelip pandangnya ke nadiku,
sedangkan mata satunya berkedip ke lehermu.
Pisau selalu mencintai daging, dan jika ia sudah
mengecup dan melucup kulit yang ia cinta,
percayalah, kita takkan berubah menjadi domba
lalu dikenang pada hari raya,

Makanan belum tersentuh. Kau masih gamang,
meski anggur pelenyap getar sudah kutuang.
Benda tajam itu mengusikmu, lagi pula
perjumpaan macam apa yang memerlukan
pisau di tengah-tengah mereka, tanyamu.

Suatu hari kau akan paham bahwa rancung
pisau akan selalu diperlukan di tiap perjamuan.
Tepatnya jikalau sewaktu-waktu erat peluk
tak mampu menggugurkan musim dingin,
dan ketika suatu pertemuan sudah tidak lagi
butuh sepotong percakapan.

Fiesta in Figueres

Fiesta in Figueres
Fiesta in Figueres (1914-1916)  by Salvador Dali

Seandainya telapak kita sebagaimana pejalan kaki
yang tidak mengingat jejak langkah mereka sendiri,
jangan ada nama-nama kita sembunyi di aksara
puisi maupun di balik lagu-lagu kesedihan.

Berjalanlah ke kerumun orang-orang yang menunggu
malam pergantian tahun. Temukan aku di gelap langit
pada detik pertama letus bergemuruh. Aku akan jelma
salah satu dari ratusan kembang api yang tak tahu pada
hitungan ke berapa maut menjemput.

Sedang kau bisa menikmati getir kata seperti mata
seorang bocah yang tulus menyambut langit januari
dengan ceria, atau serupa gelagat sebagian lain yang
sesungguhnya bukan meramaikan pesta akhir tahun,
namun merayakan kehilangan,
yang ditutupi sorak-sorai dan tepuk tangan.

The First Days of Spring

The First Days of Spring (1929) by Salvador Dali
Di kota itu aku merasa asing.
Musim telah berganti tapi orang-orang
tidak peduli karena sibuk dengan
urusan masing-masing.

/1/
Seorang gadis kecil di sebelah timur
yang tiap malam telah kehilangan
malim cahaya, hanya berjalan
bilamana angin memainkannya.

“Dibeli, Tuan, airmatanya?”
“Maaf, gadis kecil, di rumah
pun rasanya belum kemarau.”

/2/
Beberapa depa dari situ
ada dua orang berdasi berseteru.

Mereka bergaduh banyak kata seru
dan tak akan berhenti sampai salah
satu di antara mereka memenangkan
seisi kota; dengking klakson, jalan raya,
taman-taman hijau, dan halaman berita.

/3/
Seseorang hanya menatap aktivitas kota
dari hampir di ujung jalan. Seperti ia
sempat angkat kaki, tapi kemudian tersadar
bahwa jalan-jalan kota sungguh tak memiliki
ujung. Jalur aspal yang menjulur hanya
lajur-lajur yang akan berakhir di pekuburan.

/4/
Di seberang jalan menghidar dari
kalut percakapan, dua sejoli selalu
bercinta di mana ada tabir membekap.

“Di mana kepalamu, sayang?”
“Jangan meledek! Kau tahu kepalaku
sudah pindah ke kemaluan sejak
mengabaikan suamiku tiga tahun lalu.”

/5/
Lebih jauh dari riuh permasalahan kota
ada lelaki tua tidak memikirkan apa-apa
kecuali satu hal: ia percaya, istrinya yang
sudah tak berkabar selama tiga tahun akan
kembali secepat ia pergi.

Lelaki tua itu hendak terus menanti,
bahkan ketika bayangannya sendiri
sudah pergi meninggalkan tubuhnya.

Di kota itu aku merasa asing.
langit senantiasa mendung tanpa meneteskan
sebutir hujan. Waktu tidak lagi diindahkan.
Apakah gerangan yang mengawasi kelimun
itu sejumlah kepala hering?

