Lebaynya Pertelevisian Indonesia

Image: cultivatingculture
Dewasa ini, kita setuju pasti dunia pertelevisian Indonesia mengalami degradasi dalam hal kualitas. Banyak “orang-orang televisi” hanya bergerak dalam jalur kapitalisme dan hanya mengutamakan peringkat rating-share saja, mengutamakan komersil dan melupakan tujuan untuk mencerdaskan penontonnya. Bicara soal industri, tentu hal itu sah-sah saja. Karena pada dasarnya industri berorientasi pada bisnis.

Tapi yang pengen gue bicarakan di sini bukan hal itu. Tulisan ini berangkat dari kegeraman gue terhadap penyesoran di dunia pertelevisian Indonesia yang makin ke sini makin lebay aja.
.
Waktu itu salah satu stasiun tv sedang menayangkan film The Avenger. Pada satu scene gue liat tayangannya berubah jadi hitam putih. Awalnya gue kira kerusakan ada di stasiun TV-nya atau malah di mata gue, tapi tayangan hitam-putih itu kembali hadir di beberapa scene berikutnya. Hingga akhirnya gue mendapat kesimpulan bahwa hitam putih itu ternyata untuk menyensor ‘Darah’! 

Jadi sekarang kalau ada gelimang darah yang mengucur dari tubuh bakal ada penyensoran hitam-putih. Gue sendiri baru tau, entah ini udah lama atau baru, maklum soalnya gue sejatinya jarang menonton film di TV.

Itulah kelebayan pertama menurut gue. Masalahnya darahnya itu, cuma semisal darah abis berantem lalu jatoh atau kejedot tiang, terus di dahi mengeluarkan darah. Bukan darah bekas tikaman belati, tindakan sadistis, atau pun darah perawan. Bukan.

Ke-lebay-an yang kedua adalah menyensor dada. Kalau dada manusia sih oke aja ya, tapi ini dada Shizuka yang pake bikini aja disensor. Yang lebih absurd, Sandy yang hanya seekor tupai pun terkena imbasnya. Sandy make beha sama sempak aja disensor, terus Spongebob telanjang juga disensor. YA ALLAH ORANG MACAM APA DI DUNIA INI YANG NAFSU SAMA MEREKA? HAH??!! 

Sabar Jem sabar…. *ngelus-ngelus dada* *dadanya Raisa*

Penyensoran ini malah bisa jadi pemicu anak-anak mendekati hal yang sebenarnya dihindari. Maksudnya gini, semisal tadi penyensoran terhadap bikini Shizuka. Kalo nggak disensor, anak-anak bakal lurus-lurus aja nontonnya tanpa berpikir apa pun. Sedangkan ketika Shizuka berbikini disensor, hal itu malah menimbulkan pertanyaan di benak si anak dan kemudian si anak pun mulai mencari kenapa? ada apa? di mana? dengan siapa? semalam berbuat apa?

Secara tidak langsung hal itu pun menjadi awal anak untuk mencari tahu alasan di balik tubuh perempuan yang disensor tersebut.

Hal lainnya yang disensor adalah rokok, yang gue bilang sangat tidak penting. Pas ada scene orang ngerokok, kemudian rokok itu disensor, emangnya terus orang-orang bakal nganggap adegan orang ngerokok itu adalah adegan orang lagi ngisep knalpot kopaja? kan kaga, orang-orang tetep akan tau kalo orang itu lagi ngisep rokok, sekalipun disensor.

Mungkin menyensor rokok lebih ditujukkan kepada anak-anak yang masih polos agar mereka nggak terjerumus mencoba menghisap rokok. Namun apa dengan menyensor rokok itu bisa jadi jaminan anak-anak nggak menyentuh rokok? sedangkan di kehidupan nyata orang ngerokok bertebaran dan bisa ditemukan di mana-mana kayak tukang tahu bulet.

