The First Days of Spring

The First Days of Spring (1929) by Salvador Dali
Di kota itu aku merasa asing.
Musim telah berganti tapi orang-orang
tidak peduli karena sibuk dengan
urusan masing-masing.

/1/
Seorang gadis kecil di sebelah timur
yang tiap malam telah kehilangan
malim cahaya, hanya berjalan
bilamana angin memainkannya.

“Dibeli, Tuan, airmatanya?”
“Maaf, gadis kecil, di rumah
pun rasanya belum kemarau.”

/2/
Beberapa depa dari situ
ada dua orang berdasi berseteru.

Mereka bergaduh banyak kata seru
dan tak akan berhenti sampai salah
satu di antara mereka memenangkan
seisi kota; dengking klakson, jalan raya,
taman-taman hijau, dan halaman berita.

/3/
Seseorang hanya menatap aktivitas kota
dari hampir di ujung jalan. Seperti ia
sempat angkat kaki, tapi kemudian tersadar
bahwa jalan-jalan kota sungguh tak memiliki
ujung. Jalur aspal yang menjulur hanya
lajur-lajur yang akan berakhir di pekuburan.

/4/
Di seberang jalan menghidar dari
kalut percakapan, dua sejoli selalu
bercinta di mana ada tabir membekap.

“Di mana kepalamu, sayang?”
“Jangan meledek! Kau tahu kepalaku
sudah pindah ke kemaluan sejak
mengabaikan suamiku tiga tahun lalu.”

/5/
Lebih jauh dari riuh permasalahan kota
ada lelaki tua tidak memikirkan apa-apa
kecuali satu hal: ia percaya, istrinya yang
sudah tak berkabar selama tiga tahun akan
kembali secepat ia pergi.

Lelaki tua itu hendak terus menanti,
bahkan ketika bayangannya sendiri
sudah pergi meninggalkan tubuhnya.

Di kota itu aku merasa asing.
langit senantiasa mendung tanpa meneteskan
sebutir hujan. Waktu tidak lagi diindahkan.
Apakah gerangan yang mengawasi kelimun
itu sejumlah kepala hering?

Galacidalacidesoxyribonucleicacid

Galacidalacidesoxyribonucleicacid
Salvador Dali (1963)

Apa yang akan diucap musim panas
saat bandang airmatamu muskil dibendung
dan kemarau tak kuasa meringkai
pikiran sungai yang meluap ke kota
dan melupa aliran semestinya?

Apa sungguh para lelaki sedia
saling bunuh hanya demi menjelma
seekor ikan yang bakal renangi
kolam matamu yang mokal gersang itu?


Gincu Merah Itu, Untuk Siapa?

Gincu Merah Itu, Untuk Siapa?
hdwallpaper

Akhir-akhir ini hubungan Aswad dan Sita semakin merenggang saja. Sebagai pasangan suami-istri mereka seringkali mempermasalahkan hal yang sesungguhnya tidak harus dibesar-besarkan. Namun masalah sebenarnya adalah, Aswad merasa Sita sudah berubah, ia merasa cinta Sita padanya sudah berkurang—atau malah sudah pudar. Bahkan Aswad sudah lupa kapan terakhir mereka membicarakan tentang cinta. Padahal, Aswad sudah menjalani tugasnya sebagai suami dengan baik. Ia memberikan uang bulanan, tidak pernah bicara kasar—apalagi berbuat aniaya, dan ia tidak pernah selingkuh. Apa jangan-jangan Sita yang sudah main di belakang?

Pikiran seperti itu sontak singgah di benak Aswad. Ia bukan mencurigai istrinya itu, tapi ya bagaimana lagi, ia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjadi alasan Sita menjauh darinya dan tidak menemukan kalimat yang tepat pula untuk mengganti “apa jangan-jangan Sita yang sudah main di belakang”.