Galacidalacidesoxyribonucleicacid

Galacidalacidesoxyribonucleicacid
Salvador Dali (1963)

Apa yang akan diucap musim panas
saat bandang airmatamu muskil dibendung
dan kemarau tak kuasa meringkai
pikiran sungai yang meluap ke kota
dan melupa aliran semestinya?

Apa sungguh para lelaki sedia
saling bunuh hanya demi menjelma
seekor ikan yang bakal renangi
kolam matamu yang mokal gersang itu?


The Persistence of Memory

The Persistence of Memory
The Persistence of Memory (1931)
Di tubuh mimpi, kita menjebak waktu
dalam jam-jam dinding lebih dari satu.
Kita ragami mereka dengan rona yang
sukar ditampik ingatan; warna petang,
bulat bola mata, dan kelabu harapan.

Di luar mimpi, kita hanya kerinduan
yang enggan tatap-muka. Kehidupan kota
telah menjauhkan langkah kaki dan kesibukan
melelehkan semua waktu yang kita miliki.

Waktu paling manis; bercat oranye
karena darah dan tangis, habis
dikerubungi gerombol semut.

Waktu lainnya suluh bulan dan
berjatuhan di berbagai tempat;
di ranting pohon yang dikalahkan
kemarau panjang, di selimut yang
dulu kerap dipakai untuk menyingkap
tubuh kita, di ujung batu yang siap
lebur mengempas tanah.

Kita pun hanya bisa memandang
pengingat waktu bertumbangan
dari langit, seraya mempertanyakan;
leleh waktu atau lelah kau dan aku
yang menghabisi seluruh jam dinding?




────────────────────
-Puisi ini terinspirasi dari lukisan Salvador Dali
-Tersiar di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 20 November 2016. Dapat dijumpai pula di situs Klipingsastra

Jika Ada Rindu yang Tidak Pernah Tertidur

Jika Ada Rindu yang Tidak Pernah Tertidur
Jika ada rindu yang tidak pernah tertidur,
itu adalah rindu sehimpun pasir gurun
menanti kepastian yang tiada dari seorang
perempuan yang tercipta dari rintik hujan.

Jika rindu adalah kayu bagi penantian jenuh,
telah mampu kubangun ia menjadi behtera Nuh.
Takkan ada barang-barang atau besar binatang-binatang.
Semua ruang telah sesak oleh hal-ikhwal tentangmu
yang kian merisak. Di palka, hanya ada aku seorang sedang
memetik waktu yang berdetak di jantungku, menghitung
berapa lama jarak telah menepikan kita, sambil
bertanya-tanya kapan pertemuan selanjutnya yang entah.

Sesungguhnya aku suka dengan kepergian yang sementara.
Kepergian yang tidak memberi kepastian pulang, mengasihi
ruang bagi rindu untuk berkembang.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat kepergian sementara,
semisal; aku bisa mendoakanmu diam-diam dan kau
setiap malam menapaskan namaku dalam-dalam.
Pula kita bisa membuat satu permainan tebak-tebakan
: Sabar milikku atau kau yang masih subur meski hati dipenuhi bilur?

Pada akhirnya kita pun akan tahu
Tabah siapa yang lebih awal takluk di hadapan penantian.

Aku rasa kau pasti akan kalah lagi seperti biasanya.
Kemudian kau menahan diri untuk kembali rengkah
ke bentuk ringkih yang rengkuh rintik hujan.
Namun semestinya, kau tidak berusaha meredam itu.
Jika bandang airmata tidak mungkin lagi untuk dibendung,
menangis sajalah, sayang, menangislah!

Biar aku bisa menyamar jadi sebuah resah,
yang akan pulang tiap kali pipimu basah.

Epitaf Kata Kita di Suatu Kota

Epitaf Kata Kita di Suatu Kota

Kulihat kesedihan dari pekat kopi yang terseduh pagi ini.
Hitam, yang dalam pahitnya terselip sendu yang tenggelam.

