The Persistence of Memory

The Persistence of Memory
The Persistence of Memory (1931)
Di tubuh mimpi, kita menjebak waktu
dalam jam-jam dinding lebih dari satu.
Kita ragami mereka dengan rona yang
sukar ditampik ingatan; warna petang,
bulat bola mata, dan kelabu harapan.

Di luar mimpi, kita hanya kerinduan
yang enggan tatap-muka. Kehidupan kota
telah menjauhkan langkah kaki dan kesibukan
melelehkan semua waktu yang kita miliki.

Waktu paling manis; bercat oranye
karena darah dan tangis, habis
dikerubungi gerombol semut.

Waktu lainnya suluh bulan dan
berjatuhan di berbagai tempat;
di ranting pohon yang dikalahkan
kemarau panjang, di selimut yang
dulu kerap dipakai untuk menyingkap
tubuh kita, di ujung batu yang siap
lebur mengempas tanah.

Kita pun hanya bisa memandang
pengingat waktu bertumbangan
dari langit, seraya mempertanyakan;
leleh waktu atau lelah kau dan aku
yang menghabisi seluruh jam dinding?




────────────────────
-Puisi ini terinspirasi dari lukisan Salvador Dali
-Tersiar di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 20 November 2016. Dapat dijumpai pula di situs Klipingsastra

One Day One Film

Tahun 2016 emang yang paling-paling. Setelah menjadi tahun paling banyak membaca, juga menjadi tahun terbanyak saya menonton film.

Kalau Kota Depok punya program one day no rice, saya punya program one day one film. Jadi tiap hari setidaknya ada satu film yang saya tonton. Namun sebagaimana program-program pemerintah yang tak selalu berjalan mulus, kadang program one day one film ini juga begitu. Kadang terbentur dengan ketersediaan waktu juga.

Saya termasuk penonton film omnivora. Penikmat segala film dengan berbagai genre, baik itu action, komedi, sci-fi, horor, thriller, drama, atau romance. Saya jarang nonton film dari dalam negeri (maafkan), lebih sering menonton film Hollywood. Selain itu, saya juga menonton film dari Bollywood, Britania Raya, Perancis, Rusia, Amerika Latin, Jepang, bahkan Korea pun saya tonton. 

Sebetulnya kesenangan menonton film sudah sejak lama. Cuma baru tahun 2016 aja makin getol menonton

Walaupun saya suka menonton film, saya jarang ke bioskop. Lebih sering nonton di laptop dari download ilegal, atau beli dvd bajakan di abang-abang. Ya, tidak seharusnya ini ditiru, tapi saya selalu menganggap download ilegal dan beli bajakan produk luar adalah perlawanan kecil melawan sepak tejang kapitalisme.
(Halah alasan, bilang aja nggak ada duit!)
───
Oleh sebab menonton film, saya jadi punya hobi baru, yakni men-screenshot dialog-dialog keren, lucu, pokoknya yang menarik lah. Buat yang mau nulis dialog untuk karya fiksi seperti cerpen atau novel, belajar dari dialog film yang bagus adalah cara terbaik untuk membuatnya.

Yang bisa menyebutkan dari film apa semua fragmen-fragmen ini saya ambil, berarti kalian luar biasa.













 
───
Berhubung saya sedang mengenyam studi di jurusan sastra Inggris, bisa berbahasa Inggris adalah sebuah tuntutan tak terelakkan. Saya sadar film itu bukan hanya sebagai hiburan, tapi bisa jadi wadah menyenangkan belajar bahasa Inggris.

Maka dari itu sebisa mungkin pasti saya prioritaskan menonton film daripada belajar bahasa inggris dari buku-buku kuliah.

Dari film juga saya bisa mengamati budaya dan cara berpikir orang-orang sana. Ya, budaya dan cara berpikir, merupakan kesatuan penting dalam mempelajari bahasa asing. 

Menukil perkataan Benedict Anderson dalam memoarnya Hidup di Luar Tempurung, “Mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dengan demikian belajar berempati pada mereka.”
───
Karena ingatan terlalu lemah untuk mengingat semua yang saya tonton, saya pun membuat akun IMDb untuk menandai film-film yang sudah saya tonton. Ada lebih dari 150 film yang saya tonton. Saya akan mendaftarkan beberapa film yang menurut saya bagus yang saya tonton di tahun 2016.