Aswad mempunyai rencana untuk mengetahui apakah istrinya benar-benar selingkuh atau tidak. Ia mengambil cuti selama satu minggu dan membuntuti Sita kemana pun ia pergi. Pagi hari Sita berangkat ke kantor dengan Honda jazz hijaunya, lalu 5 menit kemudian Aswad memberhentikan taksi untuk mengekor Jazz hijau. Sita menuju apartemen Rona—Sahabat Sita dan juga sahabat Aswad—untuk menjemputnya. Sesampainya di gedung kantor mereka berdua keluar seraya tertawa-tawa kemudian masuk ke gedung.

Ketika petang menjelang, mereka pulang. Aswad sudah menunggu di seberang gedung dan kembali membuntutinya. Mobil Sita menuju apartemen, mengantar Rona pulang. Di apartemen ini mobil Sita terparkir cukup lama, Sita ikut turun berjalan menuju kamar apartemennya. Walaupun lama Aswad sabar menunggu demi mencari kebenaran sesungguhnya.

Selama seminggu itu ia tidak menangkap Sita beriringan dengan lelaki lain. Sepulang dari kantor Sita lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen Rona. Satu hari Aswad mengikuti istrinya berjalan ke bar, hari lainnya berbelanja ke mal, akan tetapi semua dilakukan bersama Rona, tidak ada seorang lelaki pun disampingnya.

Pasti ia selingkuh, pasti! Aku hanya belum menangkap basah saja!
—————
Memasuki waktu senja di hari Kamis, ruang kelas masih gaduh oleh percakapan para mahasiswa. Dosen tata bahasa yang harusnya mengajar hari ini belum datang. Namun 15 menit kemudian pintu kelas terbuka, dan sesosok pria yang tidak lain adalah dosen tata bahasa masuk ke dalam kelas. riuh-rendah di kelas pun penyap.

Para mahasiswa terpaku melihat si dosen. Dosen itu lebih cocok menjadi Artis, dan dosen itu memupus kacamata mahasiswa yang beranggapan kalau kebanyakan dosen itu pasti tua renta, dan juga kepalanya pasti botak—mitos menganggap semakin pemikir seseorang, semakin botak kepalanya.

    “Namanya Aswad,” kata Rona.

    “Ia terlihat masih muda sekali. Aku yakin mungkin usianya sekitar 23 atau 24 tahun,” ucap Sita yang masih memandangi Aswad.

    “Lebih tepatnya 25 tahun.”

    ”Bagaimana kau bisa tahu, heh?” Pandangan Sita sontak beralih ke Rona, muka keheranan tampak di Wajah Sita.

    Rona mendekatkan bibirnya ke daun telinga Sita, membisikkan sesuatu. “Dia itu tetanggaku sekaligus sahabatku dari kecil.”

     “Ah…yang benar?” pernyataan itu membuat Sita terkejut.

    “Kapan aku berbohong padamu, Ta? Tapi diam-diam saja kau, aku membuat kesepakatan dengannya kalau di kelas ini aku dan dia tidak saling mengenal,”

    “Tapi di kelas tata bahasa ini nilaiku pasti A kan?” Sita senyum menggoda.

    “Dasar, Kau! Iya nanti aku akan bilang dia agar memberikan nilai A untukmu dan untukku,” Rona memandang sinis, “O iya, hati-hati kau, jangan sampai jatuh cinta padanya!”

    “Tentu tidak akan, Rona.”

Sita berteman dengan Rona sejak pertemuan pada orientasi mahasiswa. Saat itu, Mereka berdua dihukum berdiri di depan pagar karena memakai kuncir di rambut berwarna merah, sedangkan panitia ospek saat itu sudah menyuruh untuk memakai warna hitam. Sebelumnya, mereka tidak saling kenal, tapi mengapa mereka berdua bisa sama-sama salah dengan warna yang sama pula? Padahal kemungkinan warna yang dipilih cukup banyak. “Mungkin kita jodoh,” kata Sita kala itu. Mereka pun mencuri-curi tawa di depan senior-senior yang memasang muka garang.

Setelah itu ternyata mereka dipertemukan lagi di kelas yang sama. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat. Melakukan apa-apa selalu bersama, membeli baju, menonton bioskop, berenang, dan apapun diusahakan untuk melakukannya bersama.

