Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Kata-kata di Negeri Kita

 

Tepat hari ini, negeri sedang dilanda euforia tahun baru dan abad baru. Tahun ini adalah tahun 2100, teknologi sudah maju berkali-kali lipat dari abad-abad sebelumnya. Mobil terbang, rumah anti gempa, berbagai macam obat untuk penyakit langka pun sudah ditemukan. Hampir semua permasalahan di abad sebelumnya dicari solusi untuk menyelesaikannya.

Namun, ada masalah yang dari dulu tidak pernah bisa diselesaikan, yaitu masalah kebohongan. Sejak tahun 2000an sudah berbagai cara yang coba dilakukan untuk mengatasi kebohongan ini. Salah satunya dengan mencipta alat pendeteksi kebohongan, alat ini untuk mendeteksi fungsi organ tubuh yang bereaksi saat seseorang berbohong. Tapi seiring berjalan waktu alat itu mulai diragukan, para ahli menyatakan bahwa alat itu hanya bisa mengenali perubahan psikologi yang bereaksi pada isyarat, tapi tidak bisa mendeteksi kebohongan.

Ada juga cara yang menurutku sangat konyol, yakni dengan mendatangkan pesulap untuk menghipnotis orang yang akan dibongkar kebohongannya. Jadi si pesulap akan mengambil tisu dari kantungnya lalu membakarnya di depan korban. Sebelumnya, si pesulap berkata, “kau akan tertidur kalau melihat api” berkali-kali. Setelah melihat api korban pun tertidur, dan si pesulap akan mengorek seluruh kebohongan si korban. Sungguh konyol menurutku.  Aku tidak bisa menahan tawa ketika ayahku yang mendapat cerita dari ayahnya, menceritakan padaku.

Kebohongan dianggap berbahaya karena kebohongan merupakan akar dari berbagai macam masalah seperti perselingkuhan, penipuan, korupsi, pemerkosaan dan hal lainnya yang pasti tidak baik. Dan setelah diselidiki, banyak kebohongan yang tercipta akibat terlalu banyak kata yang keluar dari mulut besar manusia. Semakin orang banyak bicara, semakin banyak kebohongan yang dilontarkan. Kata-kata adalah alat yang bisa menipu manusia lainnya. Sehingga mulai hari ini, setelah pertimbangan matang-matang, presiden resmi mengeluarkan undang-undang baru; setiap warga di negerinya tidak boleh bicara lebih dari 500 kata per hari.

***

Enam bulan telah berjalan semenjak peraturan pembatasan kata diresmikan, dan hasilnya sangat menakjubkan. Negeriku yang tadinya merupakan peringkat keempat dalam hal terbesarnya terjadi korupsi, sekarang meluncur jauh kebawah hingga ke peringkat 200. Turun hampir 80%. Presiden saat ini, Jo Kiwo, mendapatkan banyak apresiasi dari Negara-negara di dunia. Beberapa Negara di dunia mulai mengikuti cara dari Jo Kiwo untuk memberantas kebohongan.

Beberapa pejabat dan petinggi negeri yang terlibat korupsi banyak yang mendekam di terungku. Satu-satunya cara para koruptor saling berkolusi dengan komplotannya yaitu dengan mengirim pesan dari gawai mereka, sebab 500 kata tidak akan cukup jika mereka berkumpul untuk berpanjang lebar menyusun rencana. Mereka mungkin lupa, ini adalah tahun 2100. Semua Gawai beserta seluruh isi di dalamnya sudah tersambung pada sistem komunikasi pusat. Dan orang-orang yang bekerja di dalamnya tahu lalu-lintas komunikasi dari gawai yang dimiliki setiap penduduk.

Buatku sendiri peraturan ini tidak terlalu berpengaruh, karena aku adalah seorang yang tak banyak bicara, sebelum atau sesudah peraturan itu ada. Aku biasa bicara dengan orang-orang terdekatku saja, aku terlalu malas untuk berbasa-basi. Basa-basi itu basi. Aku lebih suka membaca dan menulis. Malahan aku sangat mendukung peraturan ini. Aku merasa negeri ini sudah tidak banyak lagi orang-orang sok tahu yang bicara dengan kepala diangkat tinggi-tinggi selayaknya orang yang paling tahu, tidak ada lagi ibu-ibu bergunjing di depan rumahku, tak ada lagi suara-suara tak penting, aku sangat suka suasana yang lengang seperti ini.
Aku tidak butuh ke perpustakaan lagi untuk mencari kesunyiaan, di kafe-kafe pun aku bisa mendapatkannya. Seperti hari ini di sebuah kafe bergaya abad pertengahan, aku sedang melanjutkan menulis novel, suasannya di sini sangat sunyi. Awalnya memang berisik namun lama-kelamaan suara riuh rendah pun hilang. Ketika kata-kata habis orang-orang pun hanya sibuk dengan gawai di tangannya. Aku pun tahu kata-kata mereka sudah habis, aku hanya bisa tertawa melihat mereka. 

Kakekku senang sekali bercerita, tapi sayangnya aku tak pernah berjumpa langsung dengannya, dia sudah meninggal sejak aku lahir. Tapi ayahku sering menceritakan apa yang pernah diceritakan kakek. Kakek pernah bilang, tahun 2015 saat kakek masih seumuran remaja sepertiku sekarang, tanda-tanda ini—pertemuan yang dikuasai oleh gawai—sudah timbul. Kala itu kata-kata masih bebas, namun saat mengadakan perkumpulan dengan teman lama, sahabat, atau karib, mereka lebih sibuk bermain dengan gawainya.

Angka perceraian atau putus hubungan antara sepasang sejoli akibat perselingkuhan juga menurun. Tidak sedrastis tindakan korupsi, tapi tetap saja ini merupakan hal positif. Laki-laki hidung belang maupun perempuan jalang tidak mudah lagi mendapat lawan jenis hanya dengan kata-kata manis. Dan yang terpenting anggota dewan atau calon anggota dewan sudah tidak banyak yang berkoar menyampaikan janji-janji gombal. Penduduk kota akan memilih anggota dewan sesuai dengan tindakan yang telah mereka lakukan. Sungguh kemajuan negeri yang nyata.

***

    Ini jam satu siang. Cuaca cukup untuk memanggang kulit manusia yang berjalan menantang matahari. Orang-orang di luar berlalu-lalang menggunakan payung walaupun cuaca tidak hujan. Hal ini untuk mencegah kulit mereka dari sinar ultraviolet yang semakin tahun semakin panas saja. Aku yang sedang duduk di Kafe—selalu duduk di dekat kaca yang memandang keluar, sesekali memerhatikan orang-orang lewat tergesa-gesa. Dan aku sesekali pula mencuri pandangan ke arah wanita—yang duduk dekat kaca juga, tidak jauh dari tempatku terdiam.

Aku sepertinya mengenal wanita itu, aku juga merasa sekali waktu ia memandang ke arahku. Dari samping ia seperti wanita yang pernah kukenal dulu, bahkan sangat kukenal. Tapi dia yang kumaksud tidak mungkin ada di sini, dia sudah pindah ke tempat yang jauh, mengikuti ayahnya yang memang kerja berpindah-pindah. Banyak orang mempunyai kesamaan rupa, sebaiknya aku meneruskan saja novel yang tak kunjung kelar ini.

    “Permisi,” suara wanita dengan lembut memanggilku. Aku pun menoleh. Dan hampir saja mungkin jantungku ingin keluar karena terkejut melihat wanita itu, ternyata wanita itu memang benar dia. Belum sempat aku bisa menguasai diriku, ia kembali berucap.