1.    Now You See Me 2 (2016)
2.    Zootopia (2016)
3.    Don't Breathe (2016)
4.    She's Funny That Way (2014)
5.    Silver Linings Playbook (2012)
6.    Midnight in Paris (2011)
7.    3 Idiots (2009)
8.    The Blind Side (2009)
9.    Crows Zero (2007)
10.  The Da Vinci Code (2006)
11.   Love Actually (2003)
12.   The Pianist (2002)
13.   Catch Me If You Can (2002)
14.   Saving Private Ryan (1998)
15.   Mallrats (1995)
16.   Before Sunrise (1995)
17.   Little Women (1994)
18.   Schindler’s List (1993)
19.   Reds (1981)
20.   Manhattan (1979)
21.   Sleuth (1972)
22.   2001: A Space Odyssey (1968)
23.   The Killing (1956)
24.   The Bachelor and the Bobby-Soxer (1947)
25.   His Girl Friday (1940)
26.   Bringing Up Baby (1938)
27.   It Happened One Night (1934)

Membaca Sebagai Jalan Orang-Orang Malas

A cat caught reading Tolstoy

Saya senang membaca. Membaca buku, majalah, komik, maupun membaca status-status orang di media sosial. (entah yang terakhir ini bisa dikategorikan sebagai aktivitas membaca atau tidak)

Kegemaran saya membaca ini udah muncul dari SD. Semua bacaan saya waktu SD adalah komik-komik jepang semacam Naruto, Doraemon, Yu-gi-oh, Eyeshield 21, dan lain-lain.

Semakin saya beranjak dewasa saya semakin mengurangi bacaan komik dan menyentuh novel. Saya nggak ingat pasti kapan saya mulai membaca novel dan novel apa yang pertama saya baca. Seinget saya, pas SMA barulah saya membaca novel yang sebagain besar adalah novel metropop Ilana Tan, Ika Natassa atau buku-buku Raditya Dika. Itu pun aktifitas membaca saya nggak rutin. Tergantung mood aja, kadang bisa dua bulan sekali, empat bulan dua kali, atau enam bulan tiga kali (Lah sama aje tong).

Ketika lulus dan mulai berkuliah, dan sudah mulai dikit-dikit nulis, barulah bacaan saya bertambah dan rutin. Saya mulai bersentuhan dengan sastra. Sejak itu dalam satu hari, saya menganggap waktu yang saya punya adalah 23 jam. Artinya, satu jam lagi, sudah diwajibkan untuk membaca.

Banyak orang berpikir kalau membaca membuat orang menjadi pintar. Tapi menurut saya malah sebaliknya. Membaca membuat kita semakin bodoh. Tepatnya, menyadarkan kita bahwa kita itu bodoh. Begitu banyaknya hal di dunia ini ternyata yang tidak kita tahu.

Filsuf sebijak Socrates pun menyadari hal ini. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal, yakni bahwa dia tidak tahu apa-apa. Jadi barangkali orang yang bijak itu bukanlah orang yang tahu segala hal, tetapi seorang yang sadar akan kebodohan dirinya. Makanya ia mencari tahu dan mencari tahu.
Tahu bulat, digoreng dadakan~

Orang-orang juga berpikir membaca adalah kegiatan dari golongan orang-orang rajin. Tapi nggak juga sih. Membaca adalah jalan bagi pemalas untuk menikmati waktu. Ketika saya lagi hanyut dalam banyak buku, saya malah malas untuk menulis. Makanya saya mengkambinghitamkan kesenangan membaca atas ketidakproduktifan menulis di tahun 2016.

Dampak dari kesenangan membaca juga membuat saya malas menabung. Setiap orang setidaknya pasti punya satu hal yang ia rela menghabiskan banyak uang pada sesuatu itu tanpa menyesalinya; ada yang senang menghamburkan uang buat jalan-jalan, ada yang buat beli sepatu atau baju, ada yang buat beli buku. Nah saya yang terakhir itu. Sebagian besar uang saya dihabiskan untuk membeli buku. Dan saya tidak menyesalinya.

Padahal di rak masih banyak buku yang belum dijamah. 20an buku mungkin yang mengemis-ngemis minta dibaca. Tapi tetap saja beli buku lain. Lemah syahwat rasanya kalau melihat buku-buku bagus dengan harga jatuh.

