Kesesatan yang Lestari dalam Berbahasa Indonesia


Dilahirkan di negera Indonesia, bukan jaminan punya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak orang-orang Indonesia berlomba-lomba mempelajari bahasa asing, tapi mengabaikan bahasanya sendiri.

Disadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, pada prakteknya sehari-hari, masih banyak penggunaan bahasa Indonesia yang salah. Namun karena salah itu dilakukan terus menerus, jadi dalam pikiran kita hal itu udah tertanam menjadi sebuah kebenaran. Sama juga seperti kamu, kalau kamu benci aku secara terus-menerus, lama-lama mungkin benci itu bisa berubah jadi cinta.

APAAN~

Beberapa orang mungkin tau kesalahannya dalam berbahasa, tapi tidak memberitahu orang yang nggak tau. Beberapa mungkin nggak tau, tapi nggak mau cari tau. Beberapa mungkin mau cari tau, tapi nggak tau mau cari di mana. Kalo lo nggak tau harus cari di mana, lo sudah berada di tempat yang tepat.

Daripada lo semakin mual dengan pembukaan gue, langsung aja gue beritahu kesalahan-kesalahan umum yang sering gue temukan dalam penggunaan bahasa Indonesia.

1. Penulisan ke- dan di-

Penulisan "ke-" dan "di-" itu sebenarnya gampang-gampang mudah. Saking mudahnya, banyak orang yang nggak peduli dengan pengunaan ke- dan di-. Kadang gue jadi gatel-gatel sendiri kalo masih ada orang yang salah menggunakan ini.

Penulisan ke- dan di-, ada yang ditulis serangkai dengan kata dasar (imbuhan), ada pula yang terpisah dari kata yang mengikuti (awalan). Kalau mau tau "di-" atau "ke-" dipisah atau enggak, gampanya sih, kalau di- dan ke- yang merujuk pada suatu tempat atau waktu, berarti dia dipisah. Kalau yang sebagai kata kerja berarti disambung.

Kesalahan "di-" sebagai kata depan yang sering gue temui yakni dimana, diantara, disana, disisi. Itu semua salah. Karena sebagai penunjuk tempat seharusnya semua itu dipisah, jadi yang bener "di mana", "di antara", "di sini", "di sisi".

Contoh penulisan di- sebagai imbuhan dicintai, dicaci, disantet, digebukin, dsb.

Penulisan "ke-" juga lebih kurang sama, kalau ke yang menunjuk ke tempat/tujuan berarti ia dipisah. Misalnya yang bener itu “ke sana” bukan kesana, “ke mana” bukan kemana, dan lainnya.

Sedangkan ke- sebagai imbuhan contohnya kejedot, ketikung, keserempet, dsb.

Coba perhatikan spanduk ini.
Dari twitter @shamposachet
Bisa temukan kesalahan di spanduk tersebut?
Disekitar, seharusnya "di sekitar"
Disaat, seharusnya "di saat"
Silahkan, seharusnya "silakan"
Kedalam, seharusnya "ke dalam"

2. Pengejaan yang Salah

Kesalahan dalam pengejaan bukan sering dialami ketika kita menggunakan bahasa inggris aja, dalam bahasa Indonesia juga sering terjadi cuma mungkin orang-orang pada nggak sadar aja. Banyak orang juga menganggap salah eja itu bukan masalah berarti.

“Ah salah eja doang, lagian orang yang dengar atau baca juga bakalan ngerti apa yang gue maksud.”

Mungkin argumen itu benar. Kesalahan ini pun masih bisa dimaafkan kalo cuma buat nge-chat temen, nulis di blog atau di percakapan sehari-hari. Tapi kalo lo nulis karya ilmiah, media massa, atau barangkali suatu saat nanti lo jadi penulis pidato presiden, kesalahan kecil ini tidak bisa dimaklumi.

Seenggaknya lo sebagai warga negara Indonesia yang baik, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa, lo harus tau ejaan kata yang ejaan yang disempurnakan.

Berikut adalah daftar kata yang sering dieja salah. Yang di sisi kiri adalah kata yang bakunya.