Penyensoran lainnya bisa berbentuk pemotongan pada adegan kekerasan, yang lagi-lagi gue nggak setuju karena itu bisa menghalangi keseruan atau pun kreatifitas yang berusaha diciptakan sang creator. Terakhir gue nonton film Spongebob dan Naruto, sejumlah adegan baku hantam di situ udah dipotong.

Bukan hanya di perfilman, belom lama ini marak terdengar KPAI ingin memblokir game online di Indonesia. Alasannya karena beberapa game online berisikan adegan kekerasan dan mengandung unsur negatif lain bagi perkembangan anak.  

Gue melihat fenomena ini sebagai kepanikan mereka-mereka di sana terhadap perkembangan generasi bangsa. Barangkali besok kalo ada berita anak membunuh temannya dengan melempar batu, semua batu di layar tv langsung disensor.

Mungkin maksud KPI, KPAI, atau LSI emang baik, untuk menyelamatkan generasi Indonesia, tapi mereka melakukan berbagai bentuk penyesoran, sedangkan sinetron-sinetron seperti Ganteng-ganteng Seringgila, Anak Jajanan, atau sinetron lainnya bisa tayang bebas sampai beratus-ratus episode.

Padahal, gue percaya, bahwa perilaku anak dibentuk dari apa yang dia lihat dan alami secara berulang-ulang.

Waktu gue kecil dulu, Tamiya dengan dynamo kilikan aja udah barang mewah yang diidam-idamkan anak-anak karena tontonan gue dulu adalah let’s and go atau beyblade atau crash gear. Zaman sekarang mah anak kecil mintanya dibeliin motor karena persepsi anak zaman sekarang yang dibentuk penonton sinetron semisal Anak Jajanan menganggap punya motor adalah sesuatu yang keren. 

Belum lagi di sinetron-sinetron selalu menampilkan remaja yang kerjaan pacaran mulu di sekolah, pakai mobil sport, dan tinggal di rumah mewah. Padahal hidup nggak se-sinetron itu, dek~

Lepas dari sensor-menyensor, satu lagi yang menganggu gue di televisi adalah iklan Mars Perindo. Bayangkan kalo mars itu didengar oleh anak-anak yang tidak mengerti tentang politik secara terus menerus, bisa-bisa anak zaman sekarang lebih inget Mars Perindo daripada Indonesia Raya.

Jangankan anak-anak, gue aja yang nggak pernah ada niat secuil pun buat ngapalin jadi terngiang-ngiang mulu di kepala...

Majulah seluruh rakyat Indonesia... Arahkan pandangmu ke depan... Raihlah mimpimu bagi nusa bangsa... Satukan tekadmu untuk masa depan.... owuwuouwo~

ah kan gue jadi kelepasan nyanyi, racun dunia dah lagu emang ini. 

Harapan gue sebetulnya acara-acara televisi bisa dikembalikan seperti dulu lagi tanpa ada sensor-sensor absurd dan tidak perlu. Karena hal itu sejatinya hanya memenjarakan kemerdekaan penonton aja. Lebih bijak lah dalam menyensor.

Disamping itu yang hidup di Indonesia itu bukan cuma anak-anak, ada anak konda juga. Pun yang ingin menikmati hiburan di layar kaca bukan cuma anak-anak. Tentu di masalah anak, orang tua mempunyai peranan penting mengawasi tontonan anaknya.

Yak itulah akhir postingan ini. Usai sudah opini seorang rakyat jelata yang tidak tahu menahu banyak perihal di dunia pertelevisian Indonesia. Maafkan opini yang sok tahu ini. Saran gue buat KPI dan LSI sih banyak-banyakin piknik aja deh, jangan kerja mulu.

Tapi kalau KPI dan LSI masih melanjutkan sensor menyensor sebagai upaya menyelamatkan generasi bangsa, jangan kaget di masa depan nanti layar tv di Indonesia isinya sensoran semua, dan yang boleh terlihat cuma muka dan telapak tangan, udah kayak batas aurat wanita.