Sita juga sering bermain di rumah Rona tapi ia tidak pernah melihat Aswad—mungkin  pernah lihat sepintas namun ia tidak ingat. Pantas saja saat Aswad masuk kelas Sita merasa seolah-olah wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya.

Kini, ketika Sita sudah tahu bahwa Aswad tinggal di sebelah rumah Sita, kadang ia bertanya-tanya pada Sita perihal Aswad. Tak jarang juga Sita dan Aswad bertemu di depan rumah, lantas mereka pun saling menyapa dan bercakap-cakap—sebagaimana hubungan dosen dengan mahasiswanya.

Aswad pun juga sering bertanya-tanya tentang Sita pada tetangganya itu. Bertanya makanan kesukaannya, musik kesukaannya, bahkan hal-ikhwal yang tidak penting, jika Rona meladeni terus mungkin Aswad akan bertanya berapa banyak jumlah tahi lalat di badan Sita. Dasar laki-laki memang serba pengin tahu!

Pertemuan yang semakin sering membuat Aswad menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar hubungan dosen dengan mahasiswanya. Ia jatuh cinta pada Sita. Mereka pun menjalin hubungan sebagai kekasih. Dan setelah Sita mendapatkan gelar sarjana sastranya, Aswad langsung meminangnya.
—————
Ada 2 hal yang tidak bisa dihindari Rona. Pertama, takdir Tuhan dan kedua, Sahabat nan juga sekaligus mantan tetangganya yang mengajak untuk ketemuan. Beberapa jam yang lalu Aswad menghubungi Rona meminta untuk menemaninya makan siang. Jika Rona menolaknya pasti ia terus dihantui bagai manisnya kenangan masa lalu yang tak mau lepas. Aswad akan mengendus seperti anjing pelacak. Dan Rona tidak mau nanti Aswad mengunjungi apartemennya, banyak pakaian-pakaian wanita berserakan dan malas dirapikan Rona.

Sejatinya Rona selalu berusaha sejarang mungkin bertemu dengan Aswad. Setiap melihat Aswad, perasaan kesal, cemburu, geram mengalir entah dari hulu di hatinya yang mana, Apalagi jika mereka sudah berkumpul bertiga: Aswad, Sita, dan Rona. Perasaan cemburu Rona menyembul saat Aswad memegang tangan Sita, mencium keningnya, dan melakukan perlakuan romantis yang seharusnya tidak diberikan pada Sita. Dan Rona hanya bisa menyembunyikan emosinya saja sambil memakan makanan yang terhidang di meja saat itu.

Mereka bertiga pernah duduk satu meja hanya dua kali, saat hubungan Aswad dan Sita masih hangat-hangatnya dan ketika mereka mencanangkan hari pernikahannya, dan Rona adalah orang yang pertama kali tahu—serta yang pertama sakit hati.

Sesuai dengan ajakan makan siang Aswad, maka di situlah mereka berada, duduk berhadapan di sudut sebuah kedai dekat stasiun. Tidak banyak orang pada Sabtu siang—yang menjelang sore—itu. Di sudut lainnya, sekumpulan anak muda terpingkal-pingkal serta asap rokok merojol di antara percakapan mereka.

    “Jadi istrimu tidak tahu kita di sini?” Tanya Rona.

    “Tidak,"

Aswad langsung teringat istrinya di rumah yang selagi Ia berangkat sedang di kamar entah melakukan apa. Sebetulnya dalam hati Aswad ada perasaan yang mengganjal. Meski Aswad hanya bertemu dengan sahabatnya, bagaimanapun juga ia bertemu dengan wanita lain.

    “Pasti ini tentang istrimu, kan?

    “Aku mulai takut kau bisa membaca pikiran,”

Mereka berdua tertawa. Tak lama kemudian pelayan kedai membawa pesanan Aswad, mi instan dengan kuah susu serta milkshake caramel. Lalu diikuti pesanan Rona, soto betawi dan lemon tea. Mereka berdua pun melahapnya pelan-pelan, dengan senda gurau yang sesekali terlontar. Setelah makanan mereka sudah habis, barulah Aswad menceritakan masalahnya.  