“Napas”, bukan "nafas"
“Paham”, bukan “faham”
“Kecoak”, bukan “kecoa”
“Apotek”, bukan “apotik”
“Antre”, bukan “antri”
“Aktivitas”, bukan “aktifitas”
“Respons”, bukan “respon”
“Praktik”, bukan “praktek”
“Tolok ukur”, bukan “tolak ukur”
“Takhta”, bukan “tahta”
“Cendera mata”, bukan “cindera mata”

3. Penggunaan Tanda Baca

“Ayo makan anak-anak!”
“Ayo makan, anak-anak!”

Lihatlah bagaimana tanda koma bisa menyelamatkan nyawa banyak anak-anak tidak berdosa. Jadi penggunaan tanda baca itu vital banget dalam sebuah kalimat. Kalau tanda baca yang digunakan ngaco, bisa jadi pesan yang disampaikan penulis jadi rancu.

Kalo ini dari SD juga udah diajarin. Yang sering gue temui sebenarnya bukan kesalahan penggunaan tanda baca, akan tetapi cara peletakkan tanda baca.

Contoh:
A: Raisa, nyimeng yuk ?
B: Ayuk !

Apa yang salah?
Yak, peletakkan tanda tanya dan tanda seru yang didahului oleh spasi. Tanda baca dengan huruf terakhirnya seharusnya tidak diberikan jarak. Kenapa? Nanti takut kangen :’( hiks.

Masih banyak orang terjebak kesalahan ini. Gue perhatikan, bahkan banyak status-status media sosial temen gue yang nyatanya adalah seorang mahasiswa masih begitu.

Gue pun nggak luput dari dosa. Kalau lo liat postingan-postingan awal gue, gue juga nulis tanda bacanya begitu. Gue sengaja nggak membetulkan kesalahan itu, biar kalo gue baca-baca lagi, gue jadi inget bahwa gue juga pernah salah, dan itu menjadi motivasi gue untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Idih~

Tanda baca yang mau gue bahas selanjutnya yakni tanda hubung (-). Sebetulnya jarang gue menemukan banyak kesalahan di tanda ini. Niatan awal gue mau menjelaskan ini, berangkat setelah gue membuka blog temen gue, lalu hampir di setiap postingannya dia menggunakan tanda hubung semena-mena, yang mana hal ini membuat mata gue jadi mules ketika membacanya. Mari ditengok.



Lihat? Mules nggak lu bacanya? Mereka-mereka itu ditakdirkan hidup bersama. Orang jahat macam apa yang tega memisahkan huruf-huruf tak bersalah itu.

Tanda hubung digunakan pada situasi-situasi berikut ini:
  • Pemisah pada penggantungan baris
          Di malam yang dingin itu, Tarjo tak kuasa me-
          nahan cintanya pada Raisa lebih lama lagi.
  • Menyambung kata ulang
          Undur-undur, melihat-lihat, kehijau-hijauan
  • Pengejaan satu-satu dan bagian-bagian tanggal
          C-i-n-t-a
          27-03-1995
  • Se + huruf kapital | ke + angka | angka + -an
          Se-Depok, se-Timbuktu
          Ke-2
          Angkatan 90-an
  • Singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata
          Mem-PHK-kan, sinar-X
  • Nama jabatan rangkap
          Menteri-Sekretaris Negara
  • Merangkai unsur bahasa Indonesia dengan bahasa asing
          Di-tackle, di-service, di-smack

Setelah mengetahui fungsi-fungsi tanda hubung, apa tulisan temen gue tadi ada yang masuk kategori penggunaan tanda hubung? Tidak ada.

Coba lihat di contoh gambar tadi, ada yang gue lingkari dengan warna ijo. Itu juga kesalahan. Itu mungkin maksud si penulis adalah tanda pisah (−), yang mana seharusnya lebih panjang dari tanda hubung, tidak didahului dan diikuti spasi, huruf setelahnya bukan huruf kapital (kecuali memang kata yang wajib dikapitalkan). Kegunaannya pun berbeda dengan tanda hubung. Yang pengin tau, silakan cari di internet aja ya. Kepanjangan kalau saya jelaskan Pak, Bu.

