Di Bangku Panjang

Source: Image
di bangku panjang, kau duduk
barangkali mencoba mengartikan
pantulan bintang-gemintang di atas danau
yang pendarnya adalah; matamu sendiri.

di bangku panjang, aku duduk
menyidai angan di langit-langit,
pada bulan purnama tempo lalu
(saat ini mungkin hanya itu yang kau cari, pasti)
Tentunya kita masih bersebelahan.
kini kian dekat
namun tak lebih dekat dari, spasi kata pada puisi ini.

diantara kita, sunyi duduk
berusaha membunuh kata:
atau malah kita.
kadang ia juga menyulih rindu menjadi amarah.
lantas dibuatnya riak gemericik air, suaru burung hantu,
dan embusan napas
bersatu menjelma eufoni.

dua tangan melengkapi celah jari,
perlahan meluluhkan sunyi
mengalihkan jadi bentuk percakapan --
percakapan tanpa suara;
tanpa kata-kata.

lalu kau buka kembali Sapardi yang kau bawa
membalikkan halaman yang kau suka
tanganmu terhenti di kertas,
yang menyimpan bulu mata
ternyata itu sajak yang dipilih
dan dicinta.

membisikkan kemudian di telingaku
“yang fana adalah waktu, kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa…”

sunyi sudah pergi entah kemana
dan aku,
berharap malam itu akan menjadi panjang

Suatu Hari Nanti, Kita Bersemuka Lebih Dekat

Suatu Hari Nanti, Kita Bersemuka Lebih Dekat

/1/
cinta adalah hujan
dikala malam saat tertidur.
jatuh menghempas tanah,
sebagian tersangkut pada ranting pohon.
ada satu yang membasuh daunmu
/2/
menjelma koloni kunang-kunang
berpendar terang pada kegelapan,
menuntun langkah,
dua pasang kaki menuju cahaya
/3/
tatapan mata yang tajam
menikam tepat di sanubari.
membuatku melafal banyak semoga.
/4/
adalah takdir yang tak terkendali
menenggelamkan ke relung jeladri
dengan harapan kau mengikuti.
jeladri asih.
/5/
mimpi dan pikiran menjadi temaram
terbayang cahaya itu tiap malam.
lampu kamar pun paham,
lalu, mengapa kau masih saja diam?
/6/
doa-doa mengepul di langit-langit kamar
tak henti mengukir namamu.
aku yang menakhlikkan!
/7/
ting – tong – ting – tong
lonceng sekolah dibunyikan
meninggalkan perasaan dan harapan.
suatu hari yang entah,
doa memberi jawaban.
mengirim utusan,
lewat waktu.
kemudian, kita bersemuka
lebih dekat dari ini.



Jemmy
Rumah Tua, 31 Januari 2015

───────────────────────────────────────────────────────────
puisi ini pernah diikutsertakan pada sayembara yang diadakan oleh Kupas Buku Club dan terpilih menjadi salah satu dari sepuluh puisi pilihan Dewan Juri. bisa ditemukan pula di website Kupasbuku

Tendangan Pembawa Bencana

Source: Image
Sejak kecil gue suka banget main sepakbola, bahkan ketika gue masih di dalam janin ibu gue, gue udah latihan adu penalti.

Kemampuan gue dalam bermain sepakbola tidak perlu ditanyakan lagi. waktu gue SMA, gue pernah ngegocek 11 pemain lawan, ampe gawang-gawangnya tuh gue gocek. Gile ga tuh?
kalo ga salah, waktu itu gue lawan anak SD yang ingusnya masih meler-meler.

salah satu bagian vital dalam bermain bola adalah tendangan. Ga mungkin dalam bermain bola lo ga melakukan tendangan. Kecuali kalo lo maen bola bekel, itu beda cerita.

Dari kecil gue ngefans banget sama Steven Gerrard dan David Beckham. Kedua pemain ini dimasa keemasannya mempunyai tendangan yang special. iya spesial, jadi tendangannya pake telor 2.
Engga, engga, bukan itu maksudnya. Maksudnya tendangan mereka itu mematikan. Ngga jarang kita bakal disajikan gol-gol dari tendangan jarak jauh. Tendangan-tendangan itu yang membuat gue cinta banget ama kedua pemain ini.

menurut gue, tendangan jarak jauh itu lebih berseni, lebih bisa memukau hati. Makanya gue sering banget melakukan tendangan jarak jauh, walaupun kadang melenceng jauh dari arah kiblat.