Sebenarnya kalau mau, di internet juga banyak buku-buku digital yang bisa diunduh gratis. Tapi saya lebih suka buku fisik. Saya mengandaikan buku adalah perempuan. Jika baca buku digital, ibaratnya, kita hanya bisa melihat perempuan itu ngomong menunjukkan ekspresi seksinya. Ya macam di bigo-bigo lah. Paling banter kita ngetik “turunin dikit dong~”, lalu kita hanya bisa melihat dari layar gawai si perempuan menunjukkan tubuh moleknya.

Kalau membaca buku fisik, dengan sedikit membayar, kita bisa bawa pulang perempuan itu dan perempuan itu bisa diapain aja. Boleh dibuka-buka, disentuh, ditidurin, diapain aja deh pokoknya~

Jadi intinya adalah: Jauhi narkoba dan seks bebas!

(((APAAN ANJAS)))

Membaca membuat orang jadi malas; malas membuka buku pelajaran. Walaupun judulnya sama-sama membaca, tapi membaca buku teks kayaknya beda banget sama karya-karya sastra. Gaya bahasa di buku teks terlalu kaku dan hanya mengedepankan kemampuan otak. Tidak seperti karya sastra merangsang otak dan juga perasaan. Mestinya buku-buku teks itu ditulis dengan bahasa sastra yang mengalir juga sih biar nggak bosen dibaca.

Membaca juga membuat saya malas bersosialisasi. Nggak sampai anti sosial juga sih, cuma membikin saya menjadi semakin introvert. Dan saya bangga.

Sebab membaca, dan juga menulis, adalah dua hal yang tidak bisa saya lakukan kalau ada orang-orang berkeliaran di sekitar saya. Maka dari itu, saya lebih sering dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri di kamar.

Itulah cara saya berdamai dengan kesendirian. Kalau kau tahu cara berdamai dengan kesepian, percayalah, kau malah tidak rela meninggalkan kesepian itu, dan hidup tanpa pasangan pun bukan lagi sebuah keresahan besar.
−−−
Menurut data statistik Goodreads, tahun ini saya sudah membaca 64 buku dari 63 buku yang ditargetkan di awal tahun. Ini menjadi jumlah terbanyak yang pernah saya baca. Saya tuliskan daftar buku-buku itu, siapa tahu kau ingin tahu. Tahu bulat, digoreng dadakan~








Itulah buku-buku yang menghabiskan banyak waktu saya di tahun 2016. Walau menghabiskan banyak waktu, saya tidak akan kapok melakukan hal itu lagi.

Setidaknya saya menghabiskan waktu untuk hal yang mulia nan berfaedah. Tapi apa benar banyak membaca berfaedah? Memangnya buku-buku itu akan membawamu ke mana?

Kalau ada orang yang bertanya seperti itu kepada saya, saya pun dengan tegas akan menjawab: Tentu buku-buku itu akan membawa saya ke… ke… ke mana ya? *garuk-garuk kepala*

Ya saya tidak tahu juga ke mana buku-buku itu akan membawa saya. Yang penting saya senang melakukannya, dan barangkali menambah satu-dua pengetahuan baru buat saya.

Tahun depan saya beresolusi akan membaca lebih banyak buku klasik. Saya juga akan memasang target 42 buku untuk dilahap.

Mangsa tahun depan
Target berkurang dari tahun-tahun sebelumnya karena saya mempertimbangkan akan membaca buku-buku tebal yang sudah lama ada di rak, semisal Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan, Burung-burung Manyar-nya Y. B Mangunwijaya, The Prague Cemetery-nya Umberto Eco, War and Peace-nya Tolstoy, buku-buku Pram dan Murakami (Kalau ini tiap tahun wajib dibaca), dan lainya menyusul. Ditambah lagi, kemungkinan waktu akan banyak tersita di semester 6 nanti untuk mengerjakan Penelitian Ilmiah.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya baru menyentuh dunia sastra selepas lulus SMA. Dalam hidup, pasti ada beberapa hal yang kita sesali di hari lalu. Kalau saya, salah satu yang saya sesali di hari lalu adalah, tidak mengenal karya-karya sastra lebih dini.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” -Pramoedya Ananta Toer

Kemalasan yang Menjelma

Kemalasan yang Menjelma
pexels

 Tahun 2016 ini bisa dibilang menjadi tahun tidak terproduktif saya dalam beberapa tahun terakhir. Jarang menulis apa pun untuk diri sendiri dan untuk blog ini. Dalihnya pun sama seperti sebelum-sebelumnya; sibuk dan lagi gak mood.