4. Penggunaan Kata yang Salah Kaprah

Mulyono: “Kamu tau nggak? Selama ini, aku itu mengacuhkanmu!”
Ningsih: “Kamu jahat, Mulyono. Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”
Mulyono: “Lho kok…”

Apa yang salah dengan perkataan Mulyono kepada Ningsih? Padahal Mulyono merasa sudah menyampaikan perasaannya dengan tepat, tapi mengapa Ningsih malah nggak mau ketemu Mulyono lagi?

Yang menjadi asal-muasal permasalahan mereka adalah penggunaan kata “acuh”. Yang berkembang di masyarakat, kata “mengacuhkan” disamakan dengan kata” mengabaikan”. Padahal artinya itu sebaliknya. Menurut KBBI, arti kata acuh sejatinya adalah peduli; mengindahkan.

Contoh lainnya mudah ditemukan di lagu Indonesia, salah satunya ada di lagu Once.

Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah
Perasaanku…
Kepadamu…~

Di lagu itu ada 2 kesalahan. Pertama kata acuh yang disononimkan dengan abai, seperti yang gue bilang sebelumnya. Acuh itu artinya peduli. Peduli! Inget ya.

Kesalahan kedua yaitu kata “merubah”. Kata “ubah” yang diberikan imbuhan me- seharusnya jadi mengubah, bukan merubah. Merubah mah binatang.

Itu baru di satu lagu, belum lagi masih banyak lagu-lagu Indonesia yang melakukan kesalahan itu. Padahal kan lagu itu kan mempunyai kekuatan yang luar biasa di ingatan manusia. Lagu yang kita denger 10 tahun yang lalu pun, masih bisa kita inget dengan jelas. Kalau lirik lagunya menyampaikan kesalahan, tentu kesalahan itu juga bakal tersimpan di otak kita bertahun-tahun.

Kata yang salah kaprah selanjutnya adalah Anarkis. Di berita-berita, kalau ada tindakan perusakan, biasa menyebut dengan kata anarkis. Misal “Sopir taksi konvensional melakukan tindakan anarkis dalam demo besar-besarannya di Jakarta.”

Kalau dibaca sepintas, keliatannya sih bener. Namun coba kita jabarkan arti anarkis sesungguhnya menurut KBBI.
Anarki n 1 hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; 2 kekacauan (dl suatu negara)

Anarkis n 1 penganjur (penganut) paham anarkisme; 2 orang yg melakukan tindakan anarki

Anarkistis a bersifat anarki
Sudah ada gambaran jawaban yang tepat?

Di contoh kalimat yang tadi “Sopir taksi konvensional melakukan tindakan anarkis dalam demo besar-besarannya di Jakarta”. Tindakan anarkis di situ kan maksudnya tindakan (yang bersifat) anarki, sedangkan anarkis arti sebenarnya adalah orang yang melakukan tindakan anarki (pelakunya), jadi yang benar seharusnya tindakan anarkistis.

Hal ini sama kasusnya dengan kata “optimis”. Mari kita lihat contoh salah yang kerap diucapkan orang-orang.

“Lo harus optimis, Mul. Lo pasti bisa mendapatkan hati Ningsih lagi.”

Sekarang mari kita jabarkan arti dari kata optimis
Optimis n orang yg selalu berpengharapan (berpandangan) baik dl menghadapi segala hal

Optimistis a bersifat optimis; penuh harapan (tt sikap)
Yang benar mestinya "Lo harus optimistis, Mul." Jadi, seorang optimis itu pasti memiliki sifat optimistis. Karena Mulyono optimistis, maka dia bisa dipanggil optimis.