(((jumpsuit)))


Jangan-jangan pembluran ini bertujuan menutupi fakta bahwa Shizuka adalah seorang lady boy... #misteri

Besok-besok putri duyung mesti pake mukena biar nggak disensor


Make kebaya aja disensor. Kalau Kartini hidup di zaman sekarang pasti dia sering kena sensor tuh.
 
ini paling absurd sih.

Konten 18++

Sumber foto: www.Brilio.net 

Suara Sopir Burung Biru

Suara Sopir Burung Biru

Burung biru di dada kami. Bukan burung garuda. Burung 
garuda terbang terlampau tinggi, memandang kami hanya 
sebagai daging-daging santapan negara. Maka, kami 
memilih mengabdi pada burung biru.
: Burung biru yang menyelamatkan burung kami membiru 
karena tak mendapat jatah. Burung biru yang menjauhkan 
kami dari seteru dan masih bisa basah.

Kemeja biru yang mungkin tidak lagi baru selalu kami 
sematkan di tubuh kami. Kami tidak mengeluh meski kadang
itu dibasahi peluh. Bertahun-tahun kami tahan bermandikan 
lampu-lampu dan rambu-rambu lalu lintas. Saat tersadar, 
kami mencintai jalanan. Kami kira hanya gembel dan para 
polisi yang mencintai jalanan. Ternyata kami juga mencintai 
jalanan. Kala malam merangkak naik, kami pun meniduri 
setiap kilo jalan yang masih perawan.

Kami sekumpulan orang yang juga jatuh cinta pada masa lalu. 
Barangkali masa lalu masih memendam duka dan luka 
yang menganga. Tapi luka bisa menyembuhkan dirinya. 
Dan masa lalu selalu menyediakan lika-liku yang pasti.

Hari lalu menjelmakan kami menjadi harapan-harapan yang putus. 
Membuat kami jadi pembenci masa depan yang ambisius. Sebab 
langit masa depan senantiasa dikerubungi banyak tanda tanya. 
Serupa kepala wanita, masa depan selalu menyimpan teka-teki 
yang sulit diterka. Dan kami sudah terlalu lelah untuk berpikir lagi.

Teknologi adalah antek-antek masa depan. Ia berusaha 
menendang kami dari peradaban. Sedangkan kami 
butuh uang serimba hutan. Keluarga kami butuh makan. 
Burung-burung kami butuh asupan. Oleh karena itu, 
bagi siapa saja yang ingin menghadang dan menendang 
kami dari jalanan; mengusik dan mengusaki kedamaian 
masa lalu kami, maka, seperti sabda Wiji Tukul, 
hanya akan ada satu kata: Lawan!



***
terciptanya puisi ini sejatinya demi memenuhi tugas kuliah untuk membuat puisi. Saat sedang menonton tv 
dan tak punya inspirasi, muncullah berita demo besar-besaran sopir taksi di jakarta waktu itu. Lalu tiba-tiba 
saja saya mendapat inspirasi, lalu menuliskan inspirasi itu menjadi puisi yang baru saja Anda baca.

Menyaksikan Konser Taylor Swift





Yang belum baca hari pertama gue di Singapur, silakan baca dulu di sini.

Perjalanan hari kedua di Singapura gue diawali jam 6 pagi ketika gue terbangun gara-gara wake-up call yang sebenarnya gue nggak minta. Ia akan terus berdering sampai telponnya ada yang ngangkat. Abis mengangkatnya gue kembali tidur, lalu bangun lagi, kemudian berangkat sarapan.

Selepas sarapan, Semua rombongan diminta berkumpul di lobby hotel jam 9 pagi dan bersiap melanjutkan tour ke Madame Tussaud Wax Museum yang berada di Pulau Sentosa.

Museum Madame Tussaud itu berisi patung lilin dari tokoh-tokoh ternama dunia. Mulai dari pemimpin negara, atlet, sampai artis Hollywood.

Sebelum masuk ke Museum Madame Tussaud-nya, kita akan disuguhkan semacam tour tentang perjalanan Singapore dari pertama ditemukan dan bagaimana pulau itu bisa berkembang maju hingga sekarang. Tour kecil ini diringkas dengan menarik. Nantinya akan nada para tour guide yang berbeda-beda tiap ruangannya yang menjelaskan tentang Singapore itu.