Kedua pemain ini yang secara tidak langsung mengajarkan gue cara menendang. Gue tontonin terus cara mereka menendang, setelah itu gue implementasikan ke lapangan.
Hingga di suatu sore gue ngerasa udah seperti Steven Gerrard.

Tempo itu gue masih kelas 1 SMP. langit sore sangat cerah. Hari yang mendukung sekali untuk main bola. Seperti biasa, sehabis sholat asar gue menuju lapangan. Lapangan yang letaknya cukup dekat, sekitar 5 langkah dari rumah, tak perlu kirim surat, sms juga tak usah~

Yak, goyang bang~

Jarak rumah gue sama lapangan emang deket banget, dengan kata lain, lapangan itu ada di depan rumah gue.
lapangan ini sangat jauh dari standar FIFA. Tanahnya itu tanah merah yang masih banyak batu-batuan kecil. Gue dan teman-teman maennya selalu nyeker, makanya kadang-kadang pas pulang membawa oleh-oleh kaki kapalan. Gawangnya adalah dari bambu yang berdiri kokoh tanpa jaring.

Setelah semua anak berkumpul, lebih kurang 10 orang, pertandingan pun dimulai.

Engga ada wasit, ngga ada pelanggaran, ngga ada peraturan, ngga ada strategi khusus untuk bermain, kami hanya bermain sesuka hati, berusaha mengejar bola dan langsung menendang bolanya ke arah gawang.

Dengan semangat bocah-bocah yang haus gol, Tidak ada yang bisa memberhentikan kami ketika bermain bola kecuali 2 hal. Pertama, yang punya bola udah mau pulang. Kedua, adzan magrib berkumandang.
Hari itu kami harus menyelesaikan permainan lebih awal. Namun, bukan disebabkan oleh kedua hal yang tadi gue sebutkan. Ada 1 hal yang cuma terjadi sekali dalam hidup gue.

Itu semua berawal ketika gue sedang menggiring bola menuju gawang. Ketika menggiring melewati sedikit setengah lapangan, gue memutuskan untuk menembak langsung ke arah gawang. 

        “Jebrettt!” suara komentator terdengar dari kejauhan.

Sayangnya bola tendangan gue berhasil dihalau oleh pemain lawan. pemain lawan ini namanya Iki. Setelah menahan tendangan gue, Iki tersungkur menjerit kesakitan, sambil memegangi kakinya. Kami pun mendekatinya. Engga ada rasa panik yang gue rasain, gue berpikir emang kejadian berbahaya apa yang bisa diderita orang yang kegebok bola.

Ternyata gue salah, Iki semakin menjerit kencang sekali, udah abis kaya dicokslem undertaker. Sepertinya ia kecengklak.

        “lo gapapa, Ki?”

        “aaaaaaaaaaaaa!” Iki menjerit, lama-lama ia mulai menangis

Dia cuma bisa meringis. Gue mulai panik sekaligus bingung. Gue berusaha untuk setidaknya menghibur dia yang sedang sakit.

“sekarang anda memasuki pertanyaan terakhir, nilainya 50 juta rupiah. Jadi apa jawaban anda?”

        “aaaaaaaaaaaaa!”

        “YAK BENAR! SELAMAT ANDA BERHASIL MEMBAWA PULANG UANG 50 JUTA RUPIAH!!!”

Tapi sebelum batu-batu di tanah membocorkan kepala gue, gue putuskan untuk membatalkan ucapan itu.
Kakaknya Iki, yang waktu ikutan main bola juga akhirnya memilih untuk mengantar pulang ke rumah. Iki disuruh untuk berdiri pelan-pelan, ternyata dia gabisa. Karena gabisa berdiri, kakaknya menyuruhnya untuk kayang, lagi-lagi Iki gabisa. Alhasil Iki digendong menuju rumahnya.

Setelah peristiwa itu, gue dan teman-teman ngga melanjutkan permainan, malah ngobrol-ngobrol. Kira-kira 30 menit kemudian, ibunya Iki dateng ke lapangan dengan berurai air mata. Ibunya manggil gue, gue pun mendekati dengan gemetar.

gue engga dimarahin. ibunya nanyain kronologis peristiwa masih dengan air mata berceceran, gue menjelaskan. Ibunya terus ke rumah gue, menceritakannya ke ibu gue. mereka berdua menengok Iki di rumahnya, lalu memanggil tukang urut. Gue kembali ngumpul bareng temen gue.
 Sepulangnya dari rumah korban, ibu gue membawa kabar.