Salah kaprah lainnya adalah kata Seronok. Mari lihat gambar berikut ini.

diambil dari liputan6.com
Dari gambar tersebut, apa kesimpulan yang lo ambil dari arti kata seronok?
Tidak sopan, mengumbar-umbar aurat, pokoknya negatif deh ya. 
Ini termasuk kata yang mengalami pergeseran makna. Arti sesungguhnya dari seronok yaitu menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb). Jadi kalo lo pergi ke pesta atau acara lainnya, pasti lo memakai pakaian yang seronok. Kalo ada orang yang nyuruh lo nggak pake pakaian yang seronok, berarti dia nyuruh lu pake pakaian layaknya seorang gepeng.

Itulah beberapa kesesatan yang dilestarikan di masyarakat. Di sini gue nggak bermaksud untuk menggurui. Dekat dengan dunia penulisan dan terjun di jurusan sastra membuat kemampuan ilmu berbahasa Indonesia gue semakin meningkat. Gue juga bukan ahli bahasa, cuma pencinta bahasa aja. Barangkali ada tulisan gue yang khilaf tolong dibenarkan, atau kalau ada yang mau menambahkan sangat diperbolehkan.

Jadi apa lo termasuk salah satu orang yang melakukan kesalahan-kesalahan di atas? Setelah lo tau kesalahan-kesalahan itu, masih mau mengulangi kesalahan yang sama?
Berat banget nggak sih buat memperbaiki kesalahan kita berbahasa?
Enggak lah ya… berat ajah.
Berat banget mah…. ngajarin Limbad baca puisi.

Waanjirr~

Semoga tulisan saya ini bisa membantu. Saya doakan orang-orang yang masih tersesat hidupnya dalam berbahasa Indonesia diberikan pencerahan, jalannya diluruskan, dan dosa-dosanya bisa diampuni oleh Yang Maha Kuasa.

Empat Waktu


Image: @IrenaBuzarewich
aku ingin merupa tuhan. tapi aku tidak bisa menyediakan waktu kepada semua orang seperti-nya. 
aku hanya bisa memberikan waktu buatmu, dan kau bebas menentukan kapan waktu yang 
kau mau untuk bersamaku.

1.
pagi hari setelah subuh
sebermula kabut membangunkanmu dari tidur lelap. memberikan baju hangat dan beberapa pujian
pembuka mata. kita bisa menjelma embun dengan daun yang tengah menengadah pasrah. ketika
fajar menyingsing, kita duduk berhadapan sambil menyantap roti isi, secangkir kopi, serta
sajak-sajak pagi. kita terlalu sibuk memainkan sajak hingga kopi panas sudah menjadi dingin.
bagaimanapun itu, aku tetap suka. di waktu ini sejumlah pelukan bisa terjadi.

namun ketika hari mulai panas, tidak mungkin lagi untuk kita melanjutkan peluk.

2.
tepat matahari atas kepala
satu-satunya tempat yang nyaman adalah di bawah pohon rindang. menghitung daun-daun hijau yang
jatuh ke atas kepala, sementara kamu bercerita tentang menariknya beberapa kata di kota kita.
walau hari bersama panjang, tapi kita tak bisa ke mana-mana. kau tahu sendiri kan kalau di luar itu
panas sekali?

kita tidak bisa berjalan-jalan karena di sini taman adalah sesuatu yang jarang tapi tidak seorang pun
merasa gamang. Kalau kau memilih waktu ini untuk berjalan denganku, baiklah aku akan sedikit
berjarak. Aku takkan berani menggenggam barang tanganmu, sebab cuaca begitu panas. aku tahu
kalau kau tidak mau peluh kita bercampur menjadi bau keringat yang apak.

3.
jam 4 petang
para penyair lebih suka menyebutnya dengan kata senja. kita sendiri pasti berdebat tentang apa
warna senja yang paling tepat, kau sebut lembayung, aku memanggil mambang kuning, sedang yang
lainnya menyebut merah jingga, layung, atau oranye. inilah waktu paling indah dibanding sepanjang
hari yang kita sudah atau bahkan belum kita lewati.

kita bisa duduk berdua tanpa suara-suara aneh yang akan kita dengar. kau mungkin mengeluarkan
riak yang amat sangat kecil di pelupuk mata yang tak berujung. sungguh hanya dengan memandangi
mentari yang masuk peraduan akan mendatangkan kebahagian yang tak terkira.

tapi tunggu dulu. sebelum kau memilih waktu ini, kamu tahu kan sudah berapa lama kau
menunggu sedari tadi? setelah itu ia datang dan berlalu begitu saja tanpa terasa. terlalu fana.