    “Apa kau tahu sesuatu, mengapa belakangan ini sifat Sita terhadapku berubah?”

    “Mungkin sedang kedatangan tamu bulanan,”

    “Kurasa bukan. Ia terlihat seperti…tidak mencintaiku lagi.” kata Aswad, “Aku yakin ia pasti selingkuh di belakangku,”

    “Apa yang membuatmu menyimpulkan demikian?”

    “Bayangkan saja. Seringkali ia pulang larut malam dengan bibir yang bergincu merah darah, padahal paginya ia tidak memakai gincu setebal itu. Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya memakai gincu tapi tidak ditujukan untuknya?”

Rona terdiam, tidak tahu harus membalas apa.

    “Apa menurutmu,” lanjut Aswad, “aku menceraikannya saja?”

    Sejenak suara lengang, tidak ada suara di meja mereka. Tawa dari percakapan anak muda di meja lainnya terdengar jelas.

    “Itu masalah rumah tanggamu, Wad,” balas Rona, “Aku tidak berhak memutuskan apa kau harus bercerai dengannya atau tidak, tapi aku mengingatkanmu ikatan perkawinan itu tidak seperti saat kau masih pacaran, tidak bisa memutuskan begitu saja hubungan secara sepihak. Dan baiknya kau mempertahankannya saja.”

    “Nah, jika menurutmu harus dipertahankan, walaupun kau sahabatnya, seharusnya kau berkata jujur padaku. Apa dia selingkuh dengan lelaki lain?”

    “Tidak,”

    “Sungguh?”

    “Sungguh.”

    “Sumpah?”

    “Sumpah, Aswad!” tegas Rona, “Ayolah Wad, cemburumu itu berlebihan. Bilik tempat ia bekerja juga berhadapan denganku, jadi aku tahu siapa saja yang menemuinya, ia tidak pernah jelalatan dan tidak ada pria mana pun yang menggoda Sita, semua orang di kantor juga sudah tahu Sita sudah diperistri.”

Rona bergumam dalam hati, Tidak akan aku ampuni jika Sita memang selingkuh!

Aswad menghela napas, kalut marut di benaknya sedikit memudar mengetahui Sita tidak membabi jalang dengan lelaki lain.
—————
Hari sudah gelap. Sepulang dari pertemuan dengan Aswad, Rona kembali ke apartemenya. Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Di depannya televisi sudah menyala, dan terdengar pula suara gebyar-gebyur dari kamar mandi.

Tidak lama kemudian, dari belakang ada pelukan melingkar di leher Rona, pemilik tangan itu mencium tengkuk putih nan halus milik Rona, sementara handuk putih masih melilit sebagian tubuhnya.

    “Lelah?” tanya Sita dengan suaranya yang lembut.

    “Ya begitulah, suamimu rewel sekali.” balas Rona.

    “Sudahlah tak usah dipedulikan,”

    “Kadang aku kasihan juga, dia sepertinya sangat mencintaimu.”

    “Tapi aku kan hanya mencintaimu, sayang.” Rona pun tersenyum.

Sita menuntun Rona ke kamar. Ia melepaskan handuk putihnya. Rona jua menanggalkan pakaiannya satu per satu. Mereka berjalan ke kasur tanpa satu helai pun pakaian kecuali rambut Sita yang masih sedikit basah dan bibirnya yang sudah memakai gincu berwarna merah.
—————


2014

The Persistence of Memory

The Persistence of Memory
The Persistence of Memory (1931)
Di tubuh mimpi, kita menjebak waktu
dalam jam-jam dinding lebih dari satu.
Kita ragami mereka dengan rona yang
sukar ditampik ingatan; warna petang,
bulat bola mata, dan kelabu harapan.

Di luar mimpi, kita hanya kerinduan
yang enggan tatap-muka. Kehidupan kota
telah menjauhkan langkah kaki dan kesibukan
melelehkan semua waktu yang kita miliki.

Waktu paling manis; bercat oranye
karena darah dan tangis, habis
dikerubungi gerombol semut.