    “Ascarya! sudah kuduga. Dari tadi aku memerhatikanmu, awalnya aku ragu kalau itu benar-benar kau, tapi ternyata itu benar kau.”

    “Sungguh sejak tadi aku juga menduga kalau itu kau, Syadzwina. Namun logikaku bilang, mana mungkin kau ada di sini.”

    “Lain kali cobalah terbiasa mendengar kata hatimu saja,” ucap Syadzwina menggodaku.

    “Baiklah.” Kataku, “Sudah berapa kata yang kau gunakan?”

    “Menyapamu adalah kata pertama yang aku keluarkan hari ini. bagaimana dengan kau?”

     “Aku pun.”

Syadzwina kini duduk di sebelahku yang memang sedari tadi tak ada yang menempati. Ia menaruh tas dan buku yang ia bawa di atas meja. 

    “Sepertinya kau sedang membaca ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ dari Eka Kurniawan,” kataku ketika melihat buku yang daritadi ia baca telentang di atas meja.

    “Ya begitulah, kau sudah membacanya, Ar?”

    “Tentu saja. Tentang Ajo Kawir yang burungnya tidak bisa berdiri, bukan?” Syadzwina tertawa. Ia tentu tahu, burung yang dimaksud merupakan arti burung secara konotatif. “Omong-omong, apa tujuanmu kembali ke kota ini?”

    “Sama seperti buku ini, ada rinduku yang belum tuntas.” Ia tersenyum.

Setelah itu kami meneruskan bincang tentang banyak perihal bagaikan bocah yang baru saja belajar bicara. Berbincang tentang aktivitas masing-masing, tentang kebiasaan Syadzwina dari dulu yang suka rambutnya dikuncir kuda, tentang aku yang setelah kepergiannya menjadi suka menulis, dan yang tak terlewatkan tentunya tentang peraturan baru ihwal pembatasan kata-kata.

Syadzwina tidak berubah. Dari rambut hingga ujung kaki masih sama, hanya tingginya saja yang bertambah. Cara bicaranya pun masih sama, seperti kami menjalin hubungan dulu, tak canggung seperti sepasang mantan kekasih yang baru bertemu. Dan setelah 3 tahun tak bertemu, ternyata perasaanku terhadapnya masih sama. Aku masih suka semua cara yang ia lakukan.
Kami dulu berpacaran, kemudian harus pisah karena ayahnya yang pindah kerja ke Singapur. Ia pun melanjutkan studi di sana. Sampai 4 tahun kemudian aku masih tak habis pikir, semesta mempertemukan kami di kafe ini.

Tanpa sadar 500 kata punyaku dan punyanya telah habis. Kemudian kami hanya bisa saling tersenyum.

Pukul 3 sore. Tangan kanan Syadzwina menepak punggung kiriku—tanda pamit. Aku mengangguk, dan ia pun keluar melewati pintu berkaca itu. Aku melanjutkan tulisanku, setelah pertemuan dengannya entah mengapa jari-jarinya menjadi lebih ringan untuk melanjutkan tulisan, kata-kata mengalir lancar dengan sendirinya.

Ketika hari tunggang gunung, aku bergegas pulang.

***

    Setiap Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selalu ada golongan yang pro dan kontra. Di depan Istana Negara sedang ada demonstrasi oleh sekumpulan orang yang menentang Undang-undang baru. Rata-rata para pendemo dikuasai oleh para pekerja yang membutuhkan banyak kata-kata untuk mencari uang. Perwakilan dari mereka berorasi secara bergantian, lalu ketika kata-katanya habis cuma bisa ber Ha-Ha-He-He-Ho-Ho sambil mengacungkan tinggi-tinggi kertas-kertas seukuran karton yang menuliskan keluhan mereka. Sedangkan yang golongan Pro—banyaknya orang-orang yang bekerja di penerbitan buku atau media massa, sedang duduk santai sambil menikmati peningkatan konsumen dari pembaca, sebab, acara televisi sudah banyak yang pailit. Sinetron-sinetron—yang sesungguhnya memang tidak ada yang mendidik—tidak ada lagi yang diproduksi. Bayangkan saja, tiap mengambil satu scene saja dalam satu hari kadang tidak selesai, bagaimana mau mengambil berpuluh-puluh bahkan ratusan scene? Belum lagi untuk acara gosip, satu acara setiap beberapa segmen harus bergonta-ganti penyiar karena kehabisan kata, yang otomatis membuat kepala stasiun televisi membutuhkan uang berkali-kali lipat untuk menambah banyak penyiar. 

Presiden Jo Kiwo tak memusingkan hal itu. Baginya, orang-orang itu hanyalah orang-orang yang putus asa. Jika satu sisi menyempit, di sisi lain pasti melebar. Jika satu pintu tertutup, pintu lain pasti terbuka. Mengapa orang-orang tidak mencari saja di sisi yang melebar itu, begitu kata Jo Kiwo yang dilansir oleh salah satu artikel yang sedang kubaca saat ini.

Daritadi Aku sedang berseluncur di internet membaca-baca berita hari ini. Seharusnya aku melanjutkan cerita novelku namun pikiranku sedang mandek. Bahkan secangkir kopi telah aku beli sudah tinggal menyisakan ampas saja, padahal biasanya kopi bisa mengundang inspirasi menulisku. Pikiranku terpaku pada Syadzwina yang tidak kunjung datang di kafe ini.    

Belasan orang sudah keluar masuk dari pintu berkaca bening di kafe. Aku menengok ke arah pintu setiap ada orang yang baru saja masuk, tentu saja aku menunggu kedatangan Syadzwina. Entah tengokan yang ke berapa, Syadzwina muncul dengan pakaian berwarna kuning terang dan rok hitam beberapa senti di bawah lutut. Lalu menaruh payungnya di dekat kasir—di tempat yang disediakan. Kemudian duduk di sebelahku, seperti yang sudah aku tunggu-tunggu. 

Ia meminta maaf atas keterlambatannya. Aku tidak menerima maafnya, karena dia tidak bersalah. Lagi pula kemarin aku dan dia tidak membuat janji akan bertemu di sini lagi.

Kami berdua pun mengucap kata pertama dan menghabisakan kata terakhir dengan orang yang sama. Kata-kataku habis untuknya dan kata-katanya habis untukku. 

***

    Hujan turun begitu deras. Ketika keluar dari stasiun bawah tanah Jakarta Kota, aku membuka payungku, lalu berjalan menuju kafe. Untuk mencapai kafe itu sendiri hanya butuh 10 menit dengan berjalan kaki.

Sebagian besar pejalan kaki berjalan hati-hati menyusuri trotoar di bawah hujan dengan payungnya. Sebagian lagi berlari seperti dikejar anjing seraya menutupi kepalanya dengan tangan atau tasnya dari tetesan hujan. Aku yang berjalan pelan, tiba-tiba ditubruk oleh seorang pejalan yang berlari seperti anjing itu. Aku terjatuh pada air yang menggenang. Payung yang kupegang terlepas beberapa langkah di belakang. Celana jeans dan kemeja yang kukenakan basah lumayan banyak. Aku meledak marah pada orang itu. Ia tidak tahu hari ini akan jadi hari spesialku. Aku akan menyatakan cinta pada Syadzwina, lagi. setelah pertemuan intens beberapa hari belakangan ini dengan Syadzwina, aku sangat yakin dia masih mencintaiku. Tidak mungkin dia tidak mencintaiku jika ia rela menghabiskan kata-katanya untukku selama seminggu terakhir ini. 