4.
kegelapan sepanjang malam
hari sudah gelap, angin malam mulai menghempas kulit sehingga kita harus kembali memakai baju
hangat. dan kita harus lebih dekat untuk memudahkan diri melihat sepasang bola mata yang terbuat
dari kilau bulan purnama hari pertama. jaket yang merengkuh tubuh mungkin tak mampu
menjinakkan malam yang gemetar. sampai-sampai tulang belakangmu merasa menggigil meminta
nyala api unggun sebagai pengganti. 

waktu masih sangat panjang. nyala api tak akan mampu mendekap malam terlalu lama. namun peluk
yang melingkar di pinggang mampu melakukan lebih lama dari siaran radio yang didengar sepanjang
hari demi lagu kesukaan. 

bayang-bayang yang tak mampu menyamarkan warna sudah berbaur menjadi lebih buntal. di waktu
ini mungkin kita bisa tetap. kita terus bersama sepanjang malam dan ketika pagi menjelang, jika saja
kau masih mau, kita masih bisa menutup tirai dari jendela yang retak dan menghalangi cahaya pagi
masuk ke dalam kamar. kita mencipta malam milik kita sepanjang hari, lalu di kegelapan, kita terus
berdekapan. dan mungkin akan terciptakan pula liarnya beberapa kecupan.
  

Perihal Jatuh Cinta dan Mencintai

Image: @Irenabuzarewich
“Mereka tidak tahu, jatuh cinta dan mencintai
adalah dua penderitaan yang berbeda” 
–Aan Mansyur

Sebelum benih kecambah yang kautanam di dadaku mulai
tumbuh, aku masih berdamai dengan sepi.

Pada mulanya aku hanya memandangmu sebagai daun di
lebat pohon beringin. Hingga akhirnya sehelai daun jatuh
tepat di atas kepalaku.

Kau—atau siapa pun—tidak akan memahami kalau isi
dadaku debar jantung yang berdebur tak terhitung, api cinta
yang baru dinyalakan bara, jelir harum mawar yang silir-
semilir mulai terhisap.

Aku sadar, perasaan ini bermula saat kaubantu aku
membakar sampah kenang paling pahit. Aku tidak tahu,
entah kau melakukannya dengan maksud khusus atau
kaulakukan itu pada semua temanmu.

Kutinggalkan pertanyaan ini sebagai misteri tak terpecahkan.
Lantaran, terkadang kita lebih suka hidup dalam indah
misteri, daripada nyeri kejujuran.

Kini yang aku percaya, matamu telah menjadi sumber
damba tenangku. Hadirmu bukan lagi sekadar rimbun
daun di pepohonan.

Dan jatuh cinta, sekali lagi menjadi alasanku menikmati 
rasa sakit yang membahagiakan.
*
Mungkin aku bukanlah orang yang akan kau jadikan tempat
menitipkan potongan-potongan hatimu. Tapi sebelum kau
jatuh di pelukan lelaki lain, biarkan aku mencintaimu
sedalam-dalamnya, sediam-diamnya.

Sebab aku mencintaimu seperti kelingking kaki yang jatuh
cinta pada tungkai-tungkai meja atau batang pintu. 

Ya, mencintaimu itu sakit. Tapi untukmu, 
aku rela bersahabat luka-duka.


9 Juni 2016

Puisi yang Rumah

Image: @IrenaBuzarewich
Aku sembunyi di balik kamar yang tak sedemikian besar dari
kejamnya hari lalu dan sepi yang bisa menerkam kapan saja. Aku
masuk dalam kata membiarkan diriku berlarian seperti bermain
delikan. Sementara kata-kata enggan menutup mata namun tidak
mengucap apa-apa.