“Lagi gak mood” rasanya menjadi alasan terkeren dari para pegiat kreatif yang memang harus menggunakan banyak perasaan di dalamnya. Saya pun menunggu mood untuk menulis lagi. Setelah menunggu… menunggu… menunggu… menunggu… eh taunya doi malah jadian sama orang lain. Huft.

Maksud saya, mood udah ditunggu-tunggu tapi kok tidak muncul-muncul. Jadi, di manakah ia berada? Apa mood itu benar-benar ada? Atau itu hanya akal-akalan manusia saja untuk membenarkan kemalasannya sendiri? Ah entahlah, hanya Mamah Dedeh yang bisa menjawabnya.

Kalau mood benar ada, bagaimana bisa Paulo Coelho, atau Haruki Murakami, atau Danielle Steel, atau atau Stephen King, atau Sir Arthur Conan Doyle melahirkan begitu banyak karya. Kalau mood benar ada, pastilah karya-karya besarnya tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca.

Jadi sepakati saja mood itu hanya mitos.

Kemudian, sibuk, dalih ini pun perlu ditelusuri lagi lebih lanjut. Orang yang selalu beralasan sibuk dalam menghindari sesuatu, apa memang kesibukkan mengambil 24 jam waktunya? Kalau orang mencintai sesuatu, pasti ia menyempatkan diri untuk melakukan apa yang ia cintai. Seharusnya.

Jadi paham kan? Kalau kekasihmu nggak ngabarin dengan alasan sibuk, udah putusin aja~

Kalau saya mengengok ke belakang, sepertinya saya tidak begitu sibuk. Ada yang lagi dikerjakan sih, tapi, sebenarnya tidak kuat untuk dijadikan alasan juga. Satu-satunya yang menyibukan saya yaitu membaca dan menonton film. Itu pun kalau bisa dibilang kesibukan.

Membaca dan menonton film, bagi seorang pemalas seperti saya, adalah aktivitas termudah untuk bercengkrama dengan diri sendiri. Tidak perlu capek-capek ke luar rumah, kita seolah diajak berplesir dari satu tempat ke tempat lain, berpindah dari situasi ke situasi lain, dan jalan-jalan ke waktu lampau, waktu kini, sampai ke masa depan.

Dengan melakukan aktivitas-aktivitas itu saya pun tidak ingat lagi kapan pernah menggunakan kata bosan dalam hidup. Mungkin yang bakal membuat saya bosan jika tidak ada buku atau film yang bisa dibaca dan ditonton. Tapi sayangnya, sekeras apa pun saya berusaha, semua buku-buku dan film-film menjelma jalan-jalan yang tak berujung. Tidak cukup hidup 1000 tahun pun untuk menghabiskan semuanya.

Menulis juga bisa menjadi cara untuk bersenang-senang dengan diri sendiri. Tapi kadang menulis juga menyebalkan, sebab ia butuh berpikir untuk melakukannya. Tulisan tidak jelas seperti ini pun, saya perlu berpikir apa saja yang mau saya tuliskan.

Saya akan membicarakan perihal kesenangan saya membaca dan menonton lebih panjang di tulisan selanjutnya.

Jadi intinya, mood itu hanya mitos dan tidak ada kesibukan yang absolut. Semua hanya bermuara dari kemalasan.

Tahun baru, semangat baru. Seperti sekarang ini, semangat saya menulis sedang menggebu-gebu. Meski biasanya cuma diawal-awal tahun aja.

Semoga aja tahun 2017 saya bisa menjadi lebih produktif, lebih baik, lebih ganteng (ini susah sih). Seinget saya sih, saya pernah mengucapkan ini. Tapi anggap saja lah ‘semoga’ itu sebagai mantra. Yang kekuatannya perlahan-lahan memudar dan perlu diberpaharui.

Selamat tahun baru 2017.
Salam telolet.

Jika Ada Rindu yang Tidak Pernah Tertidur

Jika Ada Rindu yang Tidak Pernah Tertidur
Jika ada rindu yang tidak pernah tertidur,
itu adalah rindu sehimpun pasir gurun
menanti kepastian yang tiada dari seorang
perempuan yang tercipta dari rintik hujan.