Matahari masih menggantung di langit yang sama,
tapi hangatnya tak akan pernah sama lagi sampainya
di kulit kita.

Tidak ada lagi kita sedianya. Kata kita sudah beranjak
dari kau dan aku. Kalender memulas kita dengan warna
selain hitam dan merah di luar tubuhnya. Tidak akan ada
lagi kita hari ini, besok, tulat, tubin atau kapan pun.
Masa depan kita hanya akan ditemukan di masa silam.

Kenangan, satu-satunya tempat kita menyimpan angan.
Sekali waktu kau pernah berkata:
Aku mencintaimu sesederhana anak kecil
yang mengidam-idamkan sebuah balon.
Ketika seseorang merebut balon itu dariku,
apiku akan membakar belantara hutan.
Saat balon itu lepas dari genggaman,
aku akan menangis hingga menenggelamkan
suatu kota.


Aku membalas bahwa aku mau jadi balon itu.
Aku; jasad yang takut malam yang dingin,
hanya mau menjadi apa yang kau ingin.

Akan tetapi, semua kata-kata dari harilalu
kerap bakal jadi pengungsi pula di haridepan.
Setengah kata bertahan hidup, sebelah janji perlahan redup.
Karena bagi mereka—termasuk kita
yang ingar-bingar oleh dentum kuntum cinta,
kata-kata hanyalah janji yang akan ingkar diri.
Dan janji menjelma kita yang menolak untuk ditepati.

Langkah yang sempat kita tabung untuk haridepan
adalah makna yang hilang arah. Di wajah takdir,
kita sepasang semoga yang sudah pasrah.

Kini kau dan aku akan mengakhiri kata kita.
Kita; dua pengungsi masadepan
yang tidak bertahan hidup.


Puisi Descendent of the Sun part 2



Melupa atau Meluka?
-kepada Yo Shi-Jin

Kita sedang berupaya saling melupakan
atau kita hanya melukakan diri kita masing-masing?

Terakhir kita berjumpa adalah di sebuah kafe. Tak banyak orang
di sana, kita duduk di dekat kaca dan di dekat rasa nyeri yang
mengumpat di dada. Tak kau tampakkan menariknya sungging
senyummu dan lelucon aneh yang selalu kunantikan itu.

Setiap kau mulai pergi, diriku selalu diterpa badai tanda tanya.
: Ke mana pria yang menarik perhatianku itu menghilang?
Apa yang dia lakukan?

Tapi saat kita bertemu, kau tak mengatakan apa pun
padaku. Itu dilarang, kan?

Senang mengenalmu,” ucapmu pada akhirnya,
selamat tinggal.

Tikaman tepat di sanubari sesaat kata terakhirmu itu
terlontar sebelum aku beranjak dari tempat duduk. Entahlah,
bukankah kepergian ini aku yang menginginkan? Mengapa
aku pula yang harus merasakan sakit paling mendalam?

Aku pergi, tanpa meninggalkan setetes airmata. Meski tanpa
rinai di pelupuk, jangan berpikir kalau aku akan baik-baik saja.
kesedihan paling mendalam justru ada ketika seseorang harus
pura-pura menahan tumpah airmata demi menunjukkan
siapa di antara siapa yang tampak lebih kuat menyambut kepergian.

Kalau kukatakan ini langsung padamu, apa kau setuju denganku?
Apa kau merasakannya juga?
   
Kepalaku telah kubelikan penghapus untuk membersihkan
segala hal yang menyangkut namamu. Namun kurasa 
seluruhmu noda permanen. Semakin aku berusaha melupakan, 
diriku seperti meminum racun yang kubuat sendiri, 
dengan harap kematianmu di kepalaku segera tiba.

Padahal kau tak pernah menitipkanku suatu apa.
Hanya ingatan satu-satunya pemberian yang kau tinggalkan.
Ah, barangkali itulah mengapa ia bernama ingatan.
Ingatan tidak diajarkan untuk melupa.
Bila dipaksa, ia cuma akan memberi duka. 