Kubiarkan kasur memeluk erat tubuhku yang berbilur. Cambuk
masa lampau, segenap imajinasi pinar berkilau. Kurentangkan
seprai tertumpah asin, bekas rasa sakit yang tidak sanggup
disembuhkan magainin. Gores terhadap garis kesedihan yang tidak
kesudahan.

Cat tembok sewarna biru. Menyimpan haru—barangkali sengaja
agar aku selalu mengingat limpahan masa lalu. Sebelum denyaran
masuk lewat jendela, hari depan telah terlanjur tiba sebagai
kekasih yang memendam cemburu.

Lantai rumah kedinginan. Meminta secangkir kopi yang
mengundang pulang perjalanan atau gedebak-gedebuk kaki yang
mengandung rasa penasaran. Ia harus menanti fajar. Menuntun
gelap malam seperti kunang-kunang. Menjaga pancar bulan,
wejangan, dan angan-angan.

Jadilah kutulis semua obituari pulang dan pergi. Riwayat dari ia
lahir sampai kembali ke pintu rumah bergerigi. Meski membuka
pintu artinya dapat membuat mimpi-mimpi menggugurkan diri.
tapi rumah tidak akan melenyapkan. Rumah, kata ibuku, bukanlah
pondasi megah berdiri pongah. Hanya mata, pada pelupuk yang
selalu menyimpan rindu saat kita pergi.



2015


Lebaynya Pertelevisian Indonesia

Image: cultivatingculture
Dewasa ini, kita setuju pasti dunia pertelevisian Indonesia mengalami degradasi dalam hal kualitas. Banyak “orang-orang televisi” hanya bergerak dalam jalur kapitalisme dan hanya mengutamakan peringkat rating-share saja, mengutamakan komersil dan melupakan tujuan untuk mencerdaskan penontonnya. Bicara soal industri, tentu hal itu sah-sah saja. Karena pada dasarnya industri berorientasi pada bisnis.

Tapi yang pengen gue bicarakan di sini bukan hal itu. Tulisan ini berangkat dari kegeraman gue terhadap penyesoran di dunia pertelevisian Indonesia yang makin ke sini makin lebay aja.
.
Waktu itu salah satu stasiun tv sedang menayangkan film The Avenger. Pada satu scene gue liat tayangannya berubah jadi hitam putih. Awalnya gue kira kerusakan ada di stasiun TV-nya atau malah di mata gue, tapi tayangan hitam-putih itu kembali hadir di beberapa scene berikutnya. Hingga akhirnya gue mendapat kesimpulan bahwa hitam putih itu ternyata untuk menyensor ‘Darah’! 

Jadi sekarang kalau ada gelimang darah yang mengucur dari tubuh bakal ada penyensoran hitam-putih. Gue sendiri baru tau, entah ini udah lama atau baru, maklum soalnya gue sejatinya jarang menonton film di TV.

Itulah kelebayan pertama menurut gue. Masalahnya darahnya itu, cuma semisal darah abis berantem lalu jatoh atau kejedot tiang, terus di dahi mengeluarkan darah. Bukan darah bekas tikaman belati, tindakan sadistis, atau pun darah perawan. Bukan.

Ke-lebay-an yang kedua adalah menyensor dada. Kalau dada manusia sih oke aja ya, tapi ini dada Shizuka yang pake bikini aja disensor. Yang lebih absurd, Sandy yang hanya seekor tupai pun terkena imbasnya. Sandy make beha sama sempak aja disensor, terus Spongebob telanjang juga disensor. YA ALLAH ORANG MACAM APA DI DUNIA INI YANG NAFSU SAMA MEREKA? HAH??!! 

Sabar Jem sabar…. *ngelus-ngelus dada* *dadanya Raisa*

Penyensoran ini malah bisa jadi pemicu anak-anak mendekati hal yang sebenarnya dihindari. Maksudnya gini, semisal tadi penyensoran terhadap bikini Shizuka. Kalo nggak disensor, anak-anak bakal lurus-lurus aja nontonnya tanpa berpikir apa pun. Sedangkan ketika Shizuka berbikini disensor, hal itu malah menimbulkan pertanyaan di benak si anak dan kemudian si anak pun mulai mencari kenapa? ada apa? di mana? dengan siapa? semalam berbuat apa?