        “kakinya Iki ga kecengklak” kata ibu gue

        “oh bagus deh” bales gue

        “iya engga kecengklak, tapi patah!”

APAH? PATAH??? Jeng jeng *zoom in zoom out*

Buset, separah itukah tendangan gue?
Gue terkejut, namun hal ini membuat gue makin pede karena merasa tendangan gue udah mirip Steven Gerrard.

Akhirnya orang tua gue menanggung semua biaya pengobatan yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Bukan karena sepenuhnya gue yang bersalah, lebih karena orang tua gue pengen menjaga hubungan baik sebagai tentangga.

Setelah peristiwa itu dia gapernah lagi maen bola bareng di lapangan. Gue juga ga ngobrol lagi sama dia selama bertahun-tahun. kabar yang gue terima, setelah 3 bulan ia baru bisa berjalan normal kembali.
Selain pernah matahin kaki orang, kekacauan lain yang pernah disebabkan oleh tendangan gue yaitu bikin anak bocah mimisan, dan pas smp Alhamdulillah gue pernah mecahin kaca sekolah.  

Film-Film yang Menguras Air Mata


Menurut gue, film yang bagus yaitu film yang bisa membawa penontonnya terlarut dalam cerita serta dalam waktu bersamaan film itu berhasil menaik-turunkan perasaan si penonton. 

Ngaa jarang faktor itu ditemui di film drama. Film drama adalah film yang bisa membuat kita senang, galau, bahkan sedih. mengapa? Karena ya disitulah kekuatannya, melibatkan konflik atau emosi penonton.  Banyak orang yang suka film drama karena ceritanya dekat dengan keseharian dan ga susah dimengerti.

Kalo lo belakangan ini lagi seneng, itu artinya lo lagi butuh kesedihan (ada gitu orang yang butuh sedih?). nah gue mau membagi film-film drama yang pernah gue tonton, yang berhasil membuat kesedihan mendalam ketika gue menontonnya.

Film yang menguras air mata bukan berarti harus sad ending, bisa juga cerita happy ending namun konflik di ceritanya itu sangat kuat.

Misalnya begini, ada seorang lelaki yang jatuh cinta pada seekor tapir. Namun, hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua si lelaki dan orang tua tapir. Mereka pun harus menjalani hubungan diam-diam yang penuh rintangan. lalu saat mereka sedang nonton bioskop ibu si lelaki, melabraknya kemudian menendang kaki tapir. Disitulah konfliknya. dan pada akhirnya, walaupun terpaksa, ibu si lelaki dan ibu tapir merestui hubungan mereka. kemudian si lelaki dan tapir pun hidup bahagi dengan 1 kaki si tapir yang pincang. 
sekian.

ITU CERITA APA SIH?!!

Oke skip, gue tau itu gajelas.

Ini dia 5 film yang bisa bikin lo galau. Jangan lupa buat siapin tisu dan bahu untuk bersandar ketika menangis. Kalo lo jomblo, jangan khawatir ga ada bahu buat bersandar, masih ada bahu jalan kok yang sedia untuk tempat bersandar.

1. You are the Apple of My Eye

You are the Apple of my Eyes adalah film yang diadaptasi dari novel semi-autobiografi Giddens Ko dengan judul yang sama. Kebetulan gue udah nonton sekaligus baca the apple of my eye ini. alur cerita dan sifat karakter antara novel dan filmnya banyak yang berbeda. Menurut gue sih novelnya ga sebaik pas di film. Entah gue harus menyalahkan penerjemah buku atau emang penulisnya yang menceritakan kurang baik. Saran gue sih kalo udah nonton film mending gausah beli novelnya, karena lo gabakal dapet cerita yang lo harapkan.

Balik lagi ke filmnya, Cerita ini bermula dari seorang siswa bodoh dan pemalas bernama Ko Jin Teng yang dipindahkan tempat duduk oleh gurunya karena kenakalannya itu. si guru memindahkannya di depan Shin Jiayi yang terkenal cantik dan pandai. Ia juga meminta Shin Jiayi untuk membantu Ko Jin Teng belajar, nah karena hal ini kebersamaan mereka semakin intens dan benih-benih cinta mulai tumbuh.