Untuk bisa melupa, aku belajar membenci.
Aku benci kau. Aku benci senyummu.
Aku benci kau yang kerap meninggalkanku tiba-tiba.
Aku benci kau yang tak pernah memikirkan perasaanku
dan bahkan kerap tak memikirkan perasaanmu sendiri.
Aku benci segala tentang kau.

Aku sungguh benci kau. Tapi sialnya, kebencianku jauh
lebih sedikit dan tidak akan pernah cukup untuk
melampaui rasa inginku bersamamu.

Puisi Descendent of the Sun

Puisi di bawah ini terinspirasi dari drama korea yang saya suka yakni Descendent of the Sun. Drama ini bercerita tentang 2 tokoh yang saling mencinta namun kerap dipisahkan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Si pria (Yo Shi-Jin) berprofesi sebagai tentara, dan si wanita (Kang Mo Yeon) adalah seorang dokter. Kebayang kan gimana pertemuan sulit hadir di tengah-tengah mereka.

Karena saya orangnya baperan, dan drama ini bisa menyentuh relung hati saya, saya pun tergerak untuk menginterpretasikannya menjadi puisi. Saya mencoba masuk ke jiwa Yo Shi Jin dan mencoba menuangkan apa yang ia rasakan. Mungkin sejatinya dia lebih sering memakai pistol sebagai senjata, bukan memakai kata-kata, namun bukankah kedua hal itu itu sama-sama berbahaya dan sama-sama harus digunakan dengan hati-hati?
 
*kalimat yang dicetak miring di puisi berikut adalah kalimat yang saya pinjam dari dialog filmnya.




***

Meluka Lupa
-Untuk Kang Mo Yeon

Bagaimana mungkin hujaman peluru di medan perang tidak pernah
menbinasakanku, namun parang matamu bisa membunuhku
berulang-ulang kali dan berkali-kali lebih ulung?

Apa kau sudah minum obatmu?

Alih-alih menyakiti diriku, luka tembak di perut ini merupakan
keberuntungan yang membawaku pada pertemuan denganmu.
sebetulnya, kau tahu, luka di dalam atau luar tubuhku seakan
menyembuhkan dirinya sendiri kala tiba ia bersua matamu.

Aku masih ingat ketika kita hampir menonton film kesukaan kita.
seharusnya itu menjadi salah satu waktu paling bahagia yang
pernah kualami. Memiliki seutuh senyummu, seolah-olah
lekuk itu hanya diciptakan untukku seorang.

Ini adegan yang paling ditunggu di bioskop,” ucapmu kala itu,
tepat sebelum lampunya dimatikan.

Ini saat paling kutunggu dalam hidupku,” balasku, “aku bersama
wanita cantik dan lampunya dimatikan.


Akan tetapi, sebelum film diputar, lagi-lagi aku harus meninggalkanmu.
Aku harus membela negara yang bersikeras dituruti. Pekerjaanku ini
kadang memang menyebalkan sekali. Ia kerap jadi kekasih pencemburu
dan membenci orang-orang yang kucintai. Dan kau adalah orang yang
paling ia benci. Jangan tanyakan mengapa.

Kini kewajiban itu menjaukan diriku lebih jauh dari wanita yang paling
kucintai; kau. Aku mengerti, kau sudah lelah terus menerus ditinggalkan.

Matamu berkaca. Yang mana pecahannya mencacah hatiku bertubi-tubi.
Perpisahan pun sudah menunggu di depan pintu. Siap membawa kita
pergi dari teduhnya renjana yang saat ini kita tempati.

Kurasa inilah waktu untuk kita menghenti upaya melukakan,
barangkali dengan cara mencoba saling melupakan.

Langkah kaki kita harus menjauh pergi,
bahkan sebelum kita benar-benar saling memiliki.