Dia yang hampir seluruh tubuhnya telah basah oleh air, meminta maaf. Aku masih terus berceloteh karena perbuatan cerobohnya ini. Memang tidak sering aku marah-marah pada orang, namun seperti yang tadi kubilang, hari ini merupakan hari spesial. Tapi ya mau gimana lagi, mau tak mau aku harus menemui Syadzwina dengan pakaian yang setengah basah ini. Udara dingin dan permintaan maaf berkali-kali sepertinya mampu meredam sulut api kemarahanku, kemudian aku mengambil payung dan melanjutkan jalan.
Sesampainya di depan pintu ia sudah duduk di tempat biasa. Kali ini ia tidak terlihat habis membaca buku yang seminggu ini ia terus bawa; Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Mungkin buku itu sudah ia selesaikan kemarin.

Syadzwina hanya duduk memandang keluar sambil menyeruput green tea panasnya sedikit-sedikit. Terpaku menatap hujan yang di luar sana. Bahkan kehadiranku pun tak disadari olehnya.

    “Maaf aku terlambat,” kataku menyadarkan lamunannya.

    “Kita kan tidak membuat janji apa-apa dari kemarin.”

    “Benar juga.” 

    “Aku sudah menyelesaikan buku ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’,”

    “Ya, lalu?”

    “Giliranku untuk menuntaskan rindu yang kusimpan,”

    “Maksudmu?”

    “Sebelumnya aku punya pertanyaan untukmu.”

    “Pertanyaan apa, Win?”

Syadzwina terdiam. Sejenak sunyi. Di sekelilingku hanya orang yang sudah kehabisan kata. Otomatis hanya suara hujan di luar kafe yang riuh di telinga.

Syadzwina memandang ke arah pintu di mana sesekali orang bergantian masuk dan keluar.

    “Kau tahu mengapa pintu itu dicipta?”

Aku hanya menatap Syadzwina yang masih memandang pintu. Tak menjawab sepatah kata. Wajahnya tampak serius.

    “Pintu,” katanya, “diciptakan agar setiap orang yang telah pergi masih bisa kembali. Dan ketika ia kembali, ada sepemelukan yang begitu hangat menyambutnya,”

Aku menyimak ucapannya, tapi tidak membalas, karena sepertinya ia belum selesai dengan kata-katanya.

    “Karena itulah aku duduk di sini. Aku ingin membayar tuntas rinduku yang sebenarnya kutujukan padamu. Apa perasaanmu masih sama dan menginginkan kita kembali seperti dulu?”

Dalam hati aku tersenyum. Sudah pasti aku menginginkannya. Namun ketika aku ingin membalas kata-katanya, mulutku bungkam. Bahkan tak bisa bicara barang sepatah pun tak bisa. Sial, kata-kataku sudah habis!

Syadzwina masih menunggu jawabannku. Senyumnya lama-kelamaan pudar melihatku yang tidak menjawab sepatah kata pun. Ia pun pergi sambil menangis, meninggalkan payungnya dan berlari di bawah derasnya hujan. Aku yang sudah kehabisan kata tak bisa memanggilnya. Aku memutuskan membiarkannya dan esok hari aku akan membalasnya. 

Akan tetapi esok dan hari-hari selanjutnya Syadzwina tidak pernah datang lagi ke kafe itu. bahkan sekali waktu aku duduk dari kafe itu dari waktu buka hingga tutup tak ada batang hidungnya di sana.

***

Gincu Merah Itu, Untuk Siapa?

Gincu Merah Itu, Untuk Siapa?
hdwallpaper

Akhir-akhir ini hubungan Aswad dan Sita semakin merenggang saja. Sebagai pasangan suami-istri mereka seringkali mempermasalahkan hal yang sesungguhnya tidak harus dibesar-besarkan. Namun masalah sebenarnya adalah, Aswad merasa Sita sudah berubah, ia merasa cinta Sita padanya sudah berkurang—atau malah sudah pudar. Bahkan Aswad sudah lupa kapan terakhir mereka membicarakan tentang cinta. Padahal, Aswad sudah menjalani tugasnya sebagai suami dengan baik. Ia memberikan uang bulanan, tidak pernah bicara kasar—apalagi berbuat aniaya, dan ia tidak pernah selingkuh. Apa jangan-jangan Sita yang sudah main di belakang?

Pikiran seperti itu sontak singgah di benak Aswad. Ia bukan mencurigai istrinya itu, tapi ya bagaimana lagi, ia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjadi alasan Sita menjauh darinya dan tidak menemukan kalimat yang tepat pula untuk mengganti “apa jangan-jangan Sita yang sudah main di belakang”.

Aswad mempunyai rencana untuk mengetahui apakah istrinya benar-benar selingkuh atau tidak. Ia mengambil cuti selama satu minggu dan membuntuti Sita kemana pun ia pergi. Pagi hari Sita berangkat ke kantor dengan Honda jazz hijaunya, lalu 5 menit kemudian Aswad memberhentikan taksi untuk mengekor Jazz hijau. Sita menuju apartemen Rona—Sahabat Sita dan juga sahabat Aswad—untuk menjemputnya. Sesampainya di gedung kantor mereka berdua keluar seraya tertawa-tawa kemudian masuk ke gedung.

Ketika petang menjelang, mereka pulang. Aswad sudah menunggu di seberang gedung dan kembali membuntutinya. Mobil Sita menuju apartemen, mengantar Rona pulang. Di apartemen ini mobil Sita terparkir cukup lama, Sita ikut turun berjalan menuju kamar apartemennya. Walaupun lama Aswad sabar menunggu demi mencari kebenaran sesungguhnya.

Selama seminggu itu ia tidak menangkap Sita beriringan dengan lelaki lain. Sepulang dari kantor Sita lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen Rona. Satu hari Aswad mengikuti istrinya berjalan ke bar, hari lainnya berbelanja ke mal, akan tetapi semua dilakukan bersama Rona, tidak ada seorang lelaki pun disampingnya.

Pasti ia selingkuh, pasti! Aku hanya belum menangkap basah saja!
—————
Memasuki waktu senja di hari Kamis, ruang kelas masih gaduh oleh percakapan para mahasiswa. Dosen tata bahasa yang harusnya mengajar hari ini belum datang. Namun 15 menit kemudian pintu kelas terbuka, dan sesosok pria yang tidak lain adalah dosen tata bahasa masuk ke dalam kelas. riuh-rendah di kelas pun penyap.

Para mahasiswa terpaku melihat si dosen. Dosen itu lebih cocok menjadi Artis, dan dosen itu memupus kacamata mahasiswa yang beranggapan kalau kebanyakan dosen itu pasti tua renta, dan juga kepalanya pasti botak—mitos menganggap semakin pemikir seseorang, semakin botak kepalanya.

    “Namanya Aswad,” kata Rona.

    “Ia terlihat masih muda sekali. Aku yakin mungkin usianya sekitar 23 atau 24 tahun,” ucap Sita yang masih memandangi Aswad.

    “Lebih tepatnya 25 tahun.”

    ”Bagaimana kau bisa tahu, heh?” Pandangan Sita sontak beralih ke Rona, muka keheranan tampak di Wajah Sita.

    Rona mendekatkan bibirnya ke daun telinga Sita, membisikkan sesuatu. “Dia itu tetanggaku sekaligus sahabatku dari kecil.”

     “Ah…yang benar?” pernyataan itu membuat Sita terkejut.

    “Kapan aku berbohong padamu, Ta? Tapi diam-diam saja kau, aku membuat kesepakatan dengannya kalau di kelas ini aku dan dia tidak saling mengenal,”

    “Tapi di kelas tata bahasa ini nilaiku pasti A kan?” Sita senyum menggoda.