Bagaimana cerita selengkapnya? Silakan cari di toko dvd bajakan terdekat.






2. I Give My First Love to You

Cinta Takuma mempunyai batas waktu. Ia mempunyai jantung yang lemah. Disaat umut 8 tahun ia tidak sengaja mendengar percakapan dokter dengan orang tuanya bahwa ia tidak akan hidup lebih dari umur 20 tahun. dihancurkan dengan kenyataan ini, dia tidak kehilangan harapan untuk hidup. Harapan ini juga tumbuh karena ada perempuan (teman Takuma dari kecil yang juga mendengar percakapan itu) yang menemani sepanjang hidupnya.

Cerita dari film jepang ini sebenarnya agak klasik dan bisa ditebak dari awal bagaimana kelanjutan keadaan Takuma yang sakit-sakitan. film ini menyajikan cerita yang haru dan menyentuh dari persahabatan masa kecil dua insan manusia yang akhirnya saat remaja menjalin hubungan.




3. The Fault in Our Stars
Film ini mencereritakan tentang Hazel Grace, seorang remaja penderita kanker tiroid stadium 4. Kemana-mana Hazel harus bawa tabung oksigen untuk membuat paru-parunya bernapas normal. Ibunya membawanya ke kelompok dukungan. Suatu kelompok tempat berkumpulnya remaja-remaja yang terkena kanker. di kelompok ini Hazel bertemu dengan Augustus, seorang lelaki yang hot, penderita osteorasma. satu kakinya sudah diamputasi dan dia berjalan dengan satu kaki palsu meski tertutup dibelakang celana jinsnya.

Film ini diadaptasi dari sebuah novel karangan John Green. Berbeda dengan The Apple of My Eye tadi, novel The Fault in Our Star sama baiknya dibanding filmnya. Bahkan novelnya menjadi salah satu novel favorit gue.

Demi apapun film ini sedih banget deh. Lebih sedih dibanding kisah Nassar-Musdalifah.





4. The book Thief

Cerita ini dimulai pada April 1938. Gadis bernama Liesel Maminger dan adiknya ingin diadopsikan oleh ibu kandungnya yang sebenarnya untuk kebaikan mereka. Oleh karena, ibunya seorang komunis, sedangkan kala itu Jerman dibawah kepemimpinan Hitler sangat memusuhi kaum komunis serta yahudi. Namun, di perjalanan adiknya meninggal.

Film ini ingin menggambarkan bagaimana warga jerman hidup di zaman kekuasaan dan peperangan di bawah kepemimpinan Hitler. Debaman bom tak terelakkan, bocah disana juga harus siap ditinggal bapaknya yang diwajibkan membela negara ke medan perang.

Selain cerita The book Thief sangat menyentuh kalbu, film ini juga menginspirasi. Terutama bagi seorang yang suka membaca dan yang ingin menjadi penulis.

Buat para remaja-remaja galau, yang baru diputusin pacar aja udah ampe nangis darah, lo harus nonton film ini. kehilangan lo engga seberapa dibandingkan kehilangan yang harus dialami Liesel Malminger.





5. Miracle in cell no.7


Inilah film yang membuat predikat gue sebagai lelaki-sejati- yang-selalu-tegar-dan-sayang-mama harus tercoreng. Ya, film ini sukses bikin setiap orang yang menontonnya berkaca-kaca bahkan hingga menitikkan air mata. Kalau aja seluruh warga Jakarta mengadakan nonton bareng film ini, gue yakin sekarang Jakarta udah tenggelam oleh lautan air mata.

Miracle in Cell no.7 adalah film asal korea yang dimana korea itu terkenal dengan film drama-drama unyunya itu. tapi film ini tidak menceritakan tentang cerita begitu.

Fim ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama ye seung yang mempunyai ayah yang mempunyai kelainan mental. Ayahnya ini dituduh telah membunuh sehingga harus dipenjara. ye seung tentu sedih sekali karena hanya ayahnya satu-satunya orang tua yang merawatnya, ibunya gatau dah kemana. Lalu, dengan bantuan teman-teman penjaranya, gadis kecil ini bisa dibawa masuk kedalam penjara tanpa sepengengatahuan polisi. dan nanti pada akhirnya….