Waktu lainnya suluh bulan dan
berjatuhan di berbagai tempat;
di ranting pohon yang dikalahkan
kemarau panjang, di selimut yang
dulu kerap dipakai untuk menyingkap
tubuh kita, di ujung batu yang siap
lebur mengempas tanah.

Kita pun hanya bisa memandang
pengingat waktu bertumbangan
dari langit, seraya mempertanyakan;
leleh waktu atau lelah kau dan aku
yang menghabisi seluruh jam dinding?




────────────────────
-Puisi ini terinspirasi dari lukisan Salvador Dali
-Tersiar di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 20 November 2016. Dapat dijumpai pula di situs Klipingsastra

One Day One Film

Tahun 2016 emang yang paling-paling. Setelah menjadi tahun paling banyak membaca, juga menjadi tahun terbanyak saya menonton film.

Kalau Kota Depok punya program one day no rice, saya punya program one day one film. Jadi tiap hari setidaknya ada satu film yang saya tonton. Namun sebagaimana program-program pemerintah yang tak selalu berjalan mulus, kadang program one day one film ini juga begitu. Kadang terbentur dengan ketersediaan waktu juga.

Saya termasuk penonton film omnivora. Penikmat segala film dengan berbagai genre, baik itu action, komedi, sci-fi, horor, thriller, drama, atau romance. Saya jarang nonton film dari dalam negeri (maafkan), lebih sering menonton film Hollywood. Selain itu, saya juga menonton film dari Bollywood, Britania Raya, Perancis, Rusia, Amerika Latin, Jepang, bahkan Korea pun saya tonton. 

Sebetulnya kesenangan menonton film sudah sejak lama. Cuma baru tahun 2016 aja makin getol menonton

Walaupun saya suka menonton film, saya jarang ke bioskop. Lebih sering nonton di laptop dari download ilegal, atau beli dvd bajakan di abang-abang. Ya, tidak seharusnya ini ditiru, tapi saya selalu menganggap download ilegal dan beli bajakan produk luar adalah perlawanan kecil melawan sepak tejang kapitalisme.
(Halah alasan, bilang aja nggak ada duit!)
───
Oleh sebab menonton film, saya jadi punya hobi baru, yakni men-screenshot dialog-dialog keren, lucu, pokoknya yang menarik lah. Buat yang mau nulis dialog untuk karya fiksi seperti cerpen atau novel, belajar dari dialog film yang bagus adalah cara terbaik untuk membuatnya.

Yang bisa menyebutkan dari film apa semua fragmen-fragmen ini saya ambil, berarti kalian luar biasa.













 
───
Berhubung saya sedang mengenyam studi di jurusan sastra Inggris, bisa berbahasa Inggris adalah sebuah tuntutan tak terelakkan. Saya sadar film itu bukan hanya sebagai hiburan, tapi bisa jadi wadah menyenangkan belajar bahasa Inggris.

Maka dari itu sebisa mungkin pasti saya prioritaskan menonton film daripada belajar bahasa inggris dari buku-buku kuliah.

Dari film juga saya bisa mengamati budaya dan cara berpikir orang-orang sana. Ya, budaya dan cara berpikir, merupakan kesatuan penting dalam mempelajari bahasa asing. 

Menukil perkataan Benedict Anderson dalam memoarnya Hidup di Luar Tempurung, “Mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dengan demikian belajar berempati pada mereka.”
───
Karena ingatan terlalu lemah untuk mengingat semua yang saya tonton, saya pun membuat akun IMDb untuk menandai film-film yang sudah saya tonton. Ada lebih dari 150 film yang saya tonton. Saya akan mendaftarkan beberapa film yang menurut saya bagus yang saya tonton di tahun 2016.