Para tournya pun dikemas dengan sedemikian rupa, tidak sekadar menjelaskan materi membosankan kayak ceramah sholat jumat. Misalkan saat pertama kali memasuki tour kita tiba di kantor salah seorang pelaut, anak buah dari kapten siapa gitu gue lupa. Seolah memainkan sebuah peran, pelaut itu menyampaikan bagaimana ia dan kaptennya menemukan negari Singapur lengkap dengan pakaian pelaut dan intonasi layaknya pelaut.

Setelah itu tour guidenya akan berganti sesuai latar yang akan diceritakan. Ada pula ruang yang tidak menggunakan orang asli sebagai pembicara namun sebagai gantinya, teknologi canggih siap menjelaskan sesuatu pada kita.

Sekitar  45 menit tour itu berakhir. Barulah kita akan mencapai patung-patung lilin yang mirip banget kayak tokoh aslinya.













Lanjut kami makan siang masih di area Pulau Sentosa, Lalu kembali ke hotel untuk siap-siap menuju acara selanjutnya, acara utama dari semua perjalanan di Singapur ini. Ya, waktunya untuk The 1989 world tour concert!

Sedikit cerita kebetulan gue emang fans Taylor Swift dari SMA. Pertama kali gue suka Taylor waktu itu gara-gara seorang perempuan, yang kita sebut saja mawar, mengirimkan lagu Taylor via BBM dan nyuruh gue dengerin itu. Gue pun mendengarkan lagu itu dengan saksama. Dengan mendengar lagu itu badan gue langsung gemetar, air mata bercucuran, bibir pecah-pecah, dan kaki kapalan.
maksud gue, ya lagu itu emang menyentuh banget dan gue suka. Gue masih inget banget lagu yang dikirim mawar itu judulnya Enchanted dan sampai sekarang masih menjadi lagu Taylor Swift favorit gue.

Bukan hanya Enchanted, beberapa lagu lain juga catchy banget, semisal Back to December, You Belong With Me, Sparks Fly, Speak Now, Ours, Love Story, Begin Again, dan masih banyak lainnya. Udah berjuta-juta kali gue putar, lagu-lagu tersebut enggak pernah bosen buat didengerin.

Kembali ke perjalanan menjelang konser. Sehabis mandi dan tampang sudah sebelas-duabelas sama Aliando, gue berkumpul lagi dengan kawan-kawan lainnya di Lobby dan langsung berangkat ke Singapore Indoor Stadium, yang mana merupakan tempat konser akan berlangsung.

Letak stadium tidak jauh dari lokasi hotel. Sekitar pukul 4 lewat kami sudah sampai di stadium, masih ada banyak waktu menuju konser yang akan dimulai pukul 8 malam. Jadi, semua pemenang Cornetto diberikan aktivitas bebas. Di stadium itu sendiri hampir tersedia apa aja, seperti Mal, foodcourt, library dan lain-lain. Gue dan Ace memilih memanfaatkan waktu luang itu untuk mengisi perut.

Pukul 6 sore, matahari sudah tak tampak. Awan mendung menggumpal di langit, kemudian menjatuhkan rintik-rintik air yang semakin lama semakin deras. Hujan datang.

Kami semua dibagikan tiket masuk, lalu diantar menuju pintu sesuai pintu yang tertera di tiket kami.
Lima belas menit mengantri, gue pun berada di dalam. Namun Show belum dimulai, masih harus menunggu sekitar 2 jam lagi.

Ketika intro lagu Welcome To New York menggema, seluruh penonton mulai teriak-teriak. Tak lama sosok yang telah ditunggu-tunggu pun muncul dengan anggunnya, dan membuat para penonton histeris.


Lebih kurang show berlangsung selama 2 jam. Terakhir ia menyanyikan lagu andalan Shake It Off, lalu berakhirlah konser pada hari itu.