    “Dasar, Kau! Iya nanti aku akan bilang dia agar memberikan nilai A untukmu dan untukku,” Rona memandang sinis, “O iya, hati-hati kau, jangan sampai jatuh cinta padanya!”

    “Tentu tidak akan, Rona.”

Sita berteman dengan Rona sejak pertemuan pada orientasi mahasiswa. Saat itu, Mereka berdua dihukum berdiri di depan pagar karena memakai kuncir di rambut berwarna merah, sedangkan panitia ospek saat itu sudah menyuruh untuk memakai warna hitam. Sebelumnya, mereka tidak saling kenal, tapi mengapa mereka berdua bisa sama-sama salah dengan warna yang sama pula? Padahal kemungkinan warna yang dipilih cukup banyak. “Mungkin kita jodoh,” kata Sita kala itu. Mereka pun mencuri-curi tawa di depan senior-senior yang memasang muka garang.

Setelah itu ternyata mereka dipertemukan lagi di kelas yang sama. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat. Melakukan apa-apa selalu bersama, membeli baju, menonton bioskop, berenang, dan apapun diusahakan untuk melakukannya bersama.

Sita juga sering bermain di rumah Rona tapi ia tidak pernah melihat Aswad—mungkin  pernah lihat sepintas namun ia tidak ingat. Pantas saja saat Aswad masuk kelas Sita merasa seolah-olah wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya.

Kini, ketika Sita sudah tahu bahwa Aswad tinggal di sebelah rumah Sita, kadang ia bertanya-tanya pada Sita perihal Aswad. Tak jarang juga Sita dan Aswad bertemu di depan rumah, lantas mereka pun saling menyapa dan bercakap-cakap—sebagaimana hubungan dosen dengan mahasiswanya.

Aswad pun juga sering bertanya-tanya tentang Sita pada tetangganya itu. Bertanya makanan kesukaannya, musik kesukaannya, bahkan hal-ikhwal yang tidak penting, jika Rona meladeni terus mungkin Aswad akan bertanya berapa banyak jumlah tahi lalat di badan Sita. Dasar laki-laki memang serba pengin tahu!

Pertemuan yang semakin sering membuat Aswad menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar hubungan dosen dengan mahasiswanya. Ia jatuh cinta pada Sita. Mereka pun menjalin hubungan sebagai kekasih. Dan setelah Sita mendapatkan gelar sarjana sastranya, Aswad langsung meminangnya.
—————
Ada 2 hal yang tidak bisa dihindari Rona. Pertama, takdir Tuhan dan kedua, Sahabat nan juga sekaligus mantan tetangganya yang mengajak untuk ketemuan. Beberapa jam yang lalu Aswad menghubungi Rona meminta untuk menemaninya makan siang. Jika Rona menolaknya pasti ia terus dihantui bagai manisnya kenangan masa lalu yang tak mau lepas. Aswad akan mengendus seperti anjing pelacak. Dan Rona tidak mau nanti Aswad mengunjungi apartemennya, banyak pakaian-pakaian wanita berserakan dan malas dirapikan Rona.

Sejatinya Rona selalu berusaha sejarang mungkin bertemu dengan Aswad. Setiap melihat Aswad, perasaan kesal, cemburu, geram mengalir entah dari hulu di hatinya yang mana, Apalagi jika mereka sudah berkumpul bertiga: Aswad, Sita, dan Rona. Perasaan cemburu Rona menyembul saat Aswad memegang tangan Sita, mencium keningnya, dan melakukan perlakuan romantis yang seharusnya tidak diberikan pada Sita. Dan Rona hanya bisa menyembunyikan emosinya saja sambil memakan makanan yang terhidang di meja saat itu.

Mereka bertiga pernah duduk satu meja hanya dua kali, saat hubungan Aswad dan Sita masih hangat-hangatnya dan ketika mereka mencanangkan hari pernikahannya, dan Rona adalah orang yang pertama kali tahu—serta yang pertama sakit hati.

Sesuai dengan ajakan makan siang Aswad, maka di situlah mereka berada, duduk berhadapan di sudut sebuah kedai dekat stasiun. Tidak banyak orang pada Sabtu siang—yang menjelang sore—itu. Di sudut lainnya, sekumpulan anak muda terpingkal-pingkal serta asap rokok merojol di antara percakapan mereka.

    “Jadi istrimu tidak tahu kita di sini?” Tanya Rona.

    “Tidak,"

Aswad langsung teringat istrinya di rumah yang selagi Ia berangkat sedang di kamar entah melakukan apa. Sebetulnya dalam hati Aswad ada perasaan yang mengganjal. Meski Aswad hanya bertemu dengan sahabatnya, bagaimanapun juga ia bertemu dengan wanita lain.

    “Pasti ini tentang istrimu, kan?

    “Aku mulai takut kau bisa membaca pikiran,”

Mereka berdua tertawa. Tak lama kemudian pelayan kedai membawa pesanan Aswad, mi instan dengan kuah susu serta milkshake caramel. Lalu diikuti pesanan Rona, soto betawi dan lemon tea. Mereka berdua pun melahapnya pelan-pelan, dengan senda gurau yang sesekali terlontar. Setelah makanan mereka sudah habis, barulah Aswad menceritakan masalahnya.  

    “Apa kau tahu sesuatu, mengapa belakangan ini sifat Sita terhadapku berubah?”

    “Mungkin sedang kedatangan tamu bulanan,”

    “Kurasa bukan. Ia terlihat seperti…tidak mencintaiku lagi.” kata Aswad, “Aku yakin ia pasti selingkuh di belakangku,”

    “Apa yang membuatmu menyimpulkan demikian?”

    “Bayangkan saja. Seringkali ia pulang larut malam dengan bibir yang bergincu merah darah, padahal paginya ia tidak memakai gincu setebal itu. Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya memakai gincu tapi tidak ditujukan untuknya?”

Rona terdiam, tidak tahu harus membalas apa.

    “Apa menurutmu,” lanjut Aswad, “aku menceraikannya saja?”

    Sejenak suara lengang, tidak ada suara di meja mereka. Tawa dari percakapan anak muda di meja lainnya terdengar jelas.

    “Itu masalah rumah tanggamu, Wad,” balas Rona, “Aku tidak berhak memutuskan apa kau harus bercerai dengannya atau tidak, tapi aku mengingatkanmu ikatan perkawinan itu tidak seperti saat kau masih pacaran, tidak bisa memutuskan begitu saja hubungan secara sepihak. Dan baiknya kau mempertahankannya saja.”

    “Nah, jika menurutmu harus dipertahankan, walaupun kau sahabatnya, seharusnya kau berkata jujur padaku. Apa dia selingkuh dengan lelaki lain?”

    “Tidak,”

    “Sungguh?”

    “Sungguh.”

    “Sumpah?”

    “Sumpah, Aswad!” tegas Rona, “Ayolah Wad, cemburumu itu berlebihan. Bilik tempat ia bekerja juga berhadapan denganku, jadi aku tahu siapa saja yang menemuinya, ia tidak pernah jelalatan dan tidak ada pria mana pun yang menggoda Sita, semua orang di kantor juga sudah tahu Sita sudah diperistri.”

Rona bergumam dalam hati, Tidak akan aku ampuni jika Sita memang selingkuh!

Aswad menghela napas, kalut marut di benaknya sedikit memudar mengetahui Sita tidak membabi jalang dengan lelaki lain.
—————
Hari sudah gelap. Sepulang dari pertemuan dengan Aswad, Rona kembali ke apartemenya. Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Di depannya televisi sudah menyala, dan terdengar pula suara gebyar-gebyur dari kamar mandi.