1.    Now You See Me 2 (2016)
2.    Zootopia (2016)
3.    Don't Breathe (2016)
4.    She's Funny That Way (2014)
5.    Silver Linings Playbook (2012)
6.    Midnight in Paris (2011)
7.    3 Idiots (2009)
8.    The Blind Side (2009)
9.    Crows Zero (2007)
10.  The Da Vinci Code (2006)
11.   Love Actually (2003)
12.   The Pianist (2002)
13.   Catch Me If You Can (2002)
14.   Saving Private Ryan (1998)
15.   Mallrats (1995)
16.   Before Sunrise (1995)
17.   Little Women (1994)
18.   Schindler’s List (1993)
19.   Reds (1981)
20.   Manhattan (1979)
21.   Sleuth (1972)
22.   2001: A Space Odyssey (1968)
23.   The Killing (1956)
24.   The Bachelor and the Bobby-Soxer (1947)
25.   His Girl Friday (1940)
26.   Bringing Up Baby (1938)
27.   It Happened One Night (1934)

Membaca Sebagai Jalan Orang-Orang Malas

A cat caught reading Tolstoy

Saya senang membaca. Membaca buku, majalah, komik, maupun membaca status-status orang di media sosial. (entah yang terakhir ini bisa dikategorikan sebagai aktivitas membaca atau tidak)

Kegemaran saya membaca ini udah muncul dari SD. Semua bacaan saya waktu SD adalah komik-komik jepang semacam Naruto, Doraemon, Yu-gi-oh, Eyeshield 21, dan lain-lain.

Semakin saya beranjak dewasa saya semakin mengurangi bacaan komik dan menyentuh novel. Saya nggak ingat pasti kapan saya mulai membaca novel dan novel apa yang pertama saya baca. Seinget saya, pas SMA barulah saya membaca novel yang sebagain besar adalah novel metropop Ilana Tan, Ika Natassa atau buku-buku Raditya Dika. Itu pun aktifitas membaca saya nggak rutin. Tergantung mood aja, kadang bisa dua bulan sekali, empat bulan dua kali, atau enam bulan tiga kali (Lah sama aje tong).

Ketika lulus dan mulai berkuliah, dan sudah mulai dikit-dikit nulis, barulah bacaan saya bertambah dan rutin. Saya mulai bersentuhan dengan sastra. Sejak itu dalam satu hari, saya menganggap waktu yang saya punya adalah 23 jam. Artinya, satu jam lagi, sudah diwajibkan untuk membaca.

Banyak orang berpikir kalau membaca membuat orang menjadi pintar. Tapi menurut saya malah sebaliknya. Membaca membuat kita semakin bodoh. Tepatnya, menyadarkan kita bahwa kita itu bodoh. Begitu banyaknya hal di dunia ini ternyata yang tidak kita tahu.

Filsuf sebijak Socrates pun menyadari hal ini. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal, yakni bahwa dia tidak tahu apa-apa. Jadi barangkali orang yang bijak itu bukanlah orang yang tahu segala hal, tetapi seorang yang sadar akan kebodohan dirinya. Makanya ia mencari tahu dan mencari tahu.
Tahu bulat, digoreng dadakan~

Orang-orang juga berpikir membaca adalah kegiatan dari golongan orang-orang rajin. Tapi nggak juga sih. Membaca adalah jalan bagi pemalas untuk menikmati waktu. Ketika saya lagi hanyut dalam banyak buku, saya malah malas untuk menulis. Makanya saya mengkambinghitamkan kesenangan membaca atas ketidakproduktifan menulis di tahun 2016.

Dampak dari kesenangan membaca juga membuat saya malas menabung. Setiap orang setidaknya pasti punya satu hal yang ia rela menghabiskan banyak uang pada sesuatu itu tanpa menyesalinya; ada yang senang menghamburkan uang buat jalan-jalan, ada yang buat beli sepatu atau baju, ada yang buat beli buku. Nah saya yang terakhir itu. Sebagian besar uang saya dihabiskan untuk membeli buku. Dan saya tidak menyesalinya.

Padahal di rak masih banyak buku yang belum dijamah. 20an buku mungkin yang mengemis-ngemis minta dibaca. Tapi tetap saja beli buku lain. Lemah syahwat rasanya kalau melihat buku-buku bagus dengan harga jatuh.