Beberapa foto dan video yang sempat terjepret: 

























Pria Berambut Panjang


sumber: wifflegif

Terkadang mode rambut pada pria bukan hanya sekedar penampilan. Lebih dari itu, mode rambut bisa menjadi cara menafsirkan karakter seseorang. Contohnya orang berambut pendek identik dengan karakter orang yang taat peraturan, rapi, dan sebagainya. Rambut panjang identik dengan nakal, malas mengurus diri, berantakan. Sedangkan rambut botak identik dengan kasus pencurian (baca: tuyul).

Sekarang ini rambut gue lagi panjang-panjangnya. Cukup panjang dibandingkan kebanyakan pria pada umumnya. Dengan rambut panjang yang menyelimuti muka oriental gue, nggak jarang banyak orang yang bilang gue mirip Lee Min Hoo, To Ming Se, atau David Beckham (yang terakhir enggak deng).

Rambut gue tampak belakang

Rambut gue tampak depan
Memilih rambut panjang, berarti harus siap menerima citra buruk yang tadi gue sebutkan. Dianggap pembelot lah, anak jalanan, atau apa pun yang buruk-buruk. Stereotype yang berkembang di masyarakat membuat pria berambut panjang selalu dihubungkan dengan keburukan.

Ingatlah! Don’t judge book by the cover. buku yang covernya jelek, belom tentu isinya bagus!

Contoh gampangnya liat aja di gedung dewan sana. Emangnya yang sering mencuri uang negara itu orang-orang kumal apa orang-orang yang berpenampilan rapi? BAH.

Meski demikian, berapa banyak pun sering terpampang quotes don’t judge book by the cover, gue rasa itu nggak bakal bekerja. Gue nggak menyalahkan juga orang yang suka menilai orang dari penampilan, sebab mungkin semua manusia melakukan itu. Setiap orang selalu mempunyai hasrat untuk menilai orang lain; menilai sahabat, menilai orang yang baru saja ia kenal, menilai orang yang kebetulan dilihat di jalan, siapa pun itu. Lalu bagaimana cara orang menilai orang yang baru mereka kenal atau orang asing yang sama sekali nggak mereka kenal? Ya tentu termudah dan terkejam adalah menilai dari penampilannya.

Gue sih nggak terlalu peduli dengan pendapat orang. Termasuk soal rambut. Gue sendiri punya beberapa alasan membiarkan rambut gue jadi panjang.

Pertama, gue pengin melihat diri gue dengan tampilan yang berbeda. Sepanjang hidup gue, gue udah pernah mencoba rambut botak, poni lempar, cukuran alay brazil, landak kesurupan, sampai cepak ngehe. Entah nama model rambut itu benar-benar ada atau enggak, tapi begitulah gue menamakan cukuran-cukuran rambut gue dulu yang kadang-kadang nggak jelas. Terutama buat tukang cukur deket rumah gue, yang sering banget bikin cukuran out of the box. Hasilnya jarang banget memenuhi ekspetasi gue. Gue pun nggak pernah lagi cukur di situ, dan memilih tempat cukur yang lebih mahal dan lebih jauh, yang penting memuaskan. 

Tapi udah hampir setahun mungkin gue nggak mengunjungi tukang cukur. Jadilah rambut gue ini memanjang. Inilah rambut terpanjang yang pernah gue miliki dan masih terus berlanjut. Dan karena rambut panjang belom pernah gue coba, gue pun bisa melihat diri gue dengan tampilan yang berbeda.

Alasan kedua, Jiwa  gue yang menuntut untuk tampak berbeda dengan kebanyakan orang. Lo perhatiin nggak sih, banyak seniman yang membiarkan rambutnya terbelai panjang. Gue mulai pikir kalau mereka melakukan hal itu bukan hanya malas mengurus diri semata, karena ya memang jiwa seni mereka yang pengin berbeda sama orang biasa.  