Hujan Maaf Semalaman


Dalam tubuhku selalu ada kali tercemar mengalir
alur airnya pada pipa-pipa pembuluh selain darah.
Yang jatuh berulang kali melupakan asal mereka
serupa air mata dari seorang penyedih paling tulus.

Kali itu; yang dibenci orang namun dicintai api,
mengusik keheningan pikiran dan mengusak kebeningan
mata air dalam jiwa, dengan aroma tidak sedap
yang semakin sampah.

Padahal sukma terlalu murni untuk menyimpan barang
senoktah hitam usam yang menyebut dirinya sebagai kesalahan.

Biarlah hujan maaf turun semalaman membersihkannya.
Menanggalkan untuk meninggalkan tubuh usangku
yang kian gersang.



Depok, 26 Juli 2015



***
Berhubung sekarang masih suasana lebaran, mohon maaf lahir batin ah, maafkan kesalahan saya yang saya lakukan secara online ataupun offline. Maafkan kesalahan saya yang tidak disengaja dan yang tak disengaja ya (saya tidak menyebut "kesalahan saya yang disengaja", sebab sepengetahuan saya, saya tidak pernah melakukan kesalahan dengan sengaja). Maafkan juga jika diblog ini ada kata-kata yang menyinggung perasaan Anda.

Omong-omong, puisi di atas merupakan salah satu dari dua puisi pertama saya yang dijadikan antologi buku puisi edisi lebaran tahun kemarin.

Menunggu Keadilan Pulang - Hidup di Negeri Palsu

Source: Twitter @IrenaBuzarewicz
Menunggu Keadilan Pulang
 
Aku hidup di antara orang-orang yang lebih suka
menghitung angka-angka dibanding membaca kata-kata.
Satu-satunya yang dirapal dan dia hapal
adalah nama-nama pahlawan pada kertas berangka
yang diagung-agungkan seperti Tuhan.

ia tahu Tuhan selalu mengikuti dan melihat
apa yang dilakukan oleh manusia dan
menilai perbuatan itu baik atau buruk.
"Tugas wasit sepak bola pun demikian,"
sangkalnya secara sadar tanpa sedikit pun gentar.

Dia, dia, dia, dan dia kian menjelma kucing liar.
Diberikan ikan asin tak berhenti mengunyah,
tak ada ikan asin berarti harus mencari atau mencuri.
Dan aku bertanya-tanya; dia itu kucing yang senantiasa
lapar, apa kucing yang tak mengenal kenyang?

Ia menghitung satu sampai sejuta,
tapi angka-angka masih banyak dan selalu kurang.
Ia jua tak minta diberikan sepuluh pemuda,
terlalu banyak makan serta menghabiskan uang.

Beberapa kali aku melihat kutipan Rene Descartes
lalu membacanya dengan lantang.
"Aku berpikir, maka aku ada!"
Tapi bantahan mereka selalu lebih unggul meski
sorak-semarai hanya terjadi dalam kalbu.
"Aku korupsi, maka aku ada!"

Penderitaanku--kita, menjadi hidangan pencuci mulut
yang dia makan sambil tertawa bersama rekan-rekan.
Suara kita semata-mata dentingan sendok pengaduk
kopi yang mengusir sunyi. Mengganggu percakapan!
Sedang, dia menikmati waktunya yang sebenarnya tidak
lebih panjang dari tinggi badanku.

Pada kematiannya yang dingin, orang-orang akan
berduka cita dan bersuka cita sambil terbahak-bahak
kala tiba hari di mana ia akan diadili tanpa remisi.