Tidak lama kemudian, dari belakang ada pelukan melingkar di leher Rona, pemilik tangan itu mencium tengkuk putih nan halus milik Rona, sementara handuk putih masih melilit sebagian tubuhnya.

    “Lelah?” tanya Sita dengan suaranya yang lembut.

    “Ya begitulah, suamimu rewel sekali.” balas Rona.

    “Sudahlah tak usah dipedulikan,”

    “Kadang aku kasihan juga, dia sepertinya sangat mencintaimu.”

    “Tapi aku kan hanya mencintaimu, sayang.” Rona pun tersenyum.

Sita menuntun Rona ke kamar. Ia melepaskan handuk putihnya. Rona jua menanggalkan pakaiannya satu per satu. Mereka berjalan ke kasur tanpa satu helai pun pakaian kecuali rambut Sita yang masih sedikit basah dan bibirnya yang sudah memakai gincu berwarna merah.
—————


2014

Gadis Penjual Air

Gadis Penjual Air


                Desaku terletak di tengah gurun pasir, gurun yang paling luas seantero bumi ini. berada terpencil jauh dari keramaian kota. jika ingin pergi ke kota setidaknya harus berjalan selama 4 hari, itu juga dengan menaiki unta.

            Remaja seumuranku tidak pernah ada yang merantau menyusuri gurun. Orang tua melarang kami menuju ke kota sebelum umur kami di atas 25 tahun. terlalu berbahaya.

            Memang di gurun ini cuaca tidak bisa di prediksi seperti di kota. saat cuaca cerah tidak menutup kemungkinan akan terjadi badai gurun di malam harinya. Jangan pernah melihat cuaca dari tampilannya, begitu kata ayahku.

            Walaupun desaku bisa dibilang penduduknya masih primitif, tapi mereka hidup berdampingan dengan damai. tidak pernah terjadi keributan antar tetangga, ataupun perang saudara. Kita semua berdampingan dengan damai bersama kesederhanaan

            Di desa kami ada seorang gadis yang menjual air. Rumahnya ada di ujung jalan desa. Ada hal yang janggal disana, bagaimana bisa di daerah gurun seperti ini dia menjual air ? darimana dia mendapatkan air itu ? Yang membuatku janggal lagi, gadis itu tidak pernah kehabisan stock air barang seharipun

            Mungkinkan ia dapat dari air hujan ? tentu saja tidak. Disini hujan jarang sekali terjadi. Sekarang saja sudah 1 tahun hujan tidak mengguyur desa tempatku berpijak. Atau mungkin gadis itu mendapat air dari oasis ? sepertinya tidak mungkin juga, oasis jauh dari desa kami.lagipula aku tidak pernah melihatnya keluar rumah, selain menjual airnya.

            Setiap harinya penduduk mengantre di depan rumahnya sebelum fajar menyingsing karena takut kehabisan. Mereka rela antre hingga berjam-jam untuk mendapatkan air yang mereka butuhkan. tentu saja mereka rela melakukan itu, air merupakan salah satu sumber kehidupan. Air bisa digunakan untuk mencuci pakaian sehari-hari, memandikan hewan peliaraan penduduk, dan untuk mengusir tubuh dari rasa dehidrasi. Sangat vital sekali fungsi air.

            Setiap penduduk diperbolehkan untuk membeli air maksimal membawa 5 liter. Itu peraturan dari si gadis tersebut. Jika sudah membeli air dia boleh saja membeli lagi, tapi harus mengantre mulai dari belakang. Peraturan ini diterapkan agar semua penduduk rata mendapat pasokan air dan tidak ada yang tidak kebagian.

            Suatu hari aku disuruh ibu mengantre disana. memang benar-benar ramai, tapi tentu saja walapun ramai kondisi disana masih kondusif dan terkendali, tidak ada yang mengeluh dan protes tidak mendapat air.

            dia berambut panjang dan mempunyai hidung mancung. Bibirnya selalu terkatup rapat, tidak pernah rentetan giginya terlihat. Mukanya selalu tampak murung. Entah dia sedang sedih atau memang sudah tampangnya seperti itu. entahlah.

            Setelah membayar dengan 5 keping uang logam, dan memberikan wadah air, ia menuangkan 5 liter air kedalamnya. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah itu ia kembalikan wadah itu kepadaku tanpa berkata apa-apa. Aku mengucapkan terimakasih, dia hanya membalas dengan mengangguk.
            Sepulang setelah membeli air, aku bertanya pada ibuku.

“bu, siapa nama penjual air itu ?” tanyaku

“namanya Sahira, nak” balas ibu yang sedang memasak makanan untuk sarapan

“mengapa gadis itu tidak pernah terlihat selain saat menjual air saja ?”

“mungkin karena gadis itu jarang bersosialisasi dengan penduduk sekitar, dia gadis pendiam”

“apa dia setiap hari berjualan sendirian ?”

“sepertinya iya, ibunya sudah meninggal karena sakit keras, tidak lama kemudian bergantian dengan kakak pertamanya, lalu terakhir adiknya yang meninggal. sedangkan ayahnya pergi kota tanpa pernah ada kabar” ibu menjelaskan

“kasihan sekali, lalu apakah ibu tau darimana dia mendapat semua air yang tidak pernah habis ini ?” aku bertanya kembali, masih dengan hati yang penasaran

“siapa peduli ? semua penduduk tidak ada yang pernah mau tahu. yang penting gadis itu sudah menyediakan air, dan penduduk membayar, sudah selesai urusan mereka”

            Kata ibu semua peduduk tidak ada yang pernah mau tahu. memang benar, tapi tidak dengan aku. Aku penasaran sekali dari mana gadis ini mendapat air yang berlimpah.

                                                                               ***

            Keesokan harinya, ketika senja perlahan-lahan mulai terbenam. Aku melewati rumah gadis itu. rumah yang hening tanpa suara. Barang dagangan airnya sudah habis, sudah dimasukkan ke dalam rumah. Sebelum matahari berada tepat di atas kepala, air jualan selalu sudah habis. Tidak pernah tidak laku.

            Perlahan-lahan aku mulai mendekati rumahnya. Badanku gemetar sudah seperti bertemu dengan hantu. Aku mencoba memberanikan untuk mengetuk pintu rumahnya. 3 kali mengetuk pintu tidak ada orang menjawab, pintu terbuka sedikit, tidak terkunci.

“permisi”  aku berbicara perlahan seraya membuka pintu. Tidak ada orang menjawab. Rumahnya benar-benar hampa, tidak banyak barang.

Saat pertama memasuki rumahnya, ada 1 gambar tergantung di dinding. Ada 4 orang disana, sepertinya gambar keluarga Sahira. Ada gambar Sahira disana. di gambar itu Sahira sedang tersenyum bersama, kakak, adik, dan ibunya. Diujung gambar tertulis nama Itje. Sepertinya itu nama ayahnya. Aku pun seketika mengerti, ini adalah gambar keluarga Sahira ketika keluarganya masih utuh, dan ayahnya lah yang menggambar ini. aku bertaruh ayahnya adalah seorang pelukis handal. Setiap goresannya seperti hidup, benar-benar seperti nyata lukisan ini.

            Pasti dulu keluarga ini adalah keluarga yang bahagia, kasihan Sahira harus menghadapi kerasnya dunia sendirian.

Saat sedang menikmati lukisan ayah Sahira. aku mendengar suara isak tangis dari arah belakang. aku pun kembali berjalan hati-hati menuju ke dalam ruangan. Semakin masuk kedalam, tangisan semakin keras.