Secara tidak langsung hal itu pun menjadi awal anak untuk mencari tahu alasan di balik tubuh perempuan yang disensor tersebut.

Hal lainnya yang disensor adalah rokok, yang gue bilang sangat tidak penting. Pas ada scene orang ngerokok, kemudian rokok itu disensor, emangnya terus orang-orang bakal nganggap adegan orang ngerokok itu adalah adegan orang lagi ngisep knalpot kopaja? kan kaga, orang-orang tetep akan tau kalo orang itu lagi ngisep rokok, sekalipun disensor.

Mungkin menyensor rokok lebih ditujukkan kepada anak-anak yang masih polos agar mereka nggak terjerumus mencoba menghisap rokok. Namun apa dengan menyensor rokok itu bisa jadi jaminan anak-anak nggak menyentuh rokok? sedangkan di kehidupan nyata orang ngerokok bertebaran dan bisa ditemukan di mana-mana kayak tukang tahu bulet.

Penyensoran lainnya bisa berbentuk pemotongan pada adegan kekerasan, yang lagi-lagi gue nggak setuju karena itu bisa menghalangi keseruan atau pun kreatifitas yang berusaha diciptakan sang creator. Terakhir gue nonton film Spongebob dan Naruto, sejumlah adegan baku hantam di situ udah dipotong.

Bukan hanya di perfilman, belom lama ini marak terdengar KPAI ingin memblokir game online di Indonesia. Alasannya karena beberapa game online berisikan adegan kekerasan dan mengandung unsur negatif lain bagi perkembangan anak.  

Gue melihat fenomena ini sebagai kepanikan mereka-mereka di sana terhadap perkembangan generasi bangsa. Barangkali besok kalo ada berita anak membunuh temannya dengan melempar batu, semua batu di layar tv langsung disensor.

Mungkin maksud KPI, KPAI, atau LSI emang baik, untuk menyelamatkan generasi Indonesia, tapi mereka melakukan berbagai bentuk penyesoran, sedangkan sinetron-sinetron seperti Ganteng-ganteng Seringgila, Anak Jajanan, atau sinetron lainnya bisa tayang bebas sampai beratus-ratus episode.

Padahal, gue percaya, bahwa perilaku anak dibentuk dari apa yang dia lihat dan alami secara berulang-ulang.

Waktu gue kecil dulu, Tamiya dengan dynamo kilikan aja udah barang mewah yang diidam-idamkan anak-anak karena tontonan gue dulu adalah let’s and go atau beyblade atau crash gear. Zaman sekarang mah anak kecil mintanya dibeliin motor karena persepsi anak zaman sekarang yang dibentuk penonton sinetron semisal Anak Jajanan menganggap punya motor adalah sesuatu yang keren. 

Belum lagi di sinetron-sinetron selalu menampilkan remaja yang kerjaan pacaran mulu di sekolah, pakai mobil sport, dan tinggal di rumah mewah. Padahal hidup nggak se-sinetron itu, dek~

Lepas dari sensor-menyensor, satu lagi yang menganggu gue di televisi adalah iklan Mars Perindo. Bayangkan kalo mars itu didengar oleh anak-anak yang tidak mengerti tentang politik secara terus menerus, bisa-bisa anak zaman sekarang lebih inget Mars Perindo daripada Indonesia Raya.

Jangankan anak-anak, gue aja yang nggak pernah ada niat secuil pun buat ngapalin jadi terngiang-ngiang mulu di kepala...

Majulah seluruh rakyat Indonesia... Arahkan pandangmu ke depan... Raihlah mimpimu bagi nusa bangsa... Satukan tekadmu untuk masa depan.... owuwuouwo~

ah kan gue jadi kelepasan nyanyi, racun dunia dah lagu emang ini. 

Harapan gue sebetulnya acara-acara televisi bisa dikembalikan seperti dulu lagi tanpa ada sensor-sensor absurd dan tidak perlu. Karena hal itu sejatinya hanya memenjarakan kemerdekaan penonton aja. Lebih bijak lah dalam menyensor.