Hiks gue udah gakuat lagi untuk bercerita, sedih banget. *ngelap air mata*

udah mending lo tonton sendiri aja. Miracle in Cell no.7 ini pokoknya sangat wajib ditonton banget sekali deh. (apaansi ribet banget bahasanya)







nah itu lah film yang menurut gue bisa bikin galau sambil nyilet-nyilet lidah. sebenarnya ada lagi film-film yang pernah gue tonton dan bikin sedih, kaya misalnya, Hachiko sama Pursuit of Happiness. cuma udah pernah sedikit gue tulis disini. 

kalo lo sendiri, ada ngga film yang membuat lo sedih?

Negeri di Atas Awan



Menurut ilmu psikologi, kebahagian travelling sudah bisa didapat saat kita merencanakannya. Meski begitu, gue sebenarnya lebih suka kalo traveling itu engga direncanain dari jauh-jauh hari. Mengapa? karena biasanya, nanti rencana tersebut hanya berakhir menjadi ketidakjadian. Udah dapet kebahagiaan pas ngerencanain segalanya, kemudian tiba-tiba rencana itu batal, kan jadi sakitnya tuh di sini…

Banyak faktor yang mendukung rencana travelling terealisasi. Diantaranya teman, uang, dan waktu. Kadang temen ada, uang dan waktu ga ada. Waktu udah ada, temen dan uangnya ga ada. Waktu dan uangnya udah ada, temennya yang engga ada. Ada aja yang kurang.

Awalnya gue ga menuliskan rencana travelling kemana pun dalam resolusi tahun 2015. Hingga semua itu berubah sejak kak susan dan kak adam dalam blognya pergidulu mengadakan kuis yang bertemakan “what’s your travel plan in 2015?”

Gue pun terpaksa harus memikirkan rencana travelling untuk bisa dituliskan. Sampai, gue teringat pada sebuah ide seorang teman tahun lalu. Dia bilang bahwa ada sebuah desa di Jawa Timur yang berada di atas awan, yang tahun lalu kami ingin kunjungi. Akan tetapi, rencana itu batal dilakukan karena satu dan lain hal.

Nah, gue pengen memasukkan tempat itu kembali pada rencana travelling di 2015. Sebenarnya kalo disuruh milih, ya gue lebih milih ke luar negeri, semisal menonton sepakbola di Liverpool atau berkeliling di sepanjang kanal Vanezia atau mungkin sekadar main karambol di bawah Menara Eiffel. 
Tapi buat seorang mahasiswa semester 1 yang masih merengek uang jajan sama orang tua, Jawa Timur menjadi destinasi yang lebih realistis.

Mungkin di Indonesia sendiri, desa ini tidak se-terkenal Pantai Kuta di Bali, Pulau Komodo di Nusa Tenggara atau Taman Laut Bunaken. Meskipun tempat ini tidak atau mungkin lebih tepatnya belum terkenal, bukan berarti desa di atas awan tidak menarik dikunjungi.  

Sebenarnya desa ini masih merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro sekitar 40 km dari Kota Lumajang. Desa ini lebih dikenal dengan B-29 Lumajang. Kalau lo pikir desa ini disebut B-29 karena memproduksi pesawat atau nuklir, jawabannya salah. Desa ini disebut B-29 karena letaknya yang berada 2.900 meter diatas permukaan air laut.

Penduduk sekitar sering menyebut desa ini sebagai Negeri di Atas Awan. Menurut info, akses jalannyanya agak susah karena harus melalui jalan terjal yang licin dan berliku sehingga masih jarang wisata umum yang mau mengunjungi tempat ini.

Perjalanan travelling ini mungkin bakal terjadi di pertengahan tahun saat liburan semester ganjil yang terbilang panjang. Dan tentunya akan tercapai kalo 3 faktor (uang, waktu, dan teman) ada di waktu yang bersamaan.

Alangkah lebih lengkap lagi jika perjalan nanti bisa mengabadikan momen dengan kamera Canon Powershot SX400 IS yang menjadi hadiah dari kuis ini. Dan katanya, kamera ini zoomnya bisa sampai 30x. wow! Mungkin, bidadari lagi mandi di awan bisa keliatan tuh :p

sumber foto

sumber foto




Sampai bertemu lagi, Kapten!