Senja sudah terbenam, bulan sudah siap menggantikan tugasnya. Cahaya bulan masuk melalui lubang-lubang di rumah Sahira. Hembusan angin juga masuk melalui lubang yang sama. Menyentuh kulitku yang ternyata bisa membuat bulu kuduk sedikit merinding

Dengan langkah kecil dan perlahan aku masih menyusuri sumber suara isak tangis itu. Setibanya di dapur yang sedikit sekali terisi perabotan memasak dan tidak terlalu besar, aku melihat seseorang sedang menangis. Itu Sahira!

Dia tidak berhenti-hentinya menangis. Keberadaanku saja tidak disadarinya. Sekarang aku pun mengerti, Sahira adalah seorang gadis penjual air.

Gadis penjual air mata.

Untuk Perempuan Yang Mencintai Senja


illustration from here

27 Maret 2014
Untuk perempuan yang mencintai senja


Hai Zefanya, bagaimana kabarmu ? semoga kamu bahagia karena seharusnya memang begitu. Percaya atau tidak, kesedihanmu adalah mimpi buruk bagiku, jadi walaupun kita sudah tidak bersama lagi kamu harus tetap bahagia dengan hidupmu.
            Apakah kamu masih suka bercerita pada senja ? hobi kamu ini kadang memang aneh.
            Aku ingin sedikit bernostalgia di surat ini, Fa. Tidak apa-apa kan ?
Kamu ingat ketika pertama kali kita bertemu ? di sebuah pantai yang indah di Bali, di Kuta. Kamu sedang duduk sendirian menatap senja. Menatap serius kepadanya seakan akan kamu sedang bercerita kepada senja. Sesekali kamu menutup mata, menghirup udara kuta yang damai, lalu menghembuskannya bersama semua masalahmu. Setelah itu bibirmu langsung menggoreskan senyuman. Setidaknya itu yang kulihat, tidak tahu benar apa yang kau rasakan
Tanpa kamu sadari aku mengambil gambar dengan kamera DSLR ku. Dan aku mendapatkan candid shot yang sangat sempurna. Saat kita pacaran aku belum pernah menceritakan padamu, karena aku tau ini kurang sopan memfoto orang tanpa meminta izin hehehe
Setelah itu aku mendekatimu, memberanikan diri mengeluarkan kata untuk menyapamu

“sedang apa ?” aku bertanya

“tidakkah kau lihat ?” jawabmu datar

“menatap senja ?”

“benar. Lebih tepatnya mencurahkan hati pada senja”

“bagaimana bisa ?”

“susah dijelaskan, yang pasti senja tidak akan pernah berdusta”

            Senja tidak akan pernah berdusta. Itu perkataanmu yang tak pernah aku lupakan. Kadang aku menganggap mencurahkan hati pada senja adalah hal bodoh, tapi bodohnya lagi aku mulai percaya dan terkadang sekarang aku melakukan tindakan yang sama, mencurahkan hati pada senja. Seharusnya kamu tanggung jawab Fa atas hobi baruku ini.
            Aku masih tenggelam dalam pikiranku yang berusaha memahami perkataanmu. Bagai angin yang tiba-tiba menghempas gordeng jendela, aku teringat bahwa aku belum mengetahui namamu.

“oh iya kita belum kenalan” aku mulai bertanya disaat kita sedang sama-sama menatap senja          

“iya ya, namaku Zefanya”

            “aku Bintang”

            “seperti nama perempuan” kamu tersenyum simpul. Itulah kali pertama aku melihat senyumanmu yang ternyata dapat menenggelamkan dalam lautan kebahagian yang membuatku harus menahan napas sejenak.
Kamu melanjutkan perkataan “maaf ya, aku hanya bercanda”

            “tidak apa-apa, lagipula kamu bukan orang pertama yang bilang begitu”

Jujur, sejak pertemuan pertama kita saat itu aku langsung jatuh cinta padamu, Fa. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda yang tersimpan dalam dirimu. Berbeda dengan kamu yang tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, seperti yang pernah kamu bilang.
            Aku mulai mendekatimu dengan sekedar mengajak makan siang bersama atau menonton film di bioskop. Pertemuan kita pun semakin sering. Cinta di dalam diriku semakin liar dan tidak terkendali. Aku menyatakan cinta tepat di Kuta pada saat langit sedang senja. Karena menurutmu senja itu tak pernah berdusta. bukankah begitu, Fa ?
            Tahukah kamu, Fa ? Itulah saat-saat paling bahagia dalam hidupku, bisa menemukan orang yang palingku cinta. setelah aku menyatakan cinta, kamu menerimaku walaupun sebenarnya kamu bilang terlalu cepat. Lalu kita saling menjaga dan berbagi cerita, berbagi cinta. cinta yang tidak akan ada akhirnya, menurutku.
            Tangan kita saat itu sudah tidak mempunyai celah, bergenggam dengan erat. Aku ingat sekali hal-hal konyol yang sering kita lakukan. Ini juga yang membuatmu berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah aku kencani.
Ini yang paling aku ingat, Fa. Waktu itu, saat kita sedang berjalan jalan di sebuah mall, kamu menyuruhku menukar tas yang kita bawa. Kamu membawa tas selempang punyaku dan aku membawa tas jinjing punyamu. Ah…aku terlihat seperti seorang waria pulang kerja mungkin kala itu, Fa. Aku berusaha menahan malu sepanjang mall, kamu hanya tertawa terbahak-bahak. Tapi rasa malu itu seakan sirna ketika melihatmu tertawa lepas. Pada akhirnya akupun jadi ikut tertawa dan tidak mempedulikan apa yang dilihat orang-orang sekitar. Selanjutnya aku mengikuti saja permainanmu yang konyol-konyol. Yang penting bagiku adalah kamu senang Fa.
Tepat di bulan ke 3 kisah cinta kita berjalan, kamu mengajakku berjalan-jalan menyusuri pesisir Kuta. Lagi-lagi Kuta, dan lagi-lagi di kala senja, Kurang lebih pukul 6 Waktu Indonesia Bagian Tengah saat itu. Matahari sudah mulai masuk ke peraduannya. Selama berjalan menusuri pantai kaki kita disambut ombak-ombak kecil. Aku dan kamu terus berjalan tanpa berkata satu patah kata pun.
Kamu terus saja berjalan menunduk, tanpa aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Aku sudah merasa ada yang berbeda, semenjak satu minggu belakangan itu kamu jadi pendiam.
Tiba-tiba kamu terlihat seperti sedang mengeluarkan air mata, aku bingung. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku mulai mencoba menghancurkan keheningan diantara kita

“Zefanya, kamu menangis ?”

            “ tidak kok” kamu menyeka matamu dengan tanganmu

            “sudahlah kamu katakan saja apa yang membuatmu menangis”

            Kamu terdiam

            “Fa ?”

            Tangismu makin menjadi, air mata mulai mengalir membasahi pipimu. Aku merangkulmu. Kamu menangis didalam rangkulanku. Sungguh, melihat kamu menangis sama rasanya seperti hatiku sedang diiris-iris pisau belati, Fa.
            Akhirnya kamu menghindar dari rangkulanku, membasuh air matamu, dan menguatkan diri untuk berbicara padaku. Aku sudah merasa ada yang tidak beres disini

            “Bintang ?” kamu akhirnya mulai bicara

            “ya, Fa ?”

            Kamu terdiam lagi. menghirup napas panjang dan menghempaskannya berkali-kali

            “Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini, kamu tidak perlu lagi mencari atau menghubungiku”

            Sentak aku terkejut, tidak percaya dengan apa yang telah aku dengar. Irama ombak yang menenangkan sudah bukan lagi yang kuharapkan. Pikiran bodohku berharap bahwa tsunami langsung datang menghempas kita dan membawa kita ke lautan yang luas. Mengabadikan hubungan kita di alam lain.