Disamping itu yang hidup di Indonesia itu bukan cuma anak-anak, ada anak konda juga. Pun yang ingin menikmati hiburan di layar kaca bukan cuma anak-anak. Tentu di masalah anak, orang tua mempunyai peranan penting mengawasi tontonan anaknya.

Yak itulah akhir postingan ini. Usai sudah opini seorang rakyat jelata yang tidak tahu menahu banyak perihal di dunia pertelevisian Indonesia. Maafkan opini yang sok tahu ini. Saran gue buat KPI dan LSI sih banyak-banyakin piknik aja deh, jangan kerja mulu.

Tapi kalau KPI dan LSI masih melanjutkan sensor menyensor sebagai upaya menyelamatkan generasi bangsa, jangan kaget di masa depan nanti layar tv di Indonesia isinya sensoran semua, dan yang boleh terlihat cuma muka dan telapak tangan, udah kayak batas aurat wanita.


(((jumpsuit)))


Jangan-jangan pembluran ini bertujuan menutupi fakta bahwa Shizuka adalah seorang lady boy... #misteri

Besok-besok putri duyung mesti pake mukena biar nggak disensor


Make kebaya aja disensor. Kalau Kartini hidup di zaman sekarang pasti dia sering kena sensor tuh.
 
ini paling absurd sih.

Konten 18++

Sumber foto: www.Brilio.net 

Suara Sopir Burung Biru

Suara Sopir Burung Biru

Burung biru di dada kami. Bukan burung garuda. Burung 
garuda terbang terlampau tinggi, memandang kami hanya 
sebagai daging-daging santapan negara. Maka, kami 
memilih mengabdi pada burung biru.
: Burung biru yang menyelamatkan burung kami membiru 
karena tak mendapat jatah. Burung biru yang menjauhkan 
kami dari seteru dan masih bisa basah.

Kemeja biru yang mungkin tidak lagi baru selalu kami 
sematkan di tubuh kami. Kami tidak mengeluh meski kadang
itu dibasahi peluh. Bertahun-tahun kami tahan bermandikan 
lampu-lampu dan rambu-rambu lalu lintas. Saat tersadar, 
kami mencintai jalanan. Kami kira hanya gembel dan para 
polisi yang mencintai jalanan. Ternyata kami juga mencintai 
jalanan. Kala malam merangkak naik, kami pun meniduri 
setiap kilo jalan yang masih perawan.

Kami sekumpulan orang yang juga jatuh cinta pada masa lalu. 
Barangkali masa lalu masih memendam duka dan luka 
yang menganga. Tapi luka bisa menyembuhkan dirinya. 
Dan masa lalu selalu menyediakan lika-liku yang pasti.

Hari lalu menjelmakan kami menjadi harapan-harapan yang putus. 
Membuat kami jadi pembenci masa depan yang ambisius. Sebab 
langit masa depan senantiasa dikerubungi banyak tanda tanya. 
Serupa kepala wanita, masa depan selalu menyimpan teka-teki 
yang sulit diterka. Dan kami sudah terlalu lelah untuk berpikir lagi.

Teknologi adalah antek-antek masa depan. Ia berusaha 
menendang kami dari peradaban. Sedangkan kami 
butuh uang serimba hutan. Keluarga kami butuh makan. 
Burung-burung kami butuh asupan. Oleh karena itu, 
bagi siapa saja yang ingin menghadang dan menendang 
kami dari jalanan; mengusik dan mengusaki kedamaian 
masa lalu kami, maka, seperti sabda Wiji Tukul, 
hanya akan ada satu kata: Lawan!



***
terciptanya puisi ini sejatinya demi memenuhi tugas kuliah untuk membuat puisi. Saat sedang menonton tv 
dan tak punya inspirasi, muncullah berita demo besar-besaran sopir taksi di jakarta waktu itu. Lalu tiba-tiba 
saja saya mendapat inspirasi, lalu menuliskan inspirasi itu menjadi puisi yang baru saja Anda baca.