Sampai bertemu lagi, Kapten!


1 Januari 2015. Pergantian tahun baru dirayakan di seluruh dunia dengan suka cita. Semua kalangan masyarakat, mulai dari para pejabat hingga gepeng di pinggir jalan, terjaga hingga larut hanya untuk menyaksikan kembang api yang menggelegar di langit-langit. semua gembira.

Semua orang bisa menikmatinya dengan caranya sendiri. Semisal minum teh di teras rumah, mendengarkan musik, atau hanya tidur di sepanjang hari. Namun, untuk pemain sepak bola professional di liga inggris harus menghabiskan perayaan tahun baru dengan bola. Tidak seperti Serie A, La Liga, dan liga-liga besar di belahan eropa yang memilih untuk meliburkan jadwal pertandingan ketika tahun baru.

Saya, atau mungkin kami, sebagai pendukung Liverpool tak bisa berlama-lama menikmati euphoria tahun baru. Malah kami harus menerima kesedihan yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Malam itu Liverpool berhasil ditahan imbang oleh tim juru kunci liga, padahal awalnya berhasil unggul 2 gol lebih dulu dari sepakan sang kapten dari titik pinalti. Bukan, bukan hal itu yang membuat para fans sedih (sejujurnya kami sudah terbiasa dengan hasil buruk),  tapi kejadian berjam-jam setelah pertandingan itu.

Saya baru saja terbangun dari tidur. Melakukan ritual meminum segelas air putih lalu melihat apa yang terjadi di dunia lewat aplikasi bernama twitter. Ternyata pagi itu linimasa saya sudah ramai, akun-akun bola dan fanbase si merah membahas satu topik sama dengan kalimat yang berbeda-beda.
‘akhir musim Gerrard akan meninggalkan Liverpool’
Saya hanya bisa menggeram dalam hati. “lelucon macam apa ini?! ah mungkin saya masih bermimpi”

──


Pemain yang di cap sebagai pemain loyal menggegerkan dunia pesepakbolaan dunia. Stevie memilih hengkang dari klub yang sudah dibelanya sejak umur 8 tahun. Ia pun harus melepaskan label one-man-club, dimana pada era modern ini memang sulit dijumpai.

Icon, bintang, legenda hidup, kapten fantastic, bagaimanapun menyebutnya, pria itu bernama Steven George Gerrard.  Stevie pernah dipuja setinggi langit, tetapi belakangan ini banyak kopites sering mengkritisinya karena performanya yang buruk. Meski ada pula kubu berpandangan subjektif yang memuja Gerrard dan menginginkannya bermain di setiap pertandingan (saya dikubu yang subjektif).

Gerrard adalah Liverpool, Liverpool adalah Gerrard. Tidak bisa dipungkiri Gerrard adalah pemain paling dicintai oleh para kopites. Setajam apapun kritikan yang dilontarkan padanya adalah bentuk kecintaan yang begitu dalamnya pada sang kapten. Dan percayalah, sampai kontrak Gerrard yang akan habis di pertengah 2015 nanti. Tidak ada seorang pun yang akan mengkritisinya.

──

Suatu sore yang cerah di Liverpool, lebih tepatnya di Melwood, pemain-pemain dari Liverpool FC baru saja menyelesaikan latihan rutinnya. Semua pemain bergegas mandi. Namun, ada satu pemain yang masih duduk di gimnasium sendirian. Si pemain bernomor delapan.
Tidak lama berselang, seorang pria dengan raut wajah yang serius mendekati si pemain bernomor delapan
           
 “jadi gini capt, gue rasa performa lo dalam bermain udah menurun.”  pria tua itu berkata tanpa basa-basi. Si pemain bernomor delapan menyimak dengan takzim. Lalu si pria tua kembali melanjutkan perkataannya.
            
“gue rasa klub akan membatasi intensitas waktu bermain lo.”
Terjadi keheningan beberapa saat. Air muka si pemain bernomor 8 tetap tegas, tidak terkejut dengan perkataan si pria tua.
           
 “oke coach, lakukan apa yang terbaik menurut klub, gue bakal tetap berusaha memberikan yang terbaik meski harus bermain dari bangku cadangan.” ucap pemain bernomor 8.

ketika menyetir di perjalanan pulang, ucapan si pria tua terngiang-ngiang di pikiran pemain nomor delapan. ia sebenarnya tahu ini untuk kebaikan bersama, akan tetapi untuk pemain yang sudah bertahun-tahun menjadi pemain inti, hal ini sulit diterima. Timbullah perasaan yang hanya terpikir setelah malam pertandingan di Istanbul.