2015




Hidup di Negeri Palsu

 
makanan di negeri palsu serba palsu
beras palsu, bakso palsu, ikan palsu
gorengan palsu, daging sapi palsu
semua terasa halal selama tak melumpuhkan kantung celana
dan langsung menenggelamkan tubuh menjadi rongsok
yang siap jadi santapan rakusnya burung pemakan bangkai.


tak perlu pendidikan tinggi-tinggi dan melawat
jauh sampai ke negeri cina yang barangkali
garis hitam kumbang menggarit cakar ayam
di atas lembar kosong berwarna awan
sudah bisa mewujudkan mimpi masa kanak-kanak
bernaung di gedung besar berbalut asap kendaraan
pinggir ibukota yang berdiri angkuh.

para petinggi di negeri palsu yang kerap kali
melontar ujaran dengkul nan elok serta terbuat
dari tak setianya semburat senja
yang dikulum lembayungnya lama-lama
sampai membuat langit-langit mulut dan lidahnya
menampakkan keindahan yang alangkah raya.

dan rakyat yang tubuhnya kian jadi mayat
seolah terpana melihat keindahan dan
kelihaiannya bermain sulap dan saling salip
dalam upaya mengabur segala rahasia dan
mengubur banyak orang yang mulai sia-sia.

satu-satunya yang asli dari negeri palsu
adalah kepalsuan itu sendiri.
dengan mata lipas tertutup tiras, rakyat
negeri palsu berjuang melacak yang tak palsu
bahkan untuk asih dari seorang kekasih
yang dirisaukan juga semu.

2015


------------------------------------------
Pernah tersiar di Pikiran Rakyat edisi 3 April 2016

Empat Waktu


Image: @IrenaBuzarewich
aku ingin merupa tuhan. tapi aku tidak bisa menyediakan waktu kepada semua orang seperti-nya. 
aku hanya bisa memberikan waktu buatmu, dan kau bebas menentukan kapan waktu yang 
kau mau untuk bersamaku.

1.
pagi hari setelah subuh
sebermula kabut membangunkanmu dari tidur lelap. memberikan baju hangat dan beberapa pujian
pembuka mata. kita bisa menjelma embun dengan daun yang tengah menengadah pasrah. ketika
fajar menyingsing, kita duduk berhadapan sambil menyantap roti isi, secangkir kopi, serta
sajak-sajak pagi. kita terlalu sibuk memainkan sajak hingga kopi panas sudah menjadi dingin.
bagaimanapun itu, aku tetap suka. di waktu ini sejumlah pelukan bisa terjadi.

namun ketika hari mulai panas, tidak mungkin lagi untuk kita melanjutkan peluk.

2.
tepat matahari atas kepala
satu-satunya tempat yang nyaman adalah di bawah pohon rindang. menghitung daun-daun hijau yang
jatuh ke atas kepala, sementara kamu bercerita tentang menariknya beberapa kata di kota kita.
walau hari bersama panjang, tapi kita tak bisa ke mana-mana. kau tahu sendiri kan kalau di luar itu
panas sekali?

kita tidak bisa berjalan-jalan karena di sini taman adalah sesuatu yang jarang tapi tidak seorang pun
merasa gamang. Kalau kau memilih waktu ini untuk berjalan denganku, baiklah aku akan sedikit
berjarak. Aku takkan berani menggenggam barang tanganmu, sebab cuaca begitu panas. aku tahu
kalau kau tidak mau peluh kita bercampur menjadi bau keringat yang apak.

3.
jam 4 petang
para penyair lebih suka menyebutnya dengan kata senja. kita sendiri pasti berdebat tentang apa
warna senja yang paling tepat, kau sebut lembayung, aku memanggil mambang kuning, sedang yang
lainnya menyebut merah jingga, layung, atau oranye. inilah waktu paling indah dibanding sepanjang
hari yang kita sudah atau bahkan belum kita lewati.

kita bisa duduk berdua tanpa suara-suara aneh yang akan kita dengar. kau mungkin mengeluarkan
riak yang amat sangat kecil di pelupuk mata yang tak berujung. sungguh hanya dengan memandangi
mentari yang masuk peraduan akan mendatangkan kebahagian yang tak terkira.

tapi tunggu dulu. sebelum kau memilih waktu ini, kamu tahu kan sudah berapa lama kau
menunggu sedari tadi? setelah itu ia datang dan berlalu begitu saja tanpa terasa. terlalu fana.