            “mengapa Fa ? apakah aku melakukan kesalahan” aku bertanya, pertanyaan yang dibalut dengan emosi yang mendalam

            “tidak tidak. Ya cuma kita harus melakukannya, setidaknya untuk sementara”

            “sementara ? sampai berapa lama ?”

            “aku tidak tahu”

            “sebenarnya ada apa Fa ? katakan saja”

Kamu memejamkan mata. Aku melihat kamu seperti sedang mencoba mencari kata-kata yang tepat di udara

“selama ini aku menganggapmu seperti mantan tunanganku dulu. wajahmu sedikit banyak kemiripan, bahkan bukan hanya itu, caramu berbicara, intonasi bahkan sifatmu yang sering mengecap lidah sebelum bicara, itu semua yang membuat kamu mirip sekali dengannya. Aku mencoba membuatmu melakukan tindakan-tindakan konyol yang dulu pernah aku lakukan bersamanya”
Kamu memberi jeda sejenak lalu menarik napas panjang “Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau aku masih belum bisa melupakan mantan tunanganku. perasaan ini sungguh membingungkan, Bi. jadi sebaiknya kita berpisah dulu”

            Setelah mengucap itu kamu menunduk, tidak lagi menatap mataku. kamu mendekatkan bibirmu yang sudah dibasahi air mata dan mencium pipiku. Kemudian kamu berbisik pelan 
“maafkan aku Bintang”
            kamu berlari menjauh, dan mengisyaratkan untuk tak mau aku mengejarmu
            Itulah terakhir kali aku melihatmu, Fa.
Sudah 2 tahun kita tidak bertemu tapi hebatnya aku masih mengingat semua hal itu ya. Aku tidak tau apakah kamu masih mengingatnya atau tidak
Surat ini aku tulis di pantai Lovina. Tepat 1 hari setelah kamu mengirimkan paket ke alamat apartemenku di Ubud. Pekerjaan membuat aku singgah disini untuk sementara
            Aku memang sedikit kaget saat membuka paket yang kamu kirimkan. paket yang berisi sepucuk surat dan sebuah undangan pernikahan. tapi aku menyadari ini yang terbaik buat kamu, buat kita.
            Akhirnya kamu sekarang sudah menemukan kebahagianmu di Bandung, seseorang yang bisa kamu cintai dan mencintaimu. Selamat ya atas pernikahanmu yang akan kamu langsungkan 2 minggu lagi. maaf aku tidak bisa datang, bukan karena aku marah, cemburu atau semacamnya, pekerjaanku di Ubud tidak bisa ditinggalkan. Kamu tahu sendiri bosku yang galak dan terkadang mengeluarkan api ketika berjalan. Dulu dia juga yang sering merusak kencan kita. Jadi sekali lagi aku minta maaf tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Disini aku tetap mencintaimu, sebagai sahabat.
Oh iya, di sepucuk surat itu kamu mengucap kata “maaf” mungkin lebih dari 20 kali ya ? hahaha. Ayolah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu, Tuhan yang telah merencanakan semuanya. Ini adalah takdir yang sudah digoreskan oleh Tuhan, aku harus melewatimu dulu dan kamu pun sama, untuk mendapat seseorang yang lebih baik di akhir garisnya.
Dulu aku menganggap kalau cinta tak harus memiliki adalah omong kosong belaka. Tapi kini ketika aku berada pada posisi itu, aku menyadari bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang bisa melihat cintanya bahagia. Bersama atau tanpa dia.
            Zefanya, berjanjilah padaku kamu harus terus bahagia bersama seseorang yang sudah menjadi pilihanmu. janji ?
Terimakasih telah mengisi hari-hariku selama ini


Seorang yang kini mencintai senja



Bintang

Seperti Mimpi

Seperti Mimpi

Bel sekolah sudah berbunyi 3 kali. itu menandakan sudah tepat jam 7 pagi. Siswa kelas 11 ips 1 sudah duduk di bangkunya masing-masing. Mereka bercakap-cakap dengan temannya selagi menunggu guru datang. pintu gerbang sudah akan ditutup oleh satpam yang bertugas. Saat pintu gerbang hampir tertutup sepenuhnya seorang murid perempuan datang dengan terengah-engah.

“pak, sayahh belumhh terrlambat kanhh ?” perempuan itu bicara dengan terengah-engah

“haduh kebiasaan deh kamu mah sher”

“maapph pakh he he” balas sheril, masih dengan nafas terengah-engah

“yaudah masuk atuh cepet, mau babe kunci nih”

Sheryl melanjutkan larinya menuju kelas. Kelasnya ada di lantai 3. Saat sudah dekat dengan pintu kelas, guru yang akan baru saja menginjakkan kaki kanannya ke dalam kelas. dia pun terlambat walaupun hanya terpaut beberapa langkah di belakang guru. Guru yang mengajar adalah guru bahasa Indonesia namanya bu Susi. Termasuk guru yang terkenal seram dan galak saat mengajar. saat di masuk semua murid yang tadinya sedang rebut-ribut langsung diam seketika. Mampus deh gue, ucap sheryl. Jantungnya kini sedang berdegup kencang

“pa..pa..pagi buu” sapa sheril dengan Gugup

“kamu lagi, kamu lagi. berikan satu alasan yang tepat agar ibu tidak menghukummu berdiri di depan kelas”

“saya telat karena saya bermimpi sedang bernyanyi di atas panggung konser yang besar bu”

“lalu apa masalahnya?”

“ketika saya menyanyikan lagu terakhir, para penonton malah teriak we want more! we want more! Alhasil saya nyanyi lagi, eh pas kebangun udah jam 7 kurang 15 menit bu” jawab sheryl dengan bercanda. Berharap guru tertawa dan membebaskannya dari hukuman

mendengar jawaban itu semua murid tertawa, termasuk bu Susi. Bu susi tidak tertawa lepas, hanya ada senyum kecil tergambar di bibirnya. Ini jarang sekali terjadi seorang guru galak bisa tersenyum seperti itu. sheryl berpikir dia telah memenangkan hatinya. Benar saja, dengan wajah yang masih tersenyum bu Susi menyuruh Sheryl segera duduk di bangkunya dan dia memulai pelajarannya


                                                            ***

Jam 10 siang bel berbunyi, menandakan jam istirahat. Eriska, teman sebangku Sheryl mengajaknya pergi ke kantin. Mereka membicarakan tentang pentas seni yang sebentar lagi diadakan di sekolahnya dalam rangka ulang tahun SMA 2
           
“Sher, lo nonton pensi kan ?” Eriska membuka pembicaraan, sambari berjalan menuju kantin

            “gatau nih, males kayanya”

            “yang bener aja sher, lo bakal melewatkan sesuatu yang istimewa”

            “apaan emangnya ?”

            “dia bakal tampil sher, dia!” Eriska berkata dengan antusias. Yang sepertinya nada antusias itu tidak tertangkap oleh Sheryl

            “dia siapa si Ris ?” Tanya Sheryl bingung

            “itu lho kakak kelas paling kece sejagad raya, kak Boy!”

Sheryl baru inget akan hal itu. Boy adalah seorang pemuda tampan yang banyak disukai oleh gadis-gadis di sekolahnya. Tentunya Sheryl merasakan yang sama. Mulai dari teman-teman seangkatan maupun adik kelas dibawahnya. Bagaimana tidak disukai ? wajah tampan dengan sosok sedikit orientalnya. Hidung elok dan proporsional belum lagi dipadukan dengan sikap pendiamnya membuat sosoknya semakin terlihat keren. Tidak heran dia biasa dijuluki gebetan sejuta umat.