Jika rindu adalah kayu bagi penantian jenuh,
telah mampu kubangun ia menjadi behtera Nuh.
Takkan ada barang-barang atau besar binatang-binatang.
Semua ruang telah sesak oleh hal-ikhwal tentangmu
yang kian merisak. Di palka, hanya ada aku seorang sedang
memetik waktu yang berdetak di jantungku, menghitung
berapa lama jarak telah menepikan kita, sambil
bertanya-tanya kapan pertemuan selanjutnya yang entah.

Sesungguhnya aku suka dengan kepergian yang sementara.
Kepergian yang tidak memberi kepastian pulang, mengasihi
ruang bagi rindu untuk berkembang.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat kepergian sementara,
semisal; aku bisa mendoakanmu diam-diam dan kau
setiap malam menapaskan namaku dalam-dalam.
Pula kita bisa membuat satu permainan tebak-tebakan
: Sabar milikku atau kau yang masih subur meski hati dipenuhi bilur?

Pada akhirnya kita pun akan tahu
Tabah siapa yang lebih awal takluk di hadapan penantian.

Aku rasa kau pasti akan kalah lagi seperti biasanya.
Kemudian kau menahan diri untuk kembali rengkah
ke bentuk ringkih yang rengkuh rintik hujan.
Namun semestinya, kau tidak berusaha meredam itu.
Jika bandang airmata tidak mungkin lagi untuk dibendung,
menangis sajalah, sayang, menangislah!

Biar aku bisa menyamar jadi sebuah resah,
yang akan pulang tiap kali pipimu basah.

Memilih dan Memilah Media Sosial

Image Source: Socialmediatoday
Belum lama ini gue baru mengunfollow akun twitter temen-temen gue yang udah lama nggak aktif twitternya. Hampir 100 akun gue unfollow, lalu gue tersadar kalo temen-temen gue sepertinya sekarang sudah pada meninggal… kan media sosial twitter.

Zaman sekarang media sosial itu jumlahnya udah sebanyak permasalahan di negeri kita. Iya nggak sih?

Ada Twitter, Facebook, Path, Instagram, Snapchat, Vlog dan aneka ragam lainnya. Media sosial itu semua bisa didapatkan dengan mudah hanya dengan sebuah email. Nggak perlu ribet-ribet beli di toko atau nyari di toko online. Emang ada gitu orang jual facebook second? kan nggak ada ceritanya.

Walaupun sosmed berjibun, gue termasuk orang yang nggak begitu terbawa arus dengan sosmed-sosmed baru. Gue aktif paling cuma di Twitter dan Instagram. Gue memilih sedikit aktif sosial media agar bisa memilah waktu ber-sosial media dengan waktu lain yang bisa digunakan buat sesuatu yang lebih produktif.

Gue memainkan sosmed yang sekiranya memiliki faedah dalam hidup gue. Bukan sekadar ikut-ikut yang lagi tren aja.

Semisal di Twitter, Twitter menurut gue adalah socmed paling cepat buat menangkap informasi-informasi dari seluruh penjuru dunia. Twitter juga bisa jadi ajang sebar kegiatan/aktivitas sosial atau pun acara-acara menarik yang akan berlangsung di sekitar kita. Sering gue menemukan acara-acara yang sesuai dengan ketertarikan gue lalu gue mengunjungi itu.

Dari twitter gue juga bisa mengetahui jalan pertandingan sepak bola tanpa harus menontonnya secara langsung, yakni dengan live tweet. Lebih-lebih, gue bisa terhibur dengan masalah yang sedang ramai diperbincangkan lalu dijadikan guyonan oleh sejumlah pengguna twitter. Gue juga kadang bisa lihat sebuah permasalahan dari 2 sisi dengan terciptanya perang (tweet war) yang keluar dari kicauan dari sekelompok golongan yang sama-sama merasa paling benar.

Kalau di Instagram, gue seneng ngeliat keindahan-keindahan yang dikemas dalam satu gambar. Instagram itu seperti memanjakan mata dan kadang memberikan inspirasi yang tak terduga. Di media sosial itu ada juga video-video pendek yang bisa jadi hiburan. Gue juga menganggap Instagram sebagai tempat album foto kecil yang merekam diri gue dari tahun ke tahun.

Cuma dua socmed itulah yang paling sering gue buka. Yang lainnya gue tidak melihat manfaat banyak yang bisa didapat. Dulu gue punya path, namun seiring waktu lewat, gue bosen aja. Gue ngeliat path adalah tempat orang-orang mau pamer, nggak iya sih?