4.
kegelapan sepanjang malam
hari sudah gelap, angin malam mulai menghempas kulit sehingga kita harus kembali memakai baju
hangat. dan kita harus lebih dekat untuk memudahkan diri melihat sepasang bola mata yang terbuat
dari kilau bulan purnama hari pertama. jaket yang merengkuh tubuh mungkin tak mampu
menjinakkan malam yang gemetar. sampai-sampai tulang belakangmu merasa menggigil meminta
nyala api unggun sebagai pengganti. 

waktu masih sangat panjang. nyala api tak akan mampu mendekap malam terlalu lama. namun peluk
yang melingkar di pinggang mampu melakukan lebih lama dari siaran radio yang didengar sepanjang
hari demi lagu kesukaan. 

bayang-bayang yang tak mampu menyamarkan warna sudah berbaur menjadi lebih buntal. di waktu
ini mungkin kita bisa tetap. kita terus bersama sepanjang malam dan ketika pagi menjelang, jika saja
kau masih mau, kita masih bisa menutup tirai dari jendela yang retak dan menghalangi cahaya pagi
masuk ke dalam kamar. kita mencipta malam milik kita sepanjang hari, lalu di kegelapan, kita terus
berdekapan. dan mungkin akan terciptakan pula liarnya beberapa kecupan.
  

Perihal Jatuh Cinta dan Mencintai

Image: @Irenabuzarewich
“Mereka tidak tahu, jatuh cinta dan mencintai
adalah dua penderitaan yang berbeda” 
–Aan Mansyur

Sebelum benih kecambah yang kautanam di dadaku mulai
tumbuh, aku masih berdamai dengan sepi.

Pada mulanya aku hanya memandangmu sebagai daun di
lebat pohon beringin. Hingga akhirnya sehelai daun jatuh
tepat di atas kepalaku.

Kau—atau siapa pun—tidak akan memahami kalau isi
dadaku debar jantung yang berdebur tak terhitung, api cinta
yang baru dinyalakan bara, jelir harum mawar yang silir-
semilir mulai terhisap.

Aku sadar, perasaan ini bermula saat kaubantu aku
membakar sampah kenang paling pahit. Aku tidak tahu,
entah kau melakukannya dengan maksud khusus atau
kaulakukan itu pada semua temanmu.

Kutinggalkan pertanyaan ini sebagai misteri tak terpecahkan.
Lantaran, terkadang kita lebih suka hidup dalam indah
misteri, daripada nyeri kejujuran.

Kini yang aku percaya, matamu telah menjadi sumber
damba tenangku. Hadirmu bukan lagi sekadar rimbun
daun di pepohonan.

Dan jatuh cinta, sekali lagi menjadi alasanku menikmati 
rasa sakit yang membahagiakan.
*
Mungkin aku bukanlah orang yang akan kau jadikan tempat
menitipkan potongan-potongan hatimu. Tapi sebelum kau
jatuh di pelukan lelaki lain, biarkan aku mencintaimu
sedalam-dalamnya, sediam-diamnya.

Sebab aku mencintaimu seperti kelingking kaki yang jatuh
cinta pada tungkai-tungkai meja atau batang pintu. 

Ya, mencintaimu itu sakit. Tapi untukmu, 
aku rela bersahabat luka-duka.


9 Juni 2016

Puisi yang Rumah

Image: @IrenaBuzarewich
Aku sembunyi di balik kamar yang tak sedemikian besar dari
kejamnya hari lalu dan sepi yang bisa menerkam kapan saja. Aku
masuk dalam kata membiarkan diriku berlarian seperti bermain
delikan. Sementara kata-kata enggan menutup mata namun tidak
mengucap apa-apa.