Ini waktu yang tepat.


──

Gerrard dan Liverpool ibarat sepasang suami istri yang sudah ditakdirkan bersama namun tidak pernah dikaruniai seorang pun anak.  Anak tersebut adalah trofi Primer League. 17 tahun bersama tanpa mendapatkan seorang ‘anak’ bukan hal yang mudah diterima oleh hati dan akal sehat. Walakin, bukan karena itu gerrard memutuskan untuk pergi. mencari pengalaman baru yang berbeda yang mendasari keputusannya meninggalkan sang kekasih.

Disaat menjelang kepergiannya, ia masih sempat-sempatnya memikirkan sang kekasih. Gerrard memastikan tak akan bergabung dengan tim rival atau tim manapun yang berkompetisi bersama Liverpool. Sesuatu yang tak akan pernah dilakukan oleh Robin Van Persie, Cecs Fabregas dan bahkan haram hukumnya bagi Zlatan Ibrahimovic.

Musim 2013/2014 Gerrard dan Liverpool hampir saja mendapatkan gelar yang selama ini diidamkan. Ya, hampir. tapi kata Ariana Grande, almost is never enough.

Setiap musimnya, trofi Primer League mendapat prioritas tertinggi pada resolusi klub Liverpool (termasuk pemain, stuff pelatih, para fans, dan tukang kebun Anfield). Namun dari setiap pemain Gerrard lah yang mempunyai ambisi terbesar mendapat gelar ini. sayangnya dia sendiri yang melepaskannya tahun lalu, lewat kepleset spektakulernya (meski sebenarnya bukan hal itu yang sepenuhnya menggagalkan juara).

──

pada masa keemasannya, Gerrard adalah gelandang yang tak kenal lelah. Ia juga siap menekel lawan yang dianggap mengambil bola miliknya. Sering, ia mengirimkan umpan jauh kedepan dan jika menurut dia jaraknya pa,s ia akan menendangnya langsung tanpa harus memikirkan rasionalitas sudut tembak .

Dan para penonton hanya bisa tercengang sembari berkata “kampret! Kok bisa?”

Ya, itulah Gerrard pada masa keemasan. Pada usia yang sudah tidak lagi muda, Gerrard tidak lagi bermain seenergik dulu. Bahkan statistik selama setengah musim ini berbicara bahwa Liverpool lebih sering menang jika Gerrard tidak menjadi starter.

Andai ia akan terus bermain di Anfield mungkin dirinya nanti akan jadi penghangat bangku cadangan seperti Totti atau Giggs.

Totti dan Giggs mempunyai kesamaan jiwa dengan Sutan Sjahir. Lebih memilih cara-cara yang moderat dan mengedepankan diplomasi dalam berurusan dengan lawan. Meski sering dicadangkan di usia senjanya, mereka tetap memilih bertahan di klub yang telah membesarkan namanya. Di bangku cadangan pun ia bisa membantu timnya dengan diplomasi dengan pelatih serta memimpin dan membimbing rekan-rekannya.

Gerrard pun bisa saja seperti itu. tapi, jiwanya bukan Sutan Sjahir. Jiwanya adalah Tan Malaka. Memilih cara revolusi sosial melalui perlawanan angkat senjata. Ia tahu betul, selama ia menjadi pemain professional ia akan berperang di lapangan, tidak dengan berdiplomasi di bangku cadangan. dan selama hatinya masih ingin bermain bola, ia akan terus bermain. – walau harus meninggalkan sang kekasih, Liverpool.

──

Untuk stevie
Dimana pun anda berlabuh, saya akan selalu mendukung penuh dan saya akan tetap menjadi fans berat anda.
Saya tidak akan mengucapkan selamat tinggal. karena semua yakin anda akan kembali ke club ini dengan rasa rindu yang tak terelakkan. Duduk bersama para petinggi klub lalu menandatangani kontrak sebagai kepala manager. Dan akhirnya anda akan melahirkan anak yang telah lama anda impikan, ‘trofi Primer League’

Sampai bertemu lagi, kapten!






sumber
foto : liverpoolfc.com
video : youtube.com