Sheryl bukanlah wanita yang suka menyatakan isi hatinya. Dia agak gengsi jika ditanya tentang pemuda yang dia sukai. Termasuk dengan yang ini, Boy. dia tidak pernah mengatakan siapapun kalau dia suka pada Boy bahkan tidak pernah mengatakan ada teman baiknya Eriska. Lagi pula dia merasa tidak perlu menunjukkannya karena sudah banyak juga yang suka dan terang-terangan mengagumi Boy
Diapun mengendalikan perasaannya dan hanya membalas dengan datar “oh dia”

“udah gitu doang ekspresinya ?” balas Eriska

“ya terus gue harus gimana Ris ? gue harus bilang wow sambil jedotin pala ke tembok gitu ?"

“ga gitu juga. Emangnya lo ga ada perasaan apa-apa sher ke dia ? kan hampir semua cewe suka sama dia”

“engga, biasa aja ah”

Di kantin, mereka berdua memesan makanan dan minuman yang sama, nasi goreng dan es teh manis. Tidak butuh waktu lama, makanannya sudah berada di atas meja. Ketika ia sedang menikmati makanan sambil mengobrol, seperti anak perempuan biasa lakukan. ternyata mereka tidak sadar bahwa ada seorang lelaki yang lebih dulu duduk di sebelahnya. Lelaki itu adalah lelaki gebetan sejuta umat, Boy

Setelah menyadarinya, Eriska pun langsung menyapanya. Sheryl inget menyapanya juga, tapi ngengsi lebih memenangi hati dia. Boy membalas dengan tenang dan tersenyum kecil. Senyum yang bisa menaklukan wanita-wanita di dekatnya.

Pelajaran terakhir adalah pelajaran sejarah. Pelajaran yang menurut Sheryl tidak jauh berbeda dengan dongeng anak sebelum tidur. Ketika guru menerangkan tentang sejarah tangan Sheryl sudah disilangkan di atas meja, badanya ditegakkan, dan berusaha memperhatikan guru. Keadaan itu tidak bertahan lama. Beberapa menit kemudian badannya yang tadi tegap dan mata memperhatikan guru, sedikit demi sedikit merunduk bagaikan padi yang mulai berisi. Sheryl tertidur.

***
           
            “Sher, lo pulang naik apa?”
            
            “naik angkot, kenapa ?” Sheryl sedang berjalan pulang ketika Boy memanggilnya di parkiran. Untuk berjalan keluar atau masuk sekolah memang harus melewati tempat parkir dahulu. Yang tidak biasa adalah….Boy menyapanya!
            
            “bareng gue aja mau ngga ?” kata Boy
            
            “emangnya gapapa ?”

“ya gapapa, emangnya kenapa ?”

Kejadian kedua yang tidak biasa, sekarang Boy mengajak Sheryl pulang bareng. Tidak ada sebelumnya di pikiran Sheryl sama sekali.

Di perjalanan mereka saling mengobrol. Entah mengapa Sheryl sangat nyaman sekali bercerita dengan Boy. Padahal baru kali ini dia saling berinteraksi berdua saja seperti ini dengan Boy. Sheryl pun tidak sungkan menceritakan kehidupan pribadinya yang biasanya dia hanya membagi bersama teman-teman wanitanya. Boy yang terlihat dari luar pendiam ternyata jika sudah mengenalnya orangnya sangat asik sekali, batin Sheryl.

Boy mengajak Sheryl untuk jalan-jalan di taman sebelum pulang ke rumah, Sheryl pun mengiyakan tawaran Boy. Sekali lagi kejadian yang tak terduga, Sheryl diajak ke taman bersama Boy. dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa hari ini aku beruntung sekali ya, padahal semalam dan sekarang ngga ada kejadian yang aneh. Semalam aku hanya tidur hingga larut untuk main gitar dan pagi harinya hampir telat masuk sekolah.

Kemudian, motor CBR merah itu berhenti di sebuah taman kota. taman yang sudah jarang dapat di temui di kota Jakarta ini. pohon-pohon rindang membentang indah di setiap sudut taman. Di tengah-tengah taman pun terdapat air mancur yang semakin memperindah taman

“kenapa lo ngajak gue kesini, boy ?” Tanya Sheryl sembari mereka berjalan menyusuri jalanan taman

            “gue pengen nunjukkin aja ke elo, kalo ini tempat favorit gue di kota ini. kalo lagi bosen biasanya gue kesini. Sekedar dengerin musik sambil memandangi pemandangan sekitar. Dan gue biasanya suka duduk di bawah pohon kelapa yang disana itu” boy menunjukkan arah pohon kelapa yang berdiri tegak paling tinggi

Sheryl sebenarnya bingung mengapa ada 1 pohon kelapa yang menjulang tinggi sendirian. Keberadaannya seperti seekor kawanan rusa yang kehilangan rombongannya. Aneh sekali.

taman itu begitu sepi. Tidak ada satu orang pun berlalu-lalang. Seperti sudah di takdirkan saat itu taman hanya untuk Sheryl dan Boy saja.

mereka duduk di bawah pohon kelapa itu, bersandar pada batangnya. Keduanya memandangi langit untuk beberapa saat. Di langit, awan bergerak dengan perlahan dari timur ke barat. Tiba-tiba Sheryl menyadari, tangan boy menggenggam tangannya. tangan yang halus dan penuh kehangatan

genggaman tangan Boy semakin erat. Keduanya membisu, tanpa bertukar kata saling memegang tangan di bawah pohon kelapa yang menjulang itu. 

“sher gue boleh ngomong sesuatu ga ke elo ?” ucap boy memecah keheningan diantara mereka berdua

            “ngomong apa ?”

            “sebenarnya gue itu dari dulu sering merhatiin lo…” Boy menatap mata Sheryl lebih dalam. Dan sekarang ia memegang kedua tangan Sheryl. Kini mereka saling berhadapan. Itu membuat Sheryl menjadi gugup. Jantungnya kini berdegup tidak karuan. Dia mulai tau kemana arah pembicaraan Boy.

            “setiap deket lo jantung gue pasti berdetak kencang”

            “sher, lo mau ga….? Boy terlihat gugup, bibirnya meriak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan.

sheryl yang sudah mengetahui arah pembicaraannya kemana, langsung membatin, Ayo boy katakan saja, katakan!

            “Lo mau ga jadi…”

Sebelum Boy mengatakan maksudnya, tiba-tiba sebuah kelapa jatuh dari pohonnya. Sheryl sempat menengok sebentar, namun jarak yang sudah dekat dan kecepatan kelapa itu tidak memungkinkan Sheryl untuk menghindar. Kelapa itu pun mengenai kepala Sheryl.

Taman, pohon kelapa, langit yang cerah dan bahkan Boy seketika hilang dari pandangan. Sejenak pandangannya hanya putih di setiap sudut. Pemandangannya Sheryl semua berubah, kini hanya terlihat papan tulis, meja belajar, dan teman-teman yang memandang ke arahnya.
           
“Cieee si putri tidur udah bangun” ucap salah seorang teman Sheryl

Sheryl memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Dia menemukan penghapus papan tulis yang ada di mejanya. Hantaman kelapa tadi ternyata adalah sebuah penghapus papan tulis yang dilemparkan oleh guru sejarah.

“sudah puas tidurnya, Sheryl ?” ucap sang guru

Ah sial, ternyata itu semua hanya mimpi. tapi bukankah semua yang kita impikan itu berasal dari mimpi. Sheryl tersenyum.