At Bandara Dakar Yoff Léopold Sédar Senghor Senegal – with Papa Alioune Ndiaye
Itu salah satu moment yang bakal ditemukan di Path. Apa sebenarnya tujuan membuat status di Path seperti itu? Secara nggak langsung kan sebenarnya mereka mau bilang ke temen-temennya, “Eh gue tuh lagi di Senegal nih sekarang!”

Bagi gue path ini sih pasnya buat nge-stalk gebetan. Kita jadi bisa tau gebetan lagi ngapain, lagi jalan sama siapa, dan menganalisis kesukaannya apa aja. Kita juga jadi bisa tau kapan harus maju atau mundur dalam pengejaran gebetan. Kalau gebetan lu sering update suka makan darah biawak, udah deh mundur aja bro kalo gitu.

Di path bakal ditemukan juga pasti orang-orang yang lagi makan apa diupdate, nonton apa diupdate, lagi berak diupdate, lagi update diupdate #apasih, pokoknya segala aktivitas sehari-hari diupdate dah.

Tidak bisa disalahkan sebenarnya mereka yang suka update aktivitasnya. Gue rasa setiap orang butuh perhatian. Terjunlah mereka ke media sosial. Dengan ngeshare momen kemudian momen itu di-comment, di-like atau di-love, mereka merasa wadah perhatian di hatinya itu perlahan terisi penuh.

Gue juga melihat bahwa keresahan manusia di era digital ini adalah sebuah eksistensi. Sebagian besar orang di media sosial itu sebenarnya ingin menunjukkan eksistensinya. Mereka perlu pamer agar eksistensinya itu diakui. Mereka juga ingin menunjukkan bahwa eksistensinya itu bukan sekadar mengurangi kadar oksigen doang di dunia ini.

Kalau dulu Rene Descartes pernah berujar Cogito Ergo Sum “Saya berpikir, maka saya ada!” maka zaman sekarang kalimat itu sudah berganti Saya main media sosial, maka saya ada!

Berbeda orang, berbeda juga cara menunjukan eksistensinya. Gue cenderung menunjukkan eksistensi gue, ya, dari tulisan-tulisan gue, terutama di blog ini. Bisa jadi sekarang di tulisan ini gue lagi caper aja.

Gue yang sekarang bukan orang yang suka ngasitau gue lagi ngapain saat ini, lagi di mana, lagi sama siapa. Maka dari itu, gue dan path merasa tidak cocok lagi. Dengan menguatkan segenap hati, kami berpisah. Gue pun menghapus akun path gue.

Gue juga tidak bermain snapchat atau vlog. Dua sosmed ini setipe ya, cuma mungkin snapchat versi pendeknya aja dan lebih tidak terskenario.

Ada 2 hal kenapa gue nggak bermain sosmed ini. Pertama, muka gue nggak videogenik. Kedua, kehidupan gue terlalu membosankan untuk ditonton.

Sebetulnya gue nggak pernah merasa bosan dalam melakukan aktivitas-aktivitas gue, tapi kalo aktivitas gue dijadikan tontonan, sudah pasti yang menonton bakal lebih memilih untuk pura-pura mati dibanding menonton video itu sampe abis.

Karena aktivitas reguler gue ya gitu aja. Bangun tidur
berangkat kuliah langsung pulang ke rumah buka laptop makan tidur. Setelah tidur, siklus diulangi dari awal. Begitu terus sampe Limbad jadi rapper.

Mungkin gue bakal mempertimbangkan buat bikin snapchat/vlog kalo aktivitas gue itu punya potensi untuk menarik viewer, semisal: Bangun tidur
sholat subuh Melatih anak cheetah di Taman Safari Madagaskar.

Beuh…

Masih banyak lagi jenis-jenis media sosial lainnya sebetulnya. Dan kemungkinan besar media sosial akan bertambah terus. Dari banyaknya media sosial, sebagimana yang sudah gue bilang tadi, gue memilih yang banyak faedahnya buat diri gue.

Argumen yang gue tulis di sini itu dari perspektif gue aja, setiap orang punya pandangan lain tentang media sosial yang dianut. Walaupun muaranya pasti bakal sama, yaitu sebuah eksistensi diri.

Dari semua media sosial yang ada sampe saat ini, gue masih menjatuhkan pilihan gue pada Twitter. Kalau kalian hanya bisa memiliki satu akun media sosial dalam hidup, dengan alasan dan segala pertimbangan, sosial media apa yang kalian pilih?