Sebenarnya kalau mau, di internet juga banyak buku-buku digital yang bisa diunduh gratis. Tapi saya lebih suka buku fisik. Saya mengandaikan buku adalah perempuan. Jika baca buku digital, ibaratnya, kita hanya bisa melihat perempuan itu ngomong menunjukkan ekspresi seksinya. Ya macam di bigo-bigo lah. Paling banter kita ngetik “turunin dikit dong~”, lalu kita hanya bisa melihat dari layar gawai si perempuan menunjukkan tubuh moleknya.

Kalau membaca buku fisik, dengan sedikit membayar, kita bisa bawa pulang perempuan itu dan perempuan itu bisa diapain aja. Boleh dibuka-buka, disentuh, ditidurin, diapain aja deh pokoknya~

Jadi intinya adalah: Jauhi narkoba dan seks bebas!

(((APAAN ANJAS)))

Membaca membuat orang jadi malas; malas membuka buku pelajaran. Walaupun judulnya sama-sama membaca, tapi membaca buku teks kayaknya beda banget sama karya-karya sastra. Gaya bahasa di buku teks terlalu kaku dan hanya mengedepankan kemampuan otak. Tidak seperti karya sastra merangsang otak dan juga perasaan. Mestinya buku-buku teks itu ditulis dengan bahasa sastra yang mengalir juga sih biar nggak bosen dibaca.

Membaca juga membuat saya malas bersosialisasi. Nggak sampai anti sosial juga sih, cuma membikin saya menjadi semakin introvert. Dan saya bangga.

Sebab membaca, dan juga menulis, adalah dua hal yang tidak bisa saya lakukan kalau ada orang-orang berkeliaran di sekitar saya. Maka dari itu, saya lebih sering dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri di kamar.

Itulah cara saya berdamai dengan kesendirian. Kalau kau tahu cara berdamai dengan kesepian, percayalah, kau malah tidak rela meninggalkan kesepian itu, dan hidup tanpa pasangan pun bukan lagi sebuah keresahan besar.
−−−
Menurut data statistik Goodreads, tahun ini saya sudah membaca 64 buku dari 63 buku yang ditargetkan di awal tahun. Ini menjadi jumlah terbanyak yang pernah saya baca. Saya tuliskan daftar buku-buku itu, siapa tahu kau ingin tahu. Tahu bulat, digoreng dadakan~








Itulah buku-buku yang menghabiskan banyak waktu saya di tahun 2016. Walau menghabiskan banyak waktu, saya tidak akan kapok melakukan hal itu lagi.

Setidaknya saya menghabiskan waktu untuk hal yang mulia nan berfaedah. Tapi apa benar banyak membaca berfaedah? Memangnya buku-buku itu akan membawamu ke mana?

Kalau ada orang yang bertanya seperti itu kepada saya, saya pun dengan tegas akan menjawab: Tentu buku-buku itu akan membawa saya ke… ke… ke mana ya? *garuk-garuk kepala*

Ya saya tidak tahu juga ke mana buku-buku itu akan membawa saya. Yang penting saya senang melakukannya, dan barangkali menambah satu-dua pengetahuan baru buat saya.

Tahun depan saya beresolusi akan membaca lebih banyak buku klasik. Saya juga akan memasang target 42 buku untuk dilahap.

Mangsa tahun depan
Target berkurang dari tahun-tahun sebelumnya karena saya mempertimbangkan akan membaca buku-buku tebal yang sudah lama ada di rak, semisal Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan, Burung-burung Manyar-nya Y. B Mangunwijaya, The Prague Cemetery-nya Umberto Eco, War and Peace-nya Tolstoy, buku-buku Pram dan Murakami (Kalau ini tiap tahun wajib dibaca), dan lainya menyusul. Ditambah lagi, kemungkinan waktu akan banyak tersita di semester 6 nanti untuk mengerjakan Penelitian Ilmiah.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya baru menyentuh dunia sastra selepas lulus SMA. Dalam hidup, pasti ada beberapa hal yang kita sesali di hari lalu. Kalau saya, salah satu yang saya sesali di hari lalu adalah, tidak mengenal karya-karya sastra lebih dini.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” -Pramoedya Ananta Toer