Sebab itulah yang gua rasakan, gue tipe orang yang nggak suka memiliki sesuatu yang sama dengan orang lain. Semisal, waktu kecil gue suka main PS bareng temen-temen sebaya gue. Mereka rata-rata udah punya tim kebanggaan, ada yang suka MU, Arsenal, Madrid, dan lain-lain. Sedangkan gue masih bimbang menjatuhkan pilihan ada tim apa.

Karena melihat tim Liverpool belum ada yang jagoin, gue pun memutuskan memilih Liverpool. Seiring berjalan waktu, dan ketika main PS sering make tim itu, sampai sekarang gue menjadi cinta mati dengan Liverpool.

Sama halnya dengan rambut. Pria rambut panjang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding yang berambut normal/rapi. Perbandingannya adalah 1:50. Angka-angka itu dikeluarkan dari hasil penelitian Bapak rambut sedunia. (ada nggak sih Bapak rambut sedunia?)

Alasan ketiga gue memanjangkan rambut yakni gue ingin menikmati masa-masa kebebasan. Masa kebebasan seseorang, menurut gue adalah ketika kita berada di masa sebagai mahasiswa; yang mana masa ini juga merupakan masa-masa seorang pemuda sedang mencari jati diri yang sebenarnya. 

Waktu zaman masih sekolah mana bisa kita rambut berambut panjang (kecuali rambut yang bukan di kepala ya). Rambut panjang dikit aja udah pasti masuk dalam radar pengincaran guru bp.

Lalu memasuki dunia kerja setelah perkuliahan. Beberapa pekerjaan masih memungkinkan kita untuk berpenampilan bebas, tapi kalau kita terpaksa terperangkap di dunia perkantoran, mau nggak mau, suka nggak suka, kita harus mengikuti peraturan di situ. Dan kebanyakan perkantoran tentu mewajibkan pekerjanya untuk berpenampilan rapi. Di saat itulah kebebasan kita berekspresi secara tidak sadar harus terkekang.

begitulah alasan gue berambut panjang. Gue sendiri menilai rambut berisi setengah dari jiwa gue. Pas gue masih di fakultas olahraga dulu yang mana mewajibkan mahasiswa baru harus botak satu tahun, di saat-saat itu, gue merasa seperti anak tuyul yang kehilangan arah. ke mana-mana harus pake topi atau kupluk. Namun ketika rambut itu tumbuh dan kian memanjang, gue merasa kepercayaan diri gue meningkat dua kali lipat. 
source gif

Jadi selama gue masih nyaman dan belum terpenjara oleh birokrasi yang ada, barangkali gue masih bakal mempertahankan rambut panjang ini. Hidup rambut panjang!



Pelesir ke Singapura


6 November 2015 bisa ditulis sebagai tanggal bersejarah bagi hidup gue. Pada tanggal itulah gue pertama kali bisa berjalan-jalan ke negeri seberang, hari itu pula gua pertama kali bisa naek pesawat!
Salah satu pencapaian besar bagi seorang pengangguran yang sembunyi di balik kata mahasiswa kayak gue gini.

Perjalanan gue ke Singapur ini nggak akan terjadi tanpa Cornetto. Cornetto-lah yang membiayai semuanya mulai dari tiket pesawat Garuda pulang-pergi Jakarta-Singapur, nginep di hotel bintang 3, tour ke beberapa tempat di Singapur, malah sampe dikasih uang saku juga. Sumpah Cornetto ini baiknya nggak nanggung-nanggung. They exactly know how to treat their customer perfectly.

Jadi gue adalah salah satu pemenang yang beruntung menonton langsung konser Taylor Swift di Singapur, dan setiap pemenangnya dapet 2 tiket.

Tadinya gue mau ngajak adek gue, tapi berhubung dia sekolah dan nggak boleh sama nyokap gue. Alhasil gue ngajak satu temen gua yang bernama Ace. Gue ngajak dia karena dari kebanyakan temen gue, kayaknya dia doang yang kesibukannya cuma pacaran sama maen COC. Ditambah lagi, kalo diliat-liat muka dia udah sebelas-dua belas sama patung merlion. Pas.