Kubiarkan kasur memeluk erat tubuhku yang berbilur. Cambuk
masa lampau, segenap imajinasi pinar berkilau. Kurentangkan
seprai tertumpah asin, bekas rasa sakit yang tidak sanggup
disembuhkan magainin. Gores terhadap garis kesedihan yang tidak
kesudahan.

Cat tembok sewarna biru. Menyimpan haru—barangkali sengaja
agar aku selalu mengingat limpahan masa lalu. Sebelum denyaran
masuk lewat jendela, hari depan telah terlanjur tiba sebagai
kekasih yang memendam cemburu.

Lantai rumah kedinginan. Meminta secangkir kopi yang
mengundang pulang perjalanan atau gedebak-gedebuk kaki yang
mengandung rasa penasaran. Ia harus menanti fajar. Menuntun
gelap malam seperti kunang-kunang. Menjaga pancar bulan,
wejangan, dan angan-angan.

Jadilah kutulis semua obituari pulang dan pergi. Riwayat dari ia
lahir sampai kembali ke pintu rumah bergerigi. Meski membuka
pintu artinya dapat membuat mimpi-mimpi menggugurkan diri.
tapi rumah tidak akan melenyapkan. Rumah, kata ibuku, bukanlah
pondasi megah berdiri pongah. Hanya mata, pada pelupuk yang
selalu menyimpan rindu saat kita pergi.



2015


Suara Sopir Burung Biru

Suara Sopir Burung Biru

Burung biru di dada kami. Bukan burung garuda. Burung 
garuda terbang terlampau tinggi, memandang kami hanya 
sebagai daging-daging santapan negara. Maka, kami 
memilih mengabdi pada burung biru.
: Burung biru yang menyelamatkan burung kami membiru 
karena tak mendapat jatah. Burung biru yang menjauhkan 
kami dari seteru dan masih bisa basah.

Kemeja biru yang mungkin tidak lagi baru selalu kami 
sematkan di tubuh kami. Kami tidak mengeluh meski kadang
itu dibasahi peluh. Bertahun-tahun kami tahan bermandikan 
lampu-lampu dan rambu-rambu lalu lintas. Saat tersadar, 
kami mencintai jalanan. Kami kira hanya gembel dan para 
polisi yang mencintai jalanan. Ternyata kami juga mencintai 
jalanan. Kala malam merangkak naik, kami pun meniduri 
setiap kilo jalan yang masih perawan.

Kami sekumpulan orang yang juga jatuh cinta pada masa lalu. 
Barangkali masa lalu masih memendam duka dan luka 
yang menganga. Tapi luka bisa menyembuhkan dirinya. 
Dan masa lalu selalu menyediakan lika-liku yang pasti.

Hari lalu menjelmakan kami menjadi harapan-harapan yang putus. 
Membuat kami jadi pembenci masa depan yang ambisius. Sebab 
langit masa depan senantiasa dikerubungi banyak tanda tanya. 
Serupa kepala wanita, masa depan selalu menyimpan teka-teki 
yang sulit diterka. Dan kami sudah terlalu lelah untuk berpikir lagi.

Teknologi adalah antek-antek masa depan. Ia berusaha 
menendang kami dari peradaban. Sedangkan kami 
butuh uang serimba hutan. Keluarga kami butuh makan. 
Burung-burung kami butuh asupan. Oleh karena itu, 
bagi siapa saja yang ingin menghadang dan menendang 
kami dari jalanan; mengusik dan mengusaki kedamaian 
masa lalu kami, maka, seperti sabda Wiji Tukul, 
hanya akan ada satu kata: Lawan!



***
terciptanya puisi ini sejatinya demi memenuhi tugas kuliah untuk membuat puisi. Saat sedang menonton tv 
dan tak punya inspirasi, muncullah berita demo besar-besaran sopir taksi di jakarta waktu itu. Lalu tiba-tiba 
saja saya mendapat inspirasi, lalu menuliskan inspirasi itu menjadi puisi yang baru saja Anda baca.