Perjalanan dimulai pukul 3 pagi di hari Jum'at, gue dan Ace udah berangkat ke Bandara dari Depok naik bis, turun di terminal 2. 
Oh iya, sebelum hari-H, 150 pemenang Cornetto sudah dibagi menjadi 4 kelompok; kelompok A, B, C, dan D. Masing-masing dipimpin oleh satu tour leader. Gue ada di kelompok A dan tour leadernya adalah Mas Antonious.

Sekitar pukul 8, pesawat kami terbang menuju Singapur. Satu setengah jam kemudian mendarat di Changi Airport. Kesan pertama sampai di Changi yaitu bandara ini besar banget!!! Oke mungkin gue norak, tapi bener deh ini bandara gede banget. Kalau aja lo jalan kaki dari terminal bandara ke pintu keluar Changi, gue yakin pulang-pulang lo langsung jadi atlet.

Changi Airport

Di sana gue sudah ditunggu bis yang akan mengantar selama tour di Singapur. Ada tour leader lain lagi ternyata, namanya bu Harban, orang asli Singapura keturunan India. Selama tour, beliau memberikan informasi umum tentang seluk-beluk negeri Singapur.

Yang kayak UFO itu gedung Mahkamah Agung Singapura

Kegiatan pertama saat sampai di singapur adalah menuju sebuah restoran untuk santap siang. Restoran itu berada di sebuah mal, tidak terlalu besar, dan menyiapkan makanan prasmanan khas Indonesia.

Setelah kenyang, kami mengunjungi Merlion Park. Belum sah rasanya kalau ke Singapur belum foto sama patung Merlion, ibaratnya kayak makan sate, tapi nggak pake tusukannya. Nah lo pikirin deh tuh rasanya.


Air Merlionnya mati, belom bayar listrik kayaknya

Gue bersama sosok yang bernama Ace


Menatap masa depan

Sehabis dari Merlion, kami kembali ke bis dan berjalan melewati Esplanade, Rafles Landing Site, dan China Town. Semua dilewati dengan keadaan jalanan yang lancar, nggak macet kayak di Jakarta. Paling macet-macet dikit doang. Di Singapur itu pertumbuhan kendaraannya nggak se-brutal di Jakarta. Di sana kebanyakan penduduknya lebih memilih naik transportasi umum. Murah dan nyaman. 

Lagipula kalau mau beli mobil pribadi di Singapur, harus punya sertifikat kepemilikan mobil yang harganya cukup mahal. Makanya banyak yang lebih memilih transportasi umum. Satu hal kesamaan yang dimiliki Singapur dan Jakarta yaitu panasnya. Ternyata di Singapur panasnya nyengat juga. Panas cuaca ditambah lagi 'panasnya' turis-turis asing dan penduduk lokal.

Sekitar pukul 4 sore, kami berhenti sebentar di salah satu pusat perbelanjaan besar dengan harga bersaing; Bugis. Andai dibandingkan sama Jakarta, Bugis ini mungkin mirip dengan Pasar Tanah Abang. Cuma soal kebersihan dan ketertiban, ya beda jauhlah ya~

Abis dari Bugis, gue dan rombongan menuju Hotel Lavender, hotel yang akan menjadi tempat kami menghabisakan 2 malam di Singapur.

Rachor River, beberapa meter deket hotel Lavender

Andai saja Jakarta lengang kayak gini


We were going to Victoria Street

Sampai di kamar hotel, gue dan Ace buru-buru membersihkan diri buat meluncur lagi menyusuri kota. Pada jam itu tiap peserta rombongan diberikan kebebasan untuk menuju tujuan yang diinginkan. Kami memilih untuk belanja oleh-oleh di Bugis lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sembari menikmati tentramnya kota Singapur.


Kota yang nyaman untuk pejalan kaki


Becak singapur?

Mural-mural artistik yang gue temui di perjalanan kaki menuju bugis

bapa mana bapa~


'what the fuck are you looking at, boy?'
Malamnya, gue dan Ace berniat Garden by the Bay. Karena letaknya yang jauh, kami pun harus menaiki transportasi umum. Singapur adalah salah satu negara yang mempunyai transportasi local yang bersahabat dengan turis. Dan yang menjadi transportasi andalan negara ini adalah MRT (Mass Rapid Transit); kereta bawah tanah yang bisa bikin lo bergerak dari satu titik ke titik lain kota Singapura dengan cepat.

Setelah bertanya-tanya di mana lokasi stasium terdekat dari tempat gue saat itu, gue pun sampe di stasiun Bugis. Di situ nggak ada petugas tiket. Tiket dibeli sendiri di mesin tiket yang mirip kayak mesin ATM.

Gue dan Ace pun ngeliatin orang-orang yang menggunakannya terlebih dahulu. Setelah merasa paham, kami pun menyoba mesin itu. Seperti sudah diduga, kami tidak berhasil pada percobaan pertama. Nggak tau harus masukkin duitnya di mana.

Menjauhlah kami beberapa langkah dari mesin itu dan kembali menatap orang-orang yang sedang menggunakannya. Gue liatin tuh dari kejauhan gimana mereka makenya, dengan harapan saat itu nggak ada orang yang bakal teriakin gue copet. Sebab gue sadar, secara tampang dan gerak-gerik sudah cukup mendukung untuk dibilang copet.

Daripada nyoba-nyoba nggak jelas dan disangka copet dari negeri sebrang, gue dan Ace memutuskan mendekati seorang bocah—mungkin bocah SMP—yang lagi berdiri sendirian di dekat situ. Bocah itu pun langsung memasang muka takut dan memegang dompetnya dengan erat. Melihat tampangnya yang masih lugu, kami membungkam niat untuk menyergapnya, lalu memilih untuk meminta bantuannya aja.

Diajarin deh tuh gue cara makenya yang ternyata semudah menjentikkan jari. Mesin itu akhirnya mengeluarkan tiket dan kembalian. 

Setelah sekitar 15 menit (yang harusnya nggak sampe 1 menit juga udah selesai), gue dan Ace masuk ke dalam stasiun, dan setelah menunggu tidak lama, MRT pun tiba tepat waktu. 

Kami turun di stasiun Marina Bay. Ternyata butuh berjalan kaki yang lumayan jauh lagi buat menjangkau Garden by The bay dari stasiun itu. Berjalanlah kami dikelilingi gemerlap gedung-gedung sejauh mata memandang. Kami sempat mampir ke Marina Mall. Mal itu luas banget. Entah sudah berapa banyak gue menyebut kata luas dan besar yang makin memperlihatkan ke-norak-an gue. Tapi ini beneran luas, sampe-sampe di dalem mal itu ada kanal macam di Belanda gitu.



Marina Bay Mall. Foto ini gue ambil dari wikipedia karena gue nggak sempet foto kanalnya.

Di Marina mall ada jalan yang menghubungkan langsung ke Garden by the Bay. Kami pun melewati jalan itu.

Garden by the bay itu ada taman, ya namanya juga garden. Taman yang cukup lapang dan luar biasa memukau dengan. Ada banyak yang bisa dijelajahi di situ, semisal flower dome, OCBC Skyway, SIlver Garden, Dragonfly lake, Sun Pavillion, dan masih banyak lagi.

Gue tidak banyak mengunjungi lokasi-lokasi itu karena keterbatasan waktu dan tenaga. Ya, gue sudah lelah. Selain dana dan waktu, ternyata kalau berjalan-jalan kaki mengelilingi kota Singapura itu butuh tenaga ekstra juga.

Sekitar pukul 10 malem, gue dan Ace pun naik MRT lagi menuju Hotel. Berakhirlah perjalanan Di Singapura pada hari pertama. Hari kedua akan gue posting di lain waktu.


Garden By The Bay



Tampak Singapore Flyer dari Garden


Marina By The Bay di malam hari